Thursday, 18 Apr 2019
Temukan Kami di :
Politik

Bukti Capres Prabowo Subianto Sang Penculik Ada di DKP

Indah Pratiwi - 26/03/2019 11:19

Beritacenter.COM, Jakarta - Kalau berbicara tentang kasus penculikan dalam kaitannya dengan Prabowo, pertanyaan yang selalu muncul adalah apa buktinya Prabowo menculik; kenapa dia tidak diadili di mahkamah militer dan hukum pidana; kenapa yang diduga diculik ada di partainya sekarang; kenapa isu penculikan muncul setiap Prabowo nyapres; dan kenapa kasus kejahatan HAM Prabowo tidak dituntaskan sampai sekarang.

Biasanya orang-orang yang bertanya seperti itu akan selalu berputar-putar di situ saja dan menolak untuk menerima argumentasi logis dan fakta empiris. Mereka lebih memilih untuk pura-pura tidak mengerti. Kalau sudah seperti itu, maka bukan kebenaran yang dia cari, melainkan pembenaran. Karena dia sama sekali juga tidak bisa membuktikan bahwa Prabowo tidak menculik. Tetapi harapannya semakin sering kita jelaskan, semakin sadar pula dia. Emang kampret bisa tobat?
BTW, penjelasan ini bukan karena saya benci terhadap Prabowo. Bukan pula karena saya ingin memfitnahnya. Saya hanya tidak ingin orang jahat memimpin bangsa ini. Saya hanya ingin suatu saat dengan didengungkan terus-menerus mengetuk pintu hati para pemimpin bangsa ini untuk menuntaskan kasus penculikan aktivis 98 agar mereka yang hilang diketahui juntrungnya dan penculiknya mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Apa buktinya Prabowo menculik?

Bukti otentik dan terbantahkan adalah surat keputusan Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang memutuskan Prabowo bersalah karena tidak disiplin, tindak pidana merampas kebebasan orang lain dan tindak pidana penculikan.

Jangan tanya di mana DKP itu sekarang sebab orang yang ikut mengadili Prabowo juga sudah mengonfirmasi bahwa DKP itu benar adanya mereka di antaranya SBY, Agum Gumelar dan Fakhrurrozi. Yang tidak buka mulut sampai sekarang adalah SBY.

Bukti lain adalah akibat dari DKP, yaitu Prabowo dipecat dari dinas militer. Entah terhormat atau tidak, yang penting Prabowo diberhentikan atas dasar rekomendasi dari DKP.

Selain itu, Fadli Zon pada 2014 silam pernah mengakui bahwa penculikan itu benar adanya dan orang-orang yang diculik itu ada di partai Gerindra, partai Prabowo. Dengan mengatakan bahwa orang-orang yang diculik ada di partai Prabowo sebenarnya Fadli Zon sedang mengakui memang penculikan itu benar adanya. Soal kenapa orang yang diculik ada di partainya, tidak bisa membantah bahwa Prabowo memang penculik.

@fadjroel orang-orang yang ditangkap (diculik) sekarang jadi @Gerindra. Contoh Desmon, Pius, Haryanto Taslan, Aan Rusdianto, dll. Mereka dukung @Prabowo08. (Fadli Zon)

Bukti lain adalah korban penculikan dan para aktivis yang hilang sampai sekarang. Korban penculikan yang tidak bergabung dalam partai Prabowo selalu bercerita bahwa mereka disiksa sedemikian rupa selama diculik.

Kenapa dia tidak diadili di mahkamah militer dan hukum pidana?

Prabowo tidak diadili di mahkamah militer, karena dia sudah diadili di DKP. Lalu setelah itu para petinggi militer masih berada di bawah kekuasaan dan pengaruh Soeharto waktu itu. Mereka entah karena menghargai Soeharto entah karena tidak berani mempermalukan Soeharto kemudian mencukupkan kasus Prabowo pada pemecatan. Prabowo juga tidak diadili melalu pengadilan HAM. Setelah dipecat dia pergi ke Yordania. Dia pulang ke Indonesia setelah kasus itu seolah sirna di telan waktu.

Orang yang dulu teriak agar Prabowo dimahmilkan adalah Amien Rais. Tulisannya di Kompas dimuat beberapa kali dengan judul besar-besar terkait kenapa Prabowo harus dimahmilkan. Ratna Sarumpaet juga pernah ikut menuntut agar Prabowo diadili. Soal kenapa mereka sekarang berada di kubu Prabowo, namanya saja orang-orang oportunis.

Kenapa yang diduga diculik ada di partainya sekarang?

Menurut ahli, orang bisa saja punya kelainan di mana korban penculikan justru akan melindungi penculiknya karena sudah merasa nyaman dengan karena siksaan yang dilakukan kepadanya. Yang seperti ini disebut Stockholm Syndrome. Apakah korban itu adalah punya Stckholm Syndrome, kita tidak tahu.

Saya sendiri lebih percaya bahwa kepentingan politik terkadang menjadikan seseorang lupa akan segalanya. Peluang politis yang terbuka di depan mata terkadang membuat orang kehilangan prinsipnya sendiri. Apakah itu yang terjadi, lagi-lagi hanya orang-orang itu saja yang tahu. Yang pasti, kedekatan aktivis yang diculik tidak akan menghilangkan tindakan penculikan itu sendiri.

Kenapa isu penculikan muncul setiap Prabowo nyapres?

Karena manusia Indonesia tidak mau seorang penculik jadi presiden. Itulah sebabnya dengan siapa pun Prabowo berpasangan, maka ia akan kalah. Kesadaran kolektif bangsa ini tidak mudah dimanipulasi hanya dengan orasi menggebu-gebu dan dengan janji-janji. Manusia Indonesia pun belum sanggup berdamai dengan kasus kejahatan HAM masa lalu yang belum tuntas.

Jadi jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya semakin meyakinkan bahwa manusia Indonesia masih trauma dengan kejahatan HAM masa lalu dan buruknya pemerintahan Orde Baru. Terlalu perih rasanya melupakan masa lalu.

Kenapa kasus kejahatan HAM Prabowo tidak dituntaskan sampai sekarang

Karena Prabowo dan orang-orang yang terlibat di dalamnya masih punya pengaruh di dunia politik Indonesia. Mereka masih kuat. Entah mereka itu ada di lingkaran Jokowi entah itu Prabowo sendiri. Ketika pelanggar HAM dan pembunuh hakim punya partai, apa yang akan kamu bisa harapkan negeri ini menyelesaikan kasus kejahatan HAM.

Maka sampai kekuatan politik dan pengaruh mereka melemah, saat itulah saat yang tepat untuk menyelesaikan kasus kejahatan HAM. Entah sampai kapan, saya tidak tahu. Jangankan menyelesaikan kasus kejahatan HAM, setiap memperingati hari naas itu saja kegaduhan sudah muncul di negeri ini.

Justru itulah sebenarnya ironisnya Indonesia. Ketika seorang yang terbukti melakukan penculikan menjadi capres justru didukung jadi presiden, sementara yang tidak punya sejarah kelam malah dihina-hina sedemikian rupa. Bagi yang waras, jangan sampai penculik itu jadi presiden.

 

Sumber: Batara Online




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA