Sunday, 21 Jul 2019
Temukan Kami di :
Bisnis

"Sandiaga Uno" Bagaimana Mau Urus Negara ? Urus Perusahaan Sendiri Saja "Rugi Rp 6,2 Triliun"

Indah Pratiwi Budi - 28/03/2019 12:07

Beritacenter.COM - PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) membukukan pendapatan terealisasi lebih dari Rp 1,1 triliun selama 2018.

Perolehan tersebut utamanya disumbang dari pembayaran dividen perusahaan investasi dan hasil divestasir Presiden Direktur Saratoga Michael Soeryadjaya mengatakan, secara fundamental, perusahaan-perusahaan investasi Saratoga tumbuh secara positif dan melalui strategi pertumbuhan organik dan non organik.

Namun, ada faktor eksternal seperti kenaikan suku bunga, melemahnya mata uang dan harga komoditas yang fluktuatif menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Hal ini berimbas kurang baik bagi kinerja harga saham dari portofolio investasi.

“Kami bangga dengan kinerja perusahaan investasi kami di tengah tantangan bisnis yang sangat dinamis pada tahun 2018,” ujar Michael dalam keterangan tertulis, Selasa (26/3/2019).

Lebih jauh, pada 2018, perusahaan membukukan pendapatan dividen sebesar Rp 900 miliar yang diperoleh dari enam perusahaan investasi. Michael mengatakan, bagi mereka, hal ini menunjukkan kinerja operasional dan bisnis yang kuat dari perusahaan investasi.

Rugi Bersih Meski demikian, perusahaan tersebut menutup tahun 2018 dengan rugi bersih Rp 6,2 triliun.

Kerugian itu terutama didorong oleh pergerakan harga saham mark-to-market PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).

Total aset perusahaan sebesar Rp 20,1 triliun diatribusikan kepada perusahaan investasi yang fokus pada tiga sektor utama, yaitu sumber daya alam, infrastruktur dan konsumen barang dan jasa.

Michael mengaakan, akibat volatilitas pasar yang terus-menerus terjadi sepanjang tahun dan pemberlakuan akuntansi baru yang diimplementasikan pada 2017, mereka mencatat kerugian bersih yang belum direalisasi sebesar Rp 6.2 triliun.

Menurut Michael, kondisi ini normal terjadi di pasar untuk melalui berbagai tahap volatilitas dan sebagai investor jangka panjang.

Saratoga tetap percaya diri pada prospek perusahaan investasi dan meyakini harga saham akan mampu menyamai fundamental perusahaan.

Pada 2018, kata Michael, Saratoga terus mengidentifikasi peluang untuk menambah nilai perusahaan.

Salah satunya adalah investasi baru di PT Aneka Gas Industri Tbk (AGII), pemasok gas industri dominan di Indonesia.

Untuk mengambil keuntungan dari pertumbuhan sektor teknologi, Saratoga juga mulai merambah bisnis start-up melalui mitra investasi.

Saratoga percaya bahwa sektor teknologi memiliki prospek yang menjanjikan di masa depan karena adanya disrupsi.

Selain itu, Saratoga juga melepaskan kepemilikannya di Batu Hitam Perkasa, pemegang saham minoritas PT Paiton Energy.

Michael menambahkan, strategi ini merupakan bagian dari upaya menyelesaikan siklus investasi perusahaan, di mana Saratoga tidak hanya berinvestasi, tapi secara aktif terlibat mengembangkan perusahaan.

Saratoga juga mendukung perusahaan investasi yang ada untuk mengembangkan bisnis mereka, diantaranya PT Mulia Bosco Logistics (MBL), Rumah Sakit Awal Bros Holding Group, dan Deltomed.

Chief Financial Officer Saratoga Lany Wong mengatakan, kinerja Saratoga yang kuat juga dipengaruhi oleh sejumlah aksi korporasi oleh perusahaan investasi melalui akuisisi dan divestasi yang dilakukan pada sektor sumber daya alam dan konsumer.

“Saratoga akan terus mendorong investasi-investasi baru baik secara langsung maupun yang dilakukan melalui perusahaan investasi Saratoga,” kata Lany.

Di sektor sumber daya alam, PT Adaro Energy Tbk pada tanggal 1 Agustus 2018, dengan EMR Capital Ltd, perusahaan private equity di bidang pertambangan, telah menyelesaikan akuisisi terhadap kepemilikan Rio Tinto atas Kestrel Coal Mine (Kestrel).

Sementara itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) telah melakukan akuisisi strategis atas dua aset pertambangan, mengakuisisi saham mayoritas pada Finders resources limited yang memiliki tambang tembaga yang beroperasi di Pulau Wetar di Nusa Tenggara Barat; serta proyek emas Pani greenfield di Gorontalo, Sulawesi Utara.

Di sektor konsumer, PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) telah menyelesaikan divestasi strategis 100 persen sahamnya di bisnis pelumas perusahaan, PT Federal Karyatama (FKT), dengan nilai transaksi keseluruhan 436 juta dollar AS.

Lany menambahkan, ke depannya, strategi Saratoga akan tetap fokus pada tiga sektor utama tersebut.

Namun, tak menutup kemungkinan mereka akan memperluas fokus perusahaan.

“Di tengah dinamika bisnis yang akan terus berlangsung, kami harapkan portofolio bisnis Saratoga akan tetap solid dan tumbuh secara berkelanjutan,” kata Lany.

sumber: kompas.com




Berita Lainnya

Ini Dia Ojek Online Yang Kuasai Indonesia

16/07/2019 12:37 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA