Wednesday, 24 Jul 2019
Temukan Kami di :
News

Warganet Desak Pemerintah "Cabut Status WNI Rizieq Shihab"

Indah Pratiwi Budi - 11/06/2019 14:40

FOKUS : Makar

Beritacenter.COM - Diketahui pula bahwa proses pencabutan status kewarganegaraan seseorang tidaklah mudah. Ada sederet proses panjang yang harus dilalui. Lantas, yang berhak mencabut status kewarganegaraan hanya Presiden. Semua aturannya termaktub dalam PP Nomor 2 Tahun 2007 yang merupakan turunan dari UU 12 Tahun 2006 tentang tata cara memperoleh, kehilangan, pembatalan, dan memperoleh kembali kewarganegaraan Republik Indonesia.

Nah... pada saat Orde baru, segala kejahatan dan kebiadaban Orde baru juga ada ceritanya. Bahkan sampai mencabut passport WNI yang tidak tau duduk permasalahan karena mendapat TUGAS NEGARA dari Presiden sebelumnya yaitu SOEKARNO.

Berikut ini adalah nama korban:

Ibrahim Isa
Akibat geger politik pascaperistiwa 30 September tahun 1965, ada sejumlah tokoh di Indonesia yang terkena dampaknya. Salah satunya politisi dan diplomat Ibrahim Isa. Pemerintah pada saat itu, mencabut paspor dan identitas Ibrahim sebagai WNI. Paspornya dicabut usai dia mengikuti Konferensi Trikontinental Asia Afika dan Amerika Latin pada 1966.

Alasannya, pemerintah Orde Baru menilai Ibrahim punya afliasi politik dengan pemerintahan Soekarno. Akibat statusnya ini, Ibrahim pun melalang buana ke negara-negara seperti Kuba hingga China. Sampai akhirnya menetap di Belanda dan meninggal di sana.

Chalik Hamid
Selain Ibrahim Isa, ada pula tokoh lain yang ikut dicabut kewarganegaraannya usai Peristiwa 30 September 1965. Dia adalah penyair Chalik Hamid. Ketika itu, Chalik masih berada di Tirana, Albania dalam rangka belajar kesusasteraan.

Namun pemerintah Orde Baru mencabut paspor Chalik lantaran dia termasuk dalam bagian dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang merupakan sayap organisasi dari PKI. Setelah status kewarganegaraannya hilang, dia terpaksa tinggal di Albania selama 25 tahun, sampai akhirnya pada tahun era 90an pindah ke Belanda.

A.M. Hanafi
Hal serupa juga dialami oleh mantan Menteri Urusan Tenaga Rakyat dan Duta Besar Indonesia untuk Kuba, A.M. Hanafi. Pada tahun 1965, Dia harus kehilangan kewarganegaraannya karena dinilai punya kedekatan dengan Soekarno. Usai kehilangan status kewarganegaraannya, dia pun menjadi eksil dan meminta suaka politik kepada pemerintah Perancis.

Menteri yang pernah moncer di era Soekarno ini pun akhirnya menghabiskan masa tuanya di Perancis. Pada tahun 2004 dia meninggal di sana.

Tom Iljas
Bukan hanya para tokoh, geger politik 30 September 1965 berefek kepada para pelajar Indonesia yang sedang belajar di luar negeri. Tom Iljas salah satunya. Tom saat itu merupakan anggota Diaspora Indonesia di Swedia. Tom mendapat tugas belajar dari pemerintah Soekarno ke Peking Institute of Agricultural Mechanization, China.

Namun, ketika hendak pulang ke Indonesia, paspornya ditahan oleh imigrasi. Tom kehilangan kewarganegaraannya. Dia dianggap punya hubungan dengan pemerintah Soekarno. Akhirnya, Tom pun menjadi warga negara Swedia.

Sarmadji
Peristiwa 30 September 1965 juga berdampak pada status kewarganegaraan Sarmadji. Samardji merupakan guru yang dikirim ke China untuk belajar, pada era pemerintahan Soekarno. Di sana, dia belajar tentang pendidikan anak di luar sekolah. Namun, usai hara-huru politik tahun 1965, pemerintahan Orde Baru mencabut status kewarganegaraan Sarmadji.

Usai kehilangan kewarganegaraannya, Sarmadji harus tinggal di China selama 45 tahun lebih. Sampai akhirnya dia pindah ke Belanda dan menjadi warga negara Belanda.

(sumber: detik.com)




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA