Thursday, 22 Oct 2020
Temukan Kami di :
Politik

TKN Soal Neno Tak Mau dengar Kritik 'Puisi Biadab': Ciri Orang yang Merasa Paling Benar!

Mbak Neno ciri orang yang merasa paling benar, yang tidak mau menerima kritik. Ciri orang yang hanya mikirkan diri sendiri, jadi dia berkomentar, bersikap tapi dia tidak memperhitungkan impactnya

Aisyah Isyana - 04/03/2019 14:12

Beritacenter.COM - Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf meminta Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Neno Warisman, introspeksi diri dan tak boleh sombong prihal pernyataan Buya Syafii Ma'rif yang menganggap puisi Neno biadab.

"Nggak boleh sombong seperti itu. Harusnya introspeksi diri," ungkap Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding kepada wartawan, Senin (04/03/2019).

Baca juga :

Dalam hal ini, Karding menyebut Neno sebagai ciri-ciri orang yang merasa benar sendiri, tanpa mau mendengar kritik. Menurutnya, Neno enggan menerima akibat dari statemen yang dilontarkannya terkait puisinya di Munajat 212 yang disebut Buya Syafii sebagai puisi biadab.

"Mbak Neno ciri orang yang merasa paling benar, yang tidak mau menerima kritik. Ciri orang yang hanya mikirkan diri sendiri, jadi dia berkomentar, bersikap tapi dia tidak memperhitungkan impactnya," kata Karding.

"Dia merasa semua yang dilakukan itu baik dan kebenaran. Itu ciri-ciri orang yang tertutup, mau menang sendiri. Orang yang tidak mengerti keadaan lingkungan sosialnya," imbuhnya.

Dia mengatakan, Neno seharusnya dapat menyadari jika puisi itu akan berdampak kotroversi. Karding menilai, seharusnya Neno dapat bijak untuk mendengarkan nasihat dan kritik dari orang, terlebih jika itu disampaikan seorang tokoh seperti Buya Syafii.

"Harusnya dia menyadari, apa yang dia omongkan itu kontroversial dan berdampak luas untuk masyarakat. Untuk itu harusnya sebagai orang yang bijak, harusnya mendengarkan. Apa nasihat, kritik dari orang lain, apalagi disampaikan oleh seorang tokoh agama, tokoh alim seperti Buya Syafii," sebut Karding.

Dia berpesan agar kedepannya semua pihak dapat lebih dewasa lagi dalam berpolitik dan tak membawa-bawa agama ke politik. "Jangan semua kita halalkan karena urusan politik, semua dikerjakan karena urusan politik, termasuk menggunakan agama, itu tidak boleh dan tidak baik," tuturnya.

Untuk diketahui, Buya Syafii menyebut puisi Neno di Munajat 212 sebagai puisi biadab. Dia melontarkan hal itu lantaran Neno dinilai telah mengancam Tuhan hanya karena ingin memenangkan Prabowo-Sandi di Pilpres 2019.

"Itu puisi, itukan sudah saya (jelaskan). Saya kemarin di Jakarta bicara ini puisi biadab. Biadab itu bahasa Persia, Bi itu artinya tidak, adab itu tata krama," kata Buya Syafii usai menghadiri bedah buku karyanya berjudul Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam' di Gedung Pascasarjana UMY, Jumat (1/3/2019).

"Ini dia membuat (membawa nama) Tuhan dalam Pemilu, itukan biadab, dan dia nggak ngerti agama. Neno itu nggak paham agama. Hanya pakai jilbab itu sebagai simbol (beragama), bukan jaminan dia mengerti agama," tegasnya.

Sementara prihal kritikan yang dilayangkan Buya Syafii, Neno tampak engga menanggapi dan mengaku tak mau mendengarkan. Neno beralasan hanya mendengar hal positif, namun tak jelas makna baik atau positif yang dimaksud Neno.

"Nggak, aku nggak mau dengar. Aku hanya mendengar hal-hal yang baik, yang positif gitu. Karena pikiran kita itu harus selalu diisi dengan hal yang positif dan aku menyukai sesuatu yang positif," jelas Neno.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA