Tuesday, 18 Jun 2019
Temukan Kami di :
Politik

Pengamat: Pendukung Prabowo Tak Akui Prestasi Jokowi Karena 'Gengsi'

Anas Baidowi - 26/03/2019 09:22

Beritcenter.COM - Kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), berhasil menyulap sejumlah proyek mangkrak yang tak terurus selama puluhan tahun. Proyek pengadaan transportasi publik MRT, Tol Bocimi dan Tol Becakayu, serta kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika merupakan proyek mangkrak warisan pemimpin terdahulu yang berhasil diwujudkan oleh Jokowi.

Jokowi melihat, mengkraknya proyek tersebut karena persoalan teknis. "Saya berikan contoh satu saja, jalan Balikpapan-Samarinda. Lebih dari 9 tahun berhenti. Penyebabnya apa? Setelah saya masuk ke dalam, melihat di lapangan. Problemnya ada di pembebasan lahan," ujar Jokowi pada Februari 2019.

Baca Juga: Prediksi Charta Politika Jelang Pilpres, Jokowi Kembali Permalukan Prabowo

Di Jakarta dan Jawa Barat saja, Jokowi berhasil menuntaskan pembangunan infrastruktur yang gagasannya telah ada sejak Orde Baru, seperti proyek yang tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) dan tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi). Jokowi paham betul konektivitas jalan tol amatlah penting untuk mencapai percepatan arus distribusi barang dan logistik, yang pada nantinya dapat menyamaratakan harga di tiap daerah.

Namun, pencapaian Presiden Jokowi dalam membangun infastruktu selalu dipertentangkan oleh pendukung Prabowo-Sandi. Penolakan terhadap prestasi Jokowi itu dinilai karena kubu 02 merupakan wujud gengsi.

"Saya pikir kalau pun mengakui keberhasilan proyek sekarang, itu sama artinya mengakui keunggulan petahana 01," ucap Wasisto kepada Tagar News melalui sambungan telepon, Senin (25/3) malam.

Baca Juga: TGB Yakin Kebaikan Jokowi akan Mengubah Pilihan Warga NTB di Pilpres

Secara psikologis, kata dia, justru artinya tidak bisa menemui celah kritikan dari petahana. Pada faktanya yang luput dari pandangan adalah proyek yang dirampungkan Jokowi merupakan proyek strategis nasional jangka Panjang yang jangka waktunya 25 tahun.

"Jadi, siapapun presidennya, proyek itu jalan tapi juga tergantung political will setiap rezimnya," jelas Wasisto.

Lebih lanjut, ia menerangkan, hal yang terjadi saat ini menunjukkan kedewasaan politik publik yang belum berkembang. Padahal, pada dasarnya, pembangunan juga akan dinikmati semua orang. "Tugas pemerintah adalah menginisiasi rencana dan menyelesaikan yang mangkrak," ucap Wasisto.

"Pembangunan-pembangunan tersebut kan dibiayai dari pajak yang otomatis tuk kepentingan hajat hidup orang banyak," tegasnya.

Hal yang menjadi perdebatan panas dinarasikan cebong versus kampret, menurut Wasisto adalah dampak dari polarisasi yang mengakar kuat sejak pertarungan Jokowi melawan Prabowo pada Pemilu 2014.

"Ya itu dampak dari polarisasi yang mengakar kuat paska-2014. Cara ubah pola pikir mungkin bisa ketika Gerindra masuk ke pemerintahan," pungkasnya.

 




Berita Lainnya

Cak Imin: Kalah Itu Memang Nggak Enak

17/06/2019 16:53 - Fani Fadillah
Kemukakan Pendapat


BOLA