Tuesday, 21 May 2019
Temukan Kami di :
News

Bicara Peran Pesantren, Ma'ruf: Kiai itu Pesantren dulu, Jika Tidak Namanya Dikiaikan

Ini.. kalau soal gelar gampang. Nggak mondok bisa jadi kiai. Itu namanya dikiaikan. Kalau yang kiai itu, pesantren dulu baru kiai, kalau tidak pesantren jadi kiai, namanya dikiaikan

Aisyah Isyana - 04/04/2019 18:57

Beritacenter.COM - Cawapres KH Ma'ruf Amin berbicara prihal tugas dan peran pesantren di masyarakat. Menurutnya pesantren bertugas menyiapkan ulama atau kiai yang paham agama dan menjadi toko yang akan menjaga agama dari akidah yang rusak dikemudian hari.

Ma'ruf mengatakan, seorang kiai seharusnya berasal dari orang yang sudah belajar dalam pesantres terlebih dahulu, baru mendapat gelar kiai. Menurutnya, para kiai membangun pesantren untuk menurunkan ilmunya kepada generasi selanjutnya.

Baca juga :

"Kenapa para kiai bikin pesantren? Karena supaya ada yang melanjutkan tugasnya. Allah tidak mengangkat ilmu dari hati manusia. Tapi Allah mengambil ilmu dengan mengambil ilmunya. Kalau ulama wafat, ilmunya dibawa, mobilnya ditinggal, sawahnya ditinggal, kebonnya ditinggal, istrinya juga ditinggal, tapi ilmunya dibawa," ujar Ma'ruf saat menghadiri dialog dengan Forum Pesantren Priangan Timur, Garut, Jawa Barat, Kamis (4/4/2019).

"Kalau sampai tidak tersisa satu alim pun, orang akan mengangkat pemimpin yang bodoh-bodoh. Kalau memberi fatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan. Ini...kalau soal gelar gampang. Nggak mondok bisa jadi kiai. Itu namanya dikiaikan. Kalau yang kiai itu, pesantren dulu baru kiai, kalau tidak pesantren jadi kiai, namanya dikiaikan," imbuh dia.

Ma'ruf menilai, pesantren memegang peranan penting di masyarakat guna mencetak ulama atau kiai yang akan melindungi agama dari akidah yang menyimpang. Terlebih, saat ini banyak pihak-pihak yang memahami agama secara intoleran dan menyimpang.

"Padahal agama ini rahmatan lil alamin. Berbeda agama saja kita suruh toleran, lakum dinukum waliyadin. Berbeda partai juga harus toleran lakum partaiyukum, walana partaiyuna, berbeda capres mestinya tidak harus berantem, lakum capresukum walanq capresuna. Kalau tidak sama nggakpapa. Kalau tidak mau pilih saya, pilih saja Pak Jokowi. Kalau tidak mau pilih Pak Jokowi, pilih saja saya," tutur Ma'ruf.

Cawapres pasangan Jokowi ini lantas menyinggung soal Pilpres yang sempat dianggap layaknya perang badar. Ma'ruf mengatakan, pemahaman seperti itu sangatlah berbahaya.

"Nah ini yang bahaya memahami agama secara intoleran. Yang berbeda pilihan capresnya dianggap musuh. Capres dianggap perang. Ini bahaya sekali. Perang badar katanya. Perang badar kan perang muslim dan kafir. Siapa yang muslim siapa yang kafir. Kalau dia ngaku muslim, berarti saya dan Pak Jokowi kafir, enak saja," katanya.




Berita Lainnya

Awas, Teroris Incar Massa di Aksi 22 Mei

21/05/2019 05:10 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA