Tuesday, 18 Jan 2022
Temukan Kami di :
Politik

Prabowo, Mafia Tanah yang Pura-pura Peduli Rakyat

Mereka tahu, Prabowo adalah contoh yang jahat. Perusahaan Prabowo menebang hutan seenak jidatnya. Membuat kerusakan yang tidak sedikit ditanggung oleh generasi selanjutnya. Konsesi itu diberikan sejak jaman Orde Baru dan jaman sesudahnya. Tapi mereka menutup mata atas kejahatan itu.

Sari Intan Putri - 18/03/2019 11:13

Beritacenter.COM - Saya setuju dengan Amin Mudzakir, peneliti LIPI yang mengatakan, bangsa ini sakit kronis. Prabowo jelas-jelas mafia tanah. Seorang aseng yang menumpuk harta untuk dirinya sendiri. Tuduhan yang sering ia lontarkan untuk menyerang etnisnya sendiri, Tionghoa.

Mereka tahu, Prabowo adalah contoh yang jahat. Perusahaan Prabowo menebang hutan seenak jidatnya. Membuat kerusakan yang tidak sedikit ditanggung oleh generasi selanjutnya. Konsesi itu diberikan sejak jaman Orde Baru dan jaman sesudahnya. Tapi mereka menutup mata atas kejahatan itu.

Dulu, Orde Baru mencaplok tanah yang statusnya masih eigendom. Tanah yang dibeli oleh warga keturunan Belanda. Sebagian mereka hanyalah pengusaha yang lahir di Nusantara, sama tidak diakuinya dengan pribumi Hindia Belanda bagi kerajaan Belanda.

Alasan pencaplokan itu untuk dikembalikan pada Negara. Tapi faktanya, tanah itu dibagi-bagikan begitu saja pada kerabat mereka. Bukan hanya tanah rampasan dari keturunan Belanda, Orde Baru juga merampas tanah adat/ulayat lengkap dengan hutan, gunung dan sungainya.

Prabowo adalah salah satu oknum penting Orde Baru. Bersama mantan istrinya Titiek, ia adalah juragan tanah haram itu. Konsesi ratusan ribu hektare yang jauh lebih luas dari luas wilayah Jakarta itu, entah bagaimana nasibnya. Biasanya, konsesi itu umurnya puluhan tahun. Bila hampir habis bisa diperpanjang lagi.

Jika ada bangunan di atasnya, tentu Prabowo akan dengan mudah mangkir. Paling tidak, ia akan minta ganti rugi. Padahal itu adalah tanah Negara.

Keserakahan Prabowo mencaplok tanah itu membuktikan jiwa tamaknya. Ia adalah sebenar mafia di dunia nyata. Tampangnya klimis. Orasinya berapi-api tentang kadilan. Tapi rakusnya bukan main.

Bukan hanya soal kuasa-menguasai tanah, Prabowo juga bergaya dikawal tentara sebagai bodyguardnya. Ia menjadi orang sipil yang berpenjagaan pasukan negara. Padahal jika tentara itu diperbantukan untuk mengawal jenderal yang purna tugas, Prabowo tak layak dimasukkan ke dalamnya. Karena ia tentara pecatan.

Sejarahnya yang kelam telah cukup untuk menyamakannya dengan Al Capone. Seorang mafia yang menampilkan wajah budiman di depan publik. Suka berderma. Padahal aslinya rakus dan bengis.

Lagak Prabowo sudah mirip god father saja. Gaya hidup mewah sejak kecil membuatnya tak mengenal arti kemiskinan. Bagi Prabowo, kemiskinan hanya mitos. Rakyat kecil berarti aset yang bisa dimanfaatkan. Sedangkan keadilan adalah, 'daripada dikuasai asing mending saya yang kelola.'

Sosok seperti Prabowo didaulat oleh khalayak sebagai calon pemimpin. Saya tidak habis pikir, apa tidak ada lagi manusia bersih di Indonesia ini untuk dilawankan Jokowi dalam Pilpres?

Orang ini selain dipecat dari kemiliteran, juga adalah penculik berdarah dingin. Tidak hanya itu, dia juga bagian dari rezim diktator Orde Baru yang menguasai tanah dan air yang menaungi hajat hidup orang banyak.

Seorang tuan tanah yang memiliki aset tidak wajar saat ia masih menjalani dinas ketentaraan. Dengan kata lain, ia bukan seorang patriot, apalagi nasionalis. Karena yang dia pikirkan hanyalah perutnya sendiri.

Patriot bagi Prabowo barangkali adalah berani menyerobot yang bukan haknya di luar batas kewajaran. Nasionalis baginya mungkin adalah menguasai tanah dalam skala nasional. Daripada asing mending saya, padahal itu sama jahatnya.

Bagaimana mungkin para pemujanya itu menutup mata dari semua bukti yang telah gamblang dan nyata. Tidakkah terdetik di hati mereka keraguan, lalu mencari pembenaran atas fakta-fakta di atas itu? Bukankah di dalam diri mereka juga terdapat hati.

Ke mana perginya akal sehat?

Bangsa ini sakit kronis. Saya kira kesimpulan itu sudah tepat. Sekumpulan orang lebih gemar memfitnah pihak lain, daripada membuktikan kekejian junjungannya. Mereka menolak kebenaran, sejelas apapun itu.

Pembodohan berpuluh-puluh tahun yang dilakukan Orde Baru membuat banyak orang tak mampu berpikir kritis. Jika Jokowi dianggap bermasalah, kurang sempurna, pilih yang lebih baik. Faktanya Prabowo jauh lebih buruk.

Mereka tertipu oleh tampang kolonial Prabowo yang disebut gagah. Ketika Prabowo naik kuda, bukankah itu mengingatkan pada jaman penjajahan Belanda? Tampang Prabowo tak lebih dari gambaran penjajah kompeni yang telah merampok tanah negara ini ratusan tahun lamanya. Tidak ada gagah-gagahnya.

Tidak ada satu pilihan idealpun ada dalam dirinya. Tapi mereka tetap mengelu-elukannya. Dari segi karier militer dia gagal. Bisnisnya merugi, ribuan karyawan perusahaannya tak dibayar. Keluarganya kacau-balau.

Ia hidup menyendiri di rumah mewahnya dengan kuda berharga miliaran. Bahkan yang miris, Prabowo tak punya optimisme. Hidupnya hanya dipenuhi bayang-bayang ketakutan dan kengerian. Dan itu yang dia terorkan ke orang lain.

Lebih buruk lagi, apa yang dia tuduhkan itu justru ia jalani sendiri. Prabowo mengatakan, Indonesia ini dikuasai segelintir orang. Ternyata dialah segelintir orang itu. Prabowo mengatakan, Indonesia dikuasai asing. Padahal adiknya, Hasyim, donatur utamanya, adalah kaki tangan pengusaha Yahudi, Rothschild.

Jika Prabowo adalah seorang pengusaha, ratusan ribu hektar tanah yang dikuasainya itu barangkali tidak terlalu menyakitkan. Tapi dia adalah calon presiden Indonesia. Jangan disamakan dengan Sinar Mas, Grup Wilmar, Grup Salim. Jelas beda jauh. Nasib Indonesia ada di tangannya.

Apa jadinya jika Prabowo berkuasa? Entah kengerian macam apa yang akan menimpa Indonesia. Berapa pulau yang akan dia kuasai? Berapa luas hutan yang akan dia babat habis?

Adakah dari mereka yang sedikit saja bisa berpikir?

Ditulis oleh : Kajitow Elkayeni




Berita Lainnya

Anies Versus Ganjar Diantara Prabowo Puan

17/01/2022 21:20 - Indah Pratiwi

Momen saling Hormat Prabowo Dan SBY

14/01/2022 14:14 - Anas Baidowi
Kemukakan Pendapat


BOLA