Monday, 14 Oct 2019
Temukan Kami di :
Nasional

TERBONGKAR...! Pendukung 02 Adalah "Mafia Suara" Di Malaysia

Indah Pratiwi Budi - 12/04/2019 17:15

Beritacenter.COM - Penemuan surat suara Pileg dan Pilpres 2019 yang tercoblos di Malaysia bikin geger. Meski demikian, ada banyak kejanggalan dalam kasus ini. Selain cara penggerebekan yang dilakukan kubu 02, terungkap adanya mafia suara di Negeri Jiran.

Politikus PDIP Masinton Pasaribu menyampaikan informasi sindikat khusus pileg di Malaysia. Menurutnya, perolehan suara caleg di Malaysia ditentukan sindikat pemain surat suara. Mereka inilah yang melakukan transaksi jual-beli suara.

“Jadi besar-kecilnya perolehan suara caleg ditentukan kelompok sindikat tadi, ditentukan seberapa besar dia mampu membayar,” kata Masinton saat dihubungi, Kamis (11/4/2019).

Masinton mengaku juga sempat ditawari oleh sindikat surat suara pileg di Malaysia. Namun dia menolaknya. Setiap pemilu, katanya, sindikat ini bermain di pemilihan legislatif.

Dari informasi yang diterima, Masinton menyebut sindikat surat suara pileg ini memberi harga 15 ringgit untuk satu suara. Dari pengakuannya, surat suara itu akan dicoblos sendiri di luar mekanisme pemilu.

“15 ringgit, kira-kira Rp 45-50 ribu kalau dirupiahkan per satu suara. Dan itu sindikatnya melakukan coblos sendiri,” katanya. Masinton mengetahui informasi soal sindikat ini melalui kerabatnya di Malaysia. Dia juga mengatakan sindikat ini merupakan WNI yang sudah lama tinggal di Malaysia.

Baca Juga :

“Ya orang Indonesia lama tinggal di sana. Tapi saya nggak tahu, nggak tanya,” ujarnya.

Sementara itu, penelusuran CNN menemukan fakta baru mengenai sindikat ini. Surat suara yang tercoblos di Malaysia disebut sebagai buntut dari perang tarif pembelian suara antar calon anggota legislatif dari daerah pemilihan Jakarta II.

Seorang sumber CNNIndonesia.com yang enggan disebutkan namanya mengatakan, politik uang memang terjadi di Malaysia sehingga ada perang tarif.

“Kasus Malaysia [karena] kecemburuan tarif,” kata sumber tersebut, Kamis (11/3).

Sumber tersebut mengatakan bahwa penemuan surat suara tercoblos sebagai buntut dari perang harga suara. Dia menyebut tarif satu suara adalah 20 Ringgit. Akan tetapi, salah satu calon anggota legislatif debutan ingin membeli satu suara dengan harga 50 ringgit, yang berujung terkuaknya dugaan kecurangan.

“Harga suara 20 ringgit, pasaran dirusak jadi 50 ringgit. Akibatnya jadi musuh bersama,” ucap sumber tersebut. Ia juga mengatakan bahwa penemuan surat suara tercoblos di Malaysia sebagai kerja sama antara Panwaslu setempat dengan orang-orang yang terafiliasi partai politik tertentu.

“Ini kerja sama sama Bawaslu. Gerebeknya juga bareng Bawaslu,” ucap sumber itu.

Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Fritz Edward Siregar tidak membenarkan pernyataan tersebut. Namun, ia tak membantah bahwa pihaknya bekerja sama dengan partai tertentu dalam menguak dugaan kecurangan di Malaysia.

“Laporan bisa datang dari mana saja. Tugas Panwaslu kan harus ungkap setiap dugaan,” kata Fritz saat dikonfirmasi.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA