Tuesday, 22 Oct 2019
Temukan Kami di :
Nasional

Denny JA Ungkap Kejanggalan Survei Litbang Kompas

Lukman Salasi - 21/03/2019 11:07

BeritaCenter.com – Survei Litbang Kompas terkait elektabilitas Jokowi dan Prabowo mendapat kritikan. Dari hasil surveinya, Litbang Kompas menyebut elektabilitas Jokowi kini berjarak 11,8% dari Prabowo.

Elektabilitas Jokowi, dalam rilis survei Kompas, sebesar 49,2% kemudian 37,4% untuk Prabowo. Responden yang merahasiakan pilihannya sebesar 13,4%. Survei ini digelar pada 22 Februari-5 Maret 2019 dengan melibatkan 2.000 responden yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi Indonesia. Margin of error survei ini plus-minus 2,2 persen dengan tingkat kepercayaan 95%.

Hasil survei Litbang Kompas kemudian mendapat kritikan dari Founder LSI Denny JA, Denny Januar Ali. Melalui akun Facebooknya, Denny JA mengkritisi metodologi dan mengungkap beberapa kejanggalan dalam survei tersebut.

"Walau dikabarkan menang, kecemasan datang di banyak kubu Jokowi. Kompas menggambarkan Jokowi belum di angka psikologis 50 persen (elektabilitas yang tidak diekstrapolasi). Jokowi juga digambarkan menurun trendnya, hampir di semua kantong pemilih. Walau dikabarkan kalah, harapan datang dari banyak kubu Prabowo. Tren Prabowo digambarkan menaik. Masih ada satu bulan lagi tren menaik itu terjadi untuk melampaui Jokowi," kata Denny JA di akun FB nya, Rabu (20/3/2019).

Metodologi dan cara menarik kesimpulan dari survei Litbang Kompas jadi sorotan utama. Menurut Denny JA, keterangan soal metodologi kurang lengkap. Kemudian dia membandingkan dengan survei yang diadakan sendiri.

"Tak ada keterangan dalam metodelogi misalnya, apakah survei menggunakan simulasi kertas suara atau tidak? Pemilih yang ditanya akan memilih siapa secara oral oleh peneliti, selalu mungkin memberi jawaban berbeda jika ia diminta melihat kertas suara yang ada foro pasangan Jokowi dan foto pasangan Prabowo," ungkapnya.

Denny juga kemudian mempertanyakan response rate atau responden yang bersedia menjawab. Denny JA menjelaskan bahwa survei yang memiliki response rate 95 persen (hanya 5 persen yang menolak menjawab) akan memberikan kualitas yang berbeda dengan survei yang memiliki response rate 45%.

"Pasti ada sejumlah responden yang menolak atau berhalangan. Terhadap mereka yang menolak, apakah dicari pemilih pengganti? Bagaimana cara memilih penggantinya? Tanpa panduan sistematis, response rate dapat membuat hasil survei tak akurat," papar Denny JA.

Denny JA menyoroti tidak adanya keterangan soal kontrol kualitas survei. Dia juga mempertanyakan cara Litbang Kompas menarik kesimpulan survei dan mempermasalahkan penyebutan margin of error plus minus 2,2 persen.

"Tapi Kompas menyatakan tren dukungan Jokowi menurun dari 52,6 persen menjadi 49,2 persen. Secara statistik itu kesimpulan yang salah. Jika margin of error plus minus 2,2 persen, maka ada rentang margin of error dari plus 2,2 persen dan minus 2,2 persen. Margin of error itu sebenarnya punya rentang 4,4 persen," ungkapnya.

Dia menganggap selisih elektabilitas Jokowi pada Oktober 2018 sebesar 52,6% menjadi 49,2% di Maret 2019 sebesar 3,4% masih di bawah margin of error 4,4%. Menurutnya, secara statistik hal itu tidak signifikan dikatakan turun.

Denny JA juga berpendapat kata tren tidak tepat diberikan ke dua data survei Litbang Kompas. Menurutnya harus ada minimal 3 waktu data.

Dia kembali mempertanyakan asumsi di survei Litbang Kompas yang menyebut dengan tambahan 6 persen, maka posisi Prabowo akan berubah dari runner up menjadi pemenang Pilpres. Baginya, kesimpulan itu salah.

"Kompas langsung berasumsi tambahan 6 persen pada Prabowo otomatis berarti berkurangnya 6 persen pada Jokowi. Jika Prabowo 37,4 persen ditambah 6 persen menjadi 43,4 persen. Jokowi berkurang 6 persen dari 49,2 persen menjadi 43.2 persen. Sim salabim, Prabowo unggul: 43,4 persen vs Jokowi 43,2 persen! Inipun kesimpulan yang salah secara statistik," ungkap Denny JA.

"Bertambahnya dukungan pada Prabowo, katakanlah 6 persen, tak otomatis dari dukungan Jokowi. Kompas sendiri menggambarkan ada suara yang belum menentukan pilihan sebanyak 13,4 persen. Bisa saja Prabowo bertambah 6 persen menjadi 43,4 persen, tapi Jokowi tetap 49, 2 persen karena tambahan Prabowo dari suara yang belum menentukan. Jokowi tetap menang!" sambungnya.

Denny JA mengatakan lembaga survei seperti LSI Denny JA, SMRC, Indikator, dan Charta Politika, mendapat hasil yang mirip. Elektabilitas Jokowi sekitar 52-58 persen dan Prabowo sekitar 30-35 persen. Dia lalu menyebut ada hal yang jadi titik lemah survei Litbang Kompas.

"Kurang memberi informasi soal metodologi dan problem teknis dalam membuat kesimpulan, itu yang bisa saya komentari. Itulah titik lemah display survei litbang Kompas," pungkas Denny JA.




Berita Lainnya

Sok Sibuk OTT, KPK Melupakan Kasus-Kasus Di Internalnya

21/10/2019 17:13 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA