Saturday, 07 Dec 2019
Temukan Kami di :
Politik

Kutip Artikel Pengamat Asing dan Diprotes, TKN: Kubu 02 Malu Tak Punya Data Valid

Ini tentu menunjukkan bahwa sesungguhnya mereka tidak memiliki data valid tentang adanya dugaan kecurangan-kecurangan pada pemilu. Saya menduga mereka malu, kemudian secara serampangan mengajukan data ke MK

Aisyah Isyana - 13/06/2019 20:55

Beritacenter.COM - TKN Jokowi-Ma'ruf angkat suara soal protes pengamat asing, Tom Power, yang pendapatnya dikutip tim Prabowo-Sandiaga dalam gugatan pilpres ke Mahkamah Konstitusi (MK). TKN pun menyindir kemampuan kubu Prabowo dalam menyajikan data.

"Kita sudah mendengar langsung dari penulisnya bahwa tidak dimaksudkan untuk pemilu, dan tidak menyebutkan Jokowi sebagai orang yang otoriter, bukan. Disebutkan ada indikasi, kecenderungan, dan itu tidak boleh disimpulkan dan lalu memvonis bahwa Jokowi menggunakan kekuasaan untuk pemenangan pemilu," ujar Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding, Kamis (13/6/2019).

Baca juga : Pengamat Asing Ini Protes Artikelnya Disalahgunakan Prabowo Untuk Menuding Jokowi Neo-Orde Baru dan Curang

Untuk diketahui, artikel Tom Power yang dikutip tim Prabowo-Sandiaga merupakan analisis dan penelitian yang ditulis dan dipublikasi di artikel jurnal BIES 2018. Kandidat doktor dari Australian National University itu tak pernah sama sekali tak menyebut dan menunjukkan indikasi kecurang pilpres, lantaran tulisan Tom dibuat 6 bulan sebelum Pilpres 2019 digelar.

Dengan adanya hal itu, Karding mempertanyakan langkah BPN Prabowo-Sandiaga yang sudah berulang kali menyajikan data hanya berdasarkan link atau tulisan semata. Dia menilai, BPN tak pernah menyajika data valid tentang dugaan kecurangan.

"Ini tentu menunjukkan bahwa sesungguhnya mereka tidak memiliki data valid tentang adanya dugaan kecurangan-kecurangan pada pemilu. Saya menduga mereka malu, kemudian secara serampangan mengajukan data ke MK. Itu analisis saya terhadap kemampuan mereka menyiapkan data," tutur anggota DPR RI itu.

Tak hanya itu, Karding juga mempertanyakan inkonsistensi klaim kemenangan Prabowo-Sandiaga, yang mana awalnya mengaku menang 62%, lalu 54%, hingga saat ini menjadi 52% dalam gugatan di MK. Dia menilai, kubu Prabowo tengah memaksakan data yang tak valid lewat klaim mereka, termasuk tudingan soal posisi Ma'ruf di bank Syariah.

"Sekali lagi ini menunjukkan mereka tidak punya data dan hanya mencatut tulisan atau potongan-potongan berita yang sebenarnya laporan mereka ini datanya sungguh dipaksakan," kata Karding.

"Sangat miris kalau sekelas 02 banyak orang-orang terpelajar dan hebat di sana, itu menyajikan tulisan-tulisan hasil penelitian yang terpotong-potong, yang sebenarnya tidak dimaksudkan untuk itu, tapi dipakai sebagai dasar atau bagian dari gugatan," tambah Karding.

Selain itu, Karding juga menyoroti tudingan kubu Prabowo-Sandi soal pengerahan aparat atau pegawai negara untuk memenangkan Jokowi. Padahal, jelas Karding, Jokowi-Ma'ruf sendiri kalah suara dikalangan PNS, BUMN dan keluarga tentara.

"Faktanya, kita di birokrasi kalah. Jadi saya tidak tahu logika apa yang dipakai sehingga kita dikatakan menggunakan memobilisasi menggunakan aparat untuk itu. Kalau mobilisasi mestinya menang di PNS, BUMN, tapi kan faktanya survei di internal Pak Jokowi kalah di BUMN dan ASN (aparatur sipil negara)," urainya.




Berita Lainnya

Anggaraan TGUPP DKI Jakarta Diminta untuk Dihapuskan

05/12/2019 14:45 - Sari Intan Putri
Kemukakan Pendapat


BOLA