Saturday, 07 Dec 2019
Temukan Kami di :
Nasional

Terbongkar...! Novel Baswedan dan Bambang Widjojanto, Kader "Tertutup" Partai Gerindra

Indah Pratiwi Budi - 22/04/2019 12:20

FOKUS : KPK

Beritacenter.COM - Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno membocorkan dua nama yang bakal dicalonkan jadi Jaksa Agung jika jagoan mereka menang Pilpres 2019. BPN menyebut nama penyidik senior KPK Novel Baswedan dan eks pimpinan KPK Bambang Widjojanto (BW).

“Saya kasih bocoran. Ada wacana Mas Novel Baswedan yang akan menjadi Jaksa Agung, ada wacana Mas Bambang Widjojanto yang jadi Jaksa Agung,” kata juru bicara BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade di kantor Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (29/3/2019).

Munculnya nama mantan komisaris polisi ini sebagai calon Jaksa Agung untuk mendongkrak elektabilitas Prabowo Subianto – Sandiaga Uno karena elektabilitas capres Prabowo Subianto benar-benar nyungsep. Tak ada satu lembaga survei yang kredibel menjagokan mantan menantu Soeharto ini untuk memenangi Pilpres 2019.

Binaan Partai Gerindra

Menurut sumber di Partai Gerindra, sudah lama Novel Baswedan dan Bambang Widjojanto alias BW “dibina” Prabowo Subianto. Novel dan Bambang adalah kader “tertutup” partai besutan Prabowo.

Jika nama Novel dan Bambang muncul sekarang sebagai calon Jaksa Agung tidaklah mengagetkan. “Untuk publik mungkin iya. Tapi bagi kami di Gerindra itu sudah rahasia umum,” kata sumber.

Sumber mengatakan, Novel Baswedan ini sebenarnya politikus yang bekerja untuk kepentingan hukum Partai Gerindra. Apalagi Novel punya jaringan dan pengaruh luas di KPK.

“OTT yang digelar KPK, termasuk kasus Romi adalah andil Novel untuk menjatuhkan citra Capres Jokowi. Akan banyak kasus-kasus lain yang akan menghantam kubu Jokowi,” kata sumber.

Bukan hanya Novel, Bambang Widjojanto mantan komisioner KPK juga kader tertutup Gerindra. Makanya kedua nama ini disiapkan Prabowo untuk posisi Jaksa Agung.

“Novel dan BW itu orkit (orang kita),” kata Waketum Partai Gerindra Arief Pouyono tanpa menjelaskan maksud orkit itu.

Sementara itu Fadli Zon membenarkan bahwa Novel Baswedan sudah lama dekat dengan Prabowo Subianto. “Itu rahasia partai kami lah,” kata Fadli ketika dihubungi awak media ini tadi malam.

Novel Baswedan

Akibat elektabilitas tidak naik-naik dengan bantuan kader Partai Demokrat seperti Andi Arief, Prabowo mulai menyebar hoaxs ( berita fitnah) antara lain tujuh kontainer surat suara yang sudah tercoblos.

Namun fitnah Andi Arief ini dibantah KPU dan sejumlah orang yang menyebarkan fitnah ini diciduk polisi.

Berbagai cara dilakukan Prabowo untuk menaikkan elektabilitas apalagi sosok Sandiaga Uno sangat tidak menjual. ” Siapa yang kenal Sandiaga Uno?,” tanya Almusfar.

Apalagi Sandi juga ikut-ikutan menyebar hoaxs tentang tempe setipis ATM, dan kenaikan harga bahan pokok yang langsung dibantah para pedagang.

Akhirnya, dengan bantuan Anies Baswedan Gubernur Jakarta yang merasa berhutang budi dengan Prabowo Subianto, dicobalah memainkan isu penyidik KPK Novel Baswedan.

Novel Baswedan mantan polisi berpangkat Kompol ini pernah dapat serangan air keras di rumahnya, dan isu ini mulai digoreng Prabowo Subianto.

“Ini settingan Prabowo dengan Anies,” kata seorang sumber di lingkungan Partai Gerindra.

Anies yang dikenal sebagai politikus kutu loncat ini, memang sudah lama tidak nyaman dengan Jokowi karena dipecat dari posisi Mendikbud.

Berseliweranlah isu-isu di media sosial jika Prabowo terpilih dalam 100 hari dia akan mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

“Gimana mau ungkap kasus Novel. Wong kasus penculikan yang dilakukan Prabowo 20 tahun silam aja gelap sampai sekarang. Bowo lagi kumur-kumur tuh,” kata Almusfar tertawa.

Kasus Novel Baswedan ini memang menyita perhatian publik karena begitu massifnya digoreng oleh ICW dan Majalah Tempo yang tak lain adalah sekondan Novel sendiri.

Sudah menjadi rahasia umum di KPK, mantan Kasat Reskrim Polres Bengkulu yang terlibat pembunuhan peternak sarang burung walet itu, memang punya ambisi besar menjadi Direktur Penyidikan KPK.

“Karier Novel di polisi sudah mentok. Karena itu dia mencari posisi di KPK sebagai Direktur Penyidikan yang selevel bintang satu,” kata sumber.

Namun belum sempat Novel mencapai apa yang dia inginkan, dia dapat musibah disiram air keras subuh-subuh buta.

Banyak spekulasi yang beredar di balik kasus Novel ini, antara lain dendam pihak-pihak yang merasa dizholimi Novel, persaingan jabatan dan berbagai kemungkinan lainnya.

Novel seperti nya menikmati kasusnya dijadikan isu oleh Prabowo Subianto.

“Seperti nya tanpa sadar atau mungkin juga sadar Novel terlibat dalam permainan politik ini. Apalagi dia diiming-imingi akan jadi pimpinan KPK jika Prabowo terpilih jadi Presiden,” kata sumber.

Menurut sumber, sebenarnya kasus Novel ini kasus sederhana namun karena disetting dengan opini yang massif oleh ICW dan Tempo, jadi lah Novel sebagai icon antikorupsi.

“Padahal Novel itu juga gak bersih-bersih amat. Masak kompol bisa punya rumah di Kelapa Gading. Artikan sendiri lah,” kata sumber itu tertawa. ***

sumber : liputanindonesia1.com / dobrakmusuhnkri.net




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA