Tuesday, 26 Mar 2019
Temukan Kami di :
Nasional

Jadi Target Propaganda Delegitimasi Pemilu, Polri: Kami Habisi!

Lukman Salasi - 12/03/2019 07:44

BeritaCenter.com - Propaganda untuk mendelegitimasi Pemilu 2019 kian gencar dilancarkan melalui media sosial dengan memainkan banyak isu. Polri tak luput dari serangan propaganda tersebut.

Polri mengungkap keberadaan akun Twitter @opposite6890 sebagai salah satu contoh dengan memainkan isu e-KTP mulai dari penjualan blangko e-KTP secara online hingga tercecernya e-KTP. Akun itu juga menyerang Polri dengan tudingan tidak netral dalam Pilpres 2019.

"Agenda-agenda yang dimainkan adalah propaganda di media sosial. Dari bulan November-Desember (2018), yang diserang tentunya masih ingat tentang isu KTP elektronik, KTP elektronik terus di-framing dengan sasaran Kemendagri," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (11/3/2019).

Masuk di bulan Januari, muncul isu lain dengan beredarnya informasi mengenai 70 juta surat suara yang sudah dicoblos di nomor urut 01 dalam tujuh kontainer.

"Kemudian di bulan Desember (2018) sampai Januari (2019) munculkan lagi surat suara 7 kontainer, DPT, yang diserang KPU," sambung Dedi.

Menurut Dedi, Polri sudah memetakan propaganda di media sosial yang dilancarkan pada Januari dan Februari. Bawaslu juga mendapat serangan dengan isu netralitas Bawaslu.

"Januari, Februari, Maret, ini yang diserang isu Bawaslu terkait masalah case di berbagai wilayah, netralitas. Polri dalam hal ini terlibat langsung dalam pengamanan kontestasi pemilu. Pola-pola (propaganda) itu sudah kita mapping," sebut Dedi.

Dedi menegaskan Polri akan memberantas propaganda-propaganda di media sosial yang berupaya mendelegitimasi jalannya Pemilu 2019.

"Mereka itu dalam rangka delegitimasi. Ini akan merusak demokrasi di Indonesia. Kita akan secara tegas terus memberantas pelaku hoax. Polri secara profesional terus menekankan netralitas dalam kontestasi pemilu," ucap Dedi.

"Kami terus fokus memberantas kasus hoax atau propaganda di media sosial. Kami akan habisi itu," imbuh Dedi.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA