Monday, 14 Oct 2019
Temukan Kami di :
Opini

Kegagalan Operasi Eks Anggota "TIM Mawar" Dibalik Kerusuhan Ibu Kota Jakarta

Indah Pratiwi Budi - 12/06/2019 15:25

FOKUS : Makar

Beritacenter.COM - Pada hari Sabtu, 8 Juni 2019, Tempo menurunkan artikel yg menggelitik ttg dalang kerusuhan tgl 21 dan 22 Mei lalu di Jakarta Pusat. Tercatat ada 442 perusuh yg ditangkap polisi dari perkiraan 500 pengacau bayaran yg dimainkan.

Nah, Tempo menuturkan hasil investigasinya, menyebut ada bau mawar pada kerusuhan tersebut. Mawar yang dimaksud adalah nama tim Mawar di internal Kopassus yang dibentuk Prabowo saat menjadi Komandan Kopassus dan tercatat telah terlibat dlm penculikan aktivis pada thn 1998.

Menurut Tempo, salah satu mantan anggota Tim Mawar, Fauka Noor Farid (pensiun dini,pangkat Letkol) ditengarai berada di belakang aksi demonstrasi di sekitar Bawaslu di Thamrin pada 21-22 Mei 2019 yang berujung rusuh. Fauka adalah anak buah Prabowo Subianto di Kopassus. Ia juga ex anggota Tim Mawar yang terlibat penculikan aktivis 1998.

Setelah penulis pelajari dan kordinasi dengan seorang senior mantan Pasukan elit tersebut tentang back ground Fauka. Penulis menilai bahwa kerusuhan yang terjadi tidak di setting dalam format operasi klandestin intelijen yang standard. Dalam operasi penggalangan cipta kondisi besar yang direncanakan dengan benar, maka tidak ada kompromi bagi para support agent dan bahkan handler (Fauka?) apabila gagal, sudah pasti akan dihabisi.

Teori cut out yang dipangkas ini untuk mengamankan upaya penjejakan dari counter intelligence agar tidak mencapai principle agent (penyandang dana dan perencana strategis). Pembunuhan Presiden JF Kennedy tetap menjadi misteri, setelah para cut out dipangkas berjenjang. Ini prinsip ops clandestine dalam operasi conditioning pada high level.

Terlihat perencanaan terbaca
agak kasar, karena Fauka latar belakangnya sbg Parako, titik berat ops Komando Tempur, bisa berdiri sendiri. Kini ada yang menjadi masalah dan kurang diperhatikan pengaruhnya. Disayangkan sebuah opsi besar cipkon sebuah pilpres memainkan kartu yang kurang pas.

Menurut penulis, sedikit banyak ini bisa menyangkut citra Kopassus sebagai pasukan elit kebanggaan kita bersama. Pelaksana adalah mantan anggota Passus , dimana beverapa waktu lalu Menhan AS Patrick Shanahan meminta ke Menhan RI, Ryamizard agar US Special Forces dapat kembali berlatih dengan satuan Kopassus.

Perlu diketahui bahwa intelijen negara lain terus memonitor keterkaitan para relawan ex militer di kubu 02, khususnya yg ex Passus, untuk melihat realitas kemampuan. Jadi sebenarnya ulah kerusuhan itu bukan bagian dari Tim Mawar, tapi ulah perorangan yg kebetulan ex Tim Mawar...

Ini bukan bagian ops intel, tapi sekedar asal terciptanya rusuh saja dengan memainkan preman2 pasar yg tidak terlatih, dan tidak imbang dengan tujuan besarnya political pressure. Karena itu, mereka relatif mudah dihabisi.

Counter yang dihadapinya berat , yaitu sistem keamanan, pertahanan, intelijen, hukum berupa operasi gabungan skala besar antara TNI dengan Polri, juga dengan institusi intelijen dari BIN dan Bais TNI.

Oleh : Marsda Pur Prayitno Ramelan




Berita Lainnya

Istri Nyinyir Suami Nyonyor

14/10/2019 11:52 - Indah Pratiwi Budi

Mengapa Istri Prajurit Harus Jaga Ibu Jari?

12/10/2019 11:10 - Indah Pratiwi Budi

Mengapa Wiranto Jadi Target Teroris?

12/10/2019 07:10 - Indah Pratiwi Budi

"Drama Queen Hanum Rais"

11/10/2019 22:30 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA