Wednesday, 24 Jul 2019
Temukan Kami di :
Opini

Mengapa Kuasa Hukum BPN Menyesatkan?

Indah Pratiwi Budi - 20/06/2019 09:02

Beritacenter.COM - all is fair in love and war (and politics)

tadi bosen nonton sidang MK yang yah begitulah..

sudah lama pengen nulis tentang ini, tapi tertunda karena kesibukan ala Patrick Starr; sibuk nggak ngapa-ngapain..

peta politik dunia memang berubah setelah era medsos (bukan sosmed, karena harusnya socmed; social media)..

tak kurang wong gemblung macam Donald Trump pun bisa menang jadi presiden Amerika, dengan memproduksi hoax dan hype, sambil mencuci otak sembari mencucu mulut orang-orang dungu di Amerika, simbah moyangnya negara demokrasi..

lebih dahsyat lagi, Trump juga punya tempat di hati sebagian masyarakat Indonesia, hanya karena dia adalah anti-thesis Hillary Clinton..

mungkin juga karena Donald Trump adalah anti-thesis Jokowi; kaya ceprot sejak lahir, orator yang berapi-api, dan gemar menabur sinisme dan pesimisme.. lumayan, ada pangsa pasar 60 jutaan..

tapi, hey.. all is fair in love and war.. dan politik adalah titik singgung antara cinta dan perang.. dalam sistem demokrasi kehendak demos (rakyat; common people) adalah kehendak Tuhan..

sebelum sistem demokrasi berkembang, sistem tirani menyebar di seluruh dunia dengan berbagai nama.. Kekaisaran, Monarki, Kerajaan, Kekhalifahan, Kesultanan, Moghul..

titah penguasa adalah titah "Tuhan"..

tidak selalu sistem penguasa sentral semacam itu jelek.. sejarah mencatat banyak sekali penguasa yang baik hati dan peduli pada rakyatnya, seperti Khalifah Abu Bakar dan Umar.. di Eropa ada Raja Sulaiman 1 (Turki), Kaisar Augustus (Romawi) dan Kaisar Meiji (Jepang) yang menjadi kaisar di usia 14 tahun..

ada juga King Arthur of England, Prince Ali dari Ababwa, dan Princess Jasmine dari Agrabah..

and yet, tetap ada saja satu dua (juta) orang yang nggak suka sama mereka.. dan memang bukan tugas pemimpin untuk memuaskan semua orang..

sejarah membuktikan bahwa satu persatu sistem monarki dan kekhalifahan bertumbangan di dunia.. kekhalifahan terakhir tumbang di Turki pada 3 Maret 1924..

menurut teori survival to fittest, mereka gagal menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman, sehingga ditumbangkan sendiri oleh rakyatnya..

sisa monarki yang ada harus menyesuaikan diri dengan zaman; merangkul demokrasi atau memberangus demokrasi..

kita kemudian melihat beberapa Raja yang menjadi simbol/kepala negara, didampingi Perdana Menteri (Prime Minister) sebagai Kepala Pemerintahan yang dipilih dengan sistem demokrasi..

di Indonesia, beberapa kerajaan dan kesultanan (serta kasunanan/kasepuhan), melebur ke dalam satu negara Kesatuan Republik Indonesia..

republik adalah sebuah negara di mana tampuk pemerintahan akhirnya bercabang dari rakyat, bukan dari prinsip keturunan bangsawan..

asiknya demokrasi adalah, kita bisa saja dipimpin siapapun sesuai kehendak mayoritas..

kita bisa dipimpin Insinyur, Tentara, Teknokrat, Ulama, Anak Mantan Presiden, Tentara (lagi) bahkan Tukang Kayu..

dipimpin bekas pecatan tentara juga boleh.. tergantung kehendak rakyat..

perebutan kekuasaan yang sah ini justru bagian asyiknya..

rakyat akan memberikan apresiasi atau bahkan menghukum pemimpin setiap periode waktu tertentu.. di kita, artinya 5 tahun sekali.. (seharusnya) tanpa darah dan peluru tertumpah..

di sini letak masalahnya..

masih ada orang-orang dengan cara-cara berpikir primitif, yang ingin merebut kekuasaan dengan cara-cara tidak normal..

ada yang mengkoordinasikan terciptanya kerusuhan untuk membuka jalan revolusi, ada yang ngirim santet.. ada juga yang mengirimkan do'a-do'a yang mengancam Tuhan supaya capresnya yang menang..

setelah hasil pilpres berdasarkan keputusan KPU mengendap, langkah konstitusional yang bisa dipilih memang cuma ke Mahkamah Konstitusi..

itu sudah bener..

dan yang senyum-senyum bahagia tentunya para pengacara kedua belah pihak yang magabut; makan gaji buta..

BW cukup membuat asumsi general tanpa bukti kuat (karena memang tidak ada), sementara YIM tinggal senyum-senyum dan kipas-kipas mengikuti prosesi di MK..

tentu saja keduanya harus pasang tampang serius ketika diliput TV..

tahu nggak perbedaan pengacara yang buruk dan pengacara yang baik?

pengacara yang buruk itu suka manjang-manjangin perkara yang sepele..

sedangkan pengacara yang baik itu adalah pengacara yang suka melayani argumen pengacara buruk yang bertele-tele itu dengan cara yang lebih bertele-tele dan lebih panjang lagi, walaupun masalahnya sederhana, bisa selesai dalam waktu singkat, dan hasil akhirnya sudah bisa ditebak..

mungkin karena dua-duanya dibayar per jam, bukan borongan..

(keterangan gambar: Orca, yang merupakan spesies lumba-lumba, (dan bukan paus), secara umum dikenal sebagai Killer Whale/ Paus Pembunuh.. you know, just incase situ nggak paham lucunya..)

Sumber : Status Facebook Gus Bin




Berita Lainnya

BEREBUT KURSI KE TUKANG KAYU

23/07/2019 18:50 - Indah Pratiwi Budi

Jokowi Jangan Terlalu Baik

23/07/2019 17:40 - Indah Pratiwi Budi

Industri Politik Indonesia

23/07/2019 15:18 - Indah Pratiwi Budi

Pendekar KPK ?

22/07/2019 17:20 - Indah Pratiwi Budi

Anies Memang Rasis

22/07/2019 15:50 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA