Monday, 17 Jun 2019
Temukan Kami di :
News

Kacau...! Selain Gak Bisa Sholat, Ternyata Prabowo Gak Bisa Sholawatan

Indah Pratiwi Budi - 11/03/2019 09:27

Beritacenter.COM - Melakukan sholawat bukankah itu adalah sebuah hal yang lumrah dilakukan oleh Prabowo sang pilihan ijtima ulama? Kenapa ketika diajak bersholawat bareng Nissa Sabyan, Prabowo menolak? Kenapa waktu diajak joget poco-poco di acara Natal, dia malah melakukannya dengan riang gembira?

Apakah ini menyatakan bahwa Prabowo itu…? Wah. Mungkin Nissa Sabyan juga lupa kalau dia itu dibayar untuk kampanyekan Prabowo, bukan malah rusak citra Prabowo di atas panggung. Harusnya sebelum manggung, Nissa Sabyan diberitahu terlebih dahulu, kalau capresnya gak bisa sholawat!

Memang dunia ini serba terbalik. Dunia ini serba konyol buat mereka yang tidak menyukai kebenaran. Mereka yang suka berbohong akan selalu terkena karma buruk dari bohong yang ia kerjakan. Coba bayangkan, Nissa Sabyan dengan grup Sabyan Gambus itu seharusnya melakukan kampanye untuk Prabowo.

Mereka dibayar profesional, tapi kenapa malah jadi merusak citra Prabowo? Bukankah seharusnya tim sukses itu menjadi orang yang menyukseskan dan membuat citra seseorang jadi bagus? Lantas mengapa orang ini malah dicitrakan jelek?

Karena kebenaran tidak bisa ditutupi. Fakta-fakta sejarah mengenai siapa Prabowo sebelum-sebelumnya, tidak pernah menjadi sebuah hal yang bisa dihilangkan. Apalagi Prabowo sudah tua dan berusia. Dia sudah tidak bisa melakukan sholawat kalau dari dulu tidak dibiasakan.

Nyanyian itu adalah sebuah seni. Tapi jiwanya jauh dari seni. Dia ini orang militer, dengan kehidupan yang serba keras. Dia bisa melakukan apapun. Dia bisa menyuruh bahkan Nissa Sabyan untuk menjadi timsesnya.

Tapi ketika Nissa Sabyan yang menjadi seorang millennials yang sering melakukan sholawat, sepanggung dengan sang mantan jenderal Kopassus yang dipecat tahun 1998, itu ibarat sebuah kesalahan. Loh? Kenapa kesalahan.

Begini penjelasannya. Nissa itu memiliki hobi bersholawat sambil berdendang lagu yang indah dengan gambusnya ala Timur Tengah yang sekarang mayoritas Muslim. Sedangkan Prabowo hobinya joget poco-poco dan Sajojo. Dari Manado dan Papua, yang mayoritas penduduknya itu beragama Kristen. Jadi kurang pas kalau mereka sepanggung. Berbeda dengan penulis.

Penulis pernah bercengkerama bersama teman-teman penulis yang beragama Islam. Mereka pernah satu kali menyanyikan lagu Debu, dengan gitar. Kita tahu Debu itu juga adalah grup Gambus yang suka menyanyikan lagu Islam. Penulis sih tidak tahu lagu-lagu Islam.

Karena teman penulis yang beragama Islam itu menyanyikan lagu Debu, penulis jadi tertarik sekali dengan lagu Debu, meski tidak bisa menyanyikannya dan tidak terlalu ingin juga sih. Lagu Nyawa dan Cinta bagus sekali itu.

Tapi penulis tidak menolak bernyanyi bersama mereka seperti yang Prabowo lakukan. Penulis dengan tubuh yang gempal, malah berdiri, ikut berjoget bersama-sama mereka. Kami hanyut dalam nikmatnya irama Timur Tengah yang penuh dengan minor-minor itu.

Dan sesekali penulis merebut gitar mereka, dan ikut mengiringi mereka sambil menggunakan sebuah feeling untuk mengiringi. Yang penting ada Am, Em, B. Udah pasti jadi! Dan ketika penulis mengajak mereka bernyanyi lagu berjudul “Hidup Ini Adalah Kesempatan”, mereka juga menikmati sambil mendayu-dayu.

Inilah toleransi. Kalau Prabowo seharusnya sesama agamanya dengan Nissa Sabyan, tidak perlu toleransi. Karena mereka sudah begitu dari sananya.

Berbeda dengan Jokowi. Jokowi ini bisa melakukan sholawat. Bahkan ada video mereka menyanyikan Sholawat di depan panggung, sambil tangan dikepal, dan dengan suara yang keras. Tidak perduli fals atau tidak. Yang penting ada niat dan semangat. Ini masalah mentalitas.

Jokowi memiliki keberanian melakukan sholawat, karena Jokowi sudah terbiasa. Jokowi sudah mahir. Jokowi juga memiliki latar belakang agama yang sangat baik. Jokowi belajar ngaji, bahkan mungkin Jokowi dirotan sampai bisa. Jokowi memiliki sebuah komunitas agama yang baik. Jokowi bisa bertoleransi. Jokowi juga mengundang para petinggi agama lainnya ke istana untuk berbincang.

Dia juga hafal Mars Ya Lal Wathan. Yuk kita simak.

Jokowi memahami betul permasalahan bangsa ini. Jokowi ingin menggunakan potensi bangsa yang begitu bervariasi dan ramai ini, untuk sebuah kebaikan bersama bagi bangsa ini. Diundang ke masjid, Jokowi jadi imam sholat.

Diundang ke acara-acara agama lainnya, Jokowi juga tidak masalah karena sebagai pemimpin dia harus menjamin kebebasan beragama. Diajak ke panggung Monas juga tidak masalah.

Jokowi pemimpin bagi semua. Jokowi sekali lagi. TKN harus terus menggali potensi mereka untuk mengembangkan konten mengenai Jokowi.

Begitulah satu-satu.

#JokowiLagi
Manuel Mawengkang

(seword/Beritacenter.COM)




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA