Sunday, 20 Jun 2021
Temukan Kami di :
News

Pakai Taksi Online, Bawaslu Kantongi Identitas Pengirim C1 Menangkan Prabowo

Jadi dia memesan transportasi online untuk mengantarkan ribuan suara itu

Aisyah Isyana - 08/05/2019 14:54

Beritacenter.COM - Bawaslu DKI Jakarta disebut-sebut telah mengantongi identitas pengirim ribuan formulir C1 asal Boyolali, Jawa Tengah. Formulir C1 diduga palsu yang ditemukan di Menteng, Jakarta Pusat ini diketahui memenangkan paslon 02, Prabowo-Sandiaga.

Dikatakan Ketua Bawaslu DKI Jakarta, Muhammad Jufri, pengiriman ribuan formulir C1 itu dilakukan dengan menggunakan taksi online. Dokumen-dokumen itu disebut-sebut hendak diantarkan ke Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Baca juga :

"Jadi dia memesan transportasi online untuk mengantarkan ribuan suara itu," kata Jufri seperti dilansir CNNIndonesia, Rabu (8/5).

Meski sudah mengantongi identitas pengirim dokumen, Jufri mengaku belum bisa membukanya saat ini. Menurutnya, saat ini penyelidikan terkait kasus itu masih terus dilakukan Bawaslu Jakpus.

"Jadi nanti dulu, penyelidikan masih berlangsung. Kita tunggu saja," ucap dia.

Untuk diketahui, Ketua Divisi Hukum dan Penanganan Pelanggaran Bawaslu DKI Jakarta Puadi mengatakan, dua kardus form C1 itu ditemukan oleh Polres Jakarta Pusat saat tengah melakukan operasi lalu lintas di Menteng pada Sabtu (4/5/2019) lalu.

"Kejadian sekitar 10.30 WIB, pas dibuka ada dua kardus yang ada tulisan C1 Kabupaten Boyolali kemudian Polres Jakpus mereka berkoordinasi dengan Bawaslu Jakpus karena wilayah pemilu ya lalu Bawaslu Jakpus koordinasi ke kami," ujar Puadi kepada wartawan, Senin (6/5).

Kedua kardus itu, yakni kardus putih berisi berisi 2.006 formulir C1 dan kardus coklat 1.761 formulir C1. Ribuan formulir C1 itu berasal dari Boyolali, Jawa Tengah. Tapi, isi formulir C1 itu berbeda dengan hasil penghitungan suara pada Situng KPU.

Sebelumnya, Komisoner KPU Wahyu Setiawan berbicara prihal kemungkinan temuan ribuan C1 Kabupaten Boyolali di Menteng, Jakarta Pusat, diduga palsu. Menurutnya, C1 itu bisa disebut palsu jika data perhitungan suara tak sesuai dengan data di Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU.

"Tinggal disandingkan antara C1 yang tertera dalam Situng dengan C1 janggal. Apabila terdapat perbedaan, maka dapat disimpulkan bahwa C1 janggal tersebut adalah palsu," kata Wahyu dalam keterangan tertulis, Selasa (7/5/2019).

"Situng selain merupakan bentuk transparansi hasil pemilu, juga bermanfaat sebagai rujukan apabila ditemukan dokumen C1 yang janggal," ucapnya.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA