Saturday, 22 Feb 2020
Temukan Kami di :
Opini

Merasa Terancam, HTI Rangkul PKS untuk Tumbangkan Jokowi di Pemilu 2019

Jika Ikhwanul Muslimin menempuh perjalanannya melalui jalur politik resmi seperti melalui PKS. Berbeda halnya dengan Hizbut Tahrir mengharamkan proses demokrasi, termasuk pemilu.

Sari Intan Putri - 24/04/2019 12:49

Beritacenter.COM - Pemilu 2019 ini terasa sangat berbeda untuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Mengapa demikian? Sebab, ini adalah sejarah baru bagi PKS di Pemilu dengan mendapatkan sumbangan perolehan suara dari Hizbut Tahrir.

Antara PKS dan Hizbut Tahrir memang sama-sama mengusung khilafah, tetapi dalam hal konsep perjuangan, antara Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin (PKS) sangat berbeda.

Jika Ikhwanul Muslimin menempuh perjalanannya melalui jalur politik resmi seperti melalui PKS. Berbeda halnya dengan Hizbut Tahrir mengharamkan proses demokrasi, termasuk pemilu.

Perlu diketahui juga jika dalam perjalannya, Hizbut Tahrir dipastikan selalu golput dalam pesta demokrasi yang dilangsungkan di Indonesia dengan banyak alasan. Lalu, mereka bergerak dengan cara yang berbeda, melalui infiltrasi atau penyusupan ke badan-badan strategis seperti dunia pendidikan dan aparat militer.

Tetapi Pemilu 2019 sangat berbeda bagi kedua kubu ini, baik itu PKS ataupun Hizbut Tahrir. Mereka merasa terancam oleh keberadaan Presiden Joko Widodo sesudah dia membubarkan organisasi berbahaya itu pada tahun 2017.

Oleh karena itu mereka menerapkan strategi siasat politik, atau mengikuti pola demokrasi untuk mencapai tujuan. Salah satu jalannya supaya tetap survive adalah dengan mengikuti pencoblosan.

Pertanyaannya, ke mana suara anggota HTI yang diperkirakan berjumlah 2 sampai 3 juta orang itu disalurkan?

Hal ini juga menjawab pertanyaan kenapa suara PKS berdasarkan quick count naik menjadi 8 persen. Padahal, sebelumnya banyak yang memperkirakan PKS tidak akan bisa lolos ke Senayan dalam Pemilu 2019 ini. Bagi PKS, 3 juta suara anggota HTI sangat signifikan untuk menaikkan suara mereka.

Dalam sejarahnya, sebelum ada Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin berdiri terlebih dulu. Nah, di dalam IM ini ada organisasi rahasia yang disebut Tandhimul Jihad. Di Tandhimul Jihad ada seorang yang bernama Taqiudin Alnabani. Dialah pendiri Hizbut Tahrir. Jadi bisa dibilang, Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin itu berasal dari rahim satu ibu.

Ada kemungkinan, sebagai bagian dari siasat, Hizbut Tahrir melakukan bargaining dengan PKS, sebagai salah satu sayap Ikhwanul Muslimin, untuk bergerak bersama mencapai satu tujuan.

PKS jelas setuju, karena mereka butuh suara besar supaya lolos Parliamentary Threshold yang menetapkan syarat minimal 4 persen suara. PKS sendiri sebelumnya terancama tidak lolos berdasarkan hasil-hasil survei karena mereka digerogoti dari dalam oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta yang membentuk organisasi bernama Garbi.

Maka jadilah “tumbu ketemu tutup” antara HTI dan PKS. Simbiosis mutualisma. Perbedaan pandangan di antara mereka disingkirkan dulu, demi mencapai tujuan bersama.

Itulah kenapa suara PKS berdasarkan quick countnaik menjadi 8 persen. Padahal sebelumnya banyak yang memperkirakan PKS tidak akan bisa lolos ke Senayan dalam Pemilu kali ini. Bagi PKS, 3 juta suara anggota HTI sangat signifikan untuk menaikkan suara mereka.

Sebelumnya HTI sendiri mengumumkan suara mereka akan disalurkan ke PBB, partainya Yusril Ihza Mahendra. Tapi karena sang pengacara mendukung Jokowi, maka membelotlah mereka mencari inang lain untuk pertumbuhan organisasi.

Hizbut Tahrir Indonesia boleh saja dibubarkan, tetapi ideologi mereka tidak mati. Sel-sel mereka terus bergerak, beradaptasi dengan keadaan, sambil menunggu waktunya untuk memakan.

Itulah kenapa di beberapa negara seperti di Mesir, pentolan Hizbut Tahrir ditangkapi bahkan dihukum mati karena ideologi yang mereka bawa mengancam keutuhan negara.

Denny Siregar (Penulis Buku Tuhan Dalam Secangkir Kopi)




Berita Lainnya

Aksi 212 Tidak Memiliki Manfaat

22/02/2020 16:42 - Indah Pratiwi Budi

RUU Ketahanan Keluarga Bak Mertua?

21/02/2020 16:47 - Indah Pratiwi Budi

Peluang Ahok Maju Pilpres 2024

19/02/2020 16:45 - Indah Pratiwi Budi

Mau Demo KPK, 212 Sarat Kepentingan Politik

19/02/2020 13:55 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA