Sunday, 15 Dec 2019
Temukan Kami di :
Internasional

Kamp Detensi Uighur di Xinjiang, China Didesak oleh Turki untuk Segera Ditutup

Abdurehim Heyit disebut-sebut telah menjalani vonis hukuman penjara selama delapan tahun di Xinjiang, wilayah di mana sekitar satu juta Uighur dilaporkan sedang ditahan di beberapa kamp detensi.

Sari Intan Putri - 10/02/2019 14:09

Beritacenter.COM - Saat ini Turki tengah mendesak pemerintah China untuk menutup sejumlah kamp detensi setelah muncul laporan jika seorang musisi ternama dari etnis minoritas Uighur di Xinjiang.

Abdurehim Heyit disebut-sebut telah menjalani vonis hukuman penjara selama delapan tahun di Xinjiang, wilayah di mana sekitar satu juta Uighur dilaporkan sedang ditahan di beberapa kamp detensi.

Kementerian Luar Negeri Turki menyebut satu juta Uighur "disiksa" Tiongkok di beberapa "kamp konsentrasi." Namun Beijing menyebut tempat semacam itu bukan kamp detensi, melainkan fasilitas re-edukasi.

"Sudah bukan rahasia lagi bahwa lebih dari satu juta Uighur Turks ditangkap secara acak dan juga disiksa serta dicuci otaknya dalam bidang politik di penjara. Mereka yang ditahan berada dalam tekanan tinggi," kata juru bicara Kemenlu Turki Hami Aksoy.

"Dimunculkannya kembali kamp konsentrasi di abad ke-21 dan kebijakan asimiasi sistematis otoritas Tiongkok terhadap Uighur Turks adalah hal memalukan bagi kemanusiaan," tambah dia. Kamp konsentrasi adalah istilah yang digunakan Nazi di era Perang Dunia.

Aksoy menambahkan kabar tewasnya Heyit semakin memperkuat reaksi publik Turki terhadap dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang. Ia menyerukan kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres untuk segera bertindak dan "mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengakhiri tragedi kemanusiaan."

Negeri Tirai Bambu mengklaim kamp detensi di Xinjiang adalah "pusat edukasi vokasi" yang didesain untuk membantu menghilangkan bibit-bibit terorisme di wilayah tersebut.

Berbicara tahun lalu, salah satu petinggi Xinjiang, Shohrat Zakir, mengatakan bahwa "para peserta" di kamp Xinjiang mengaku bersyukur dapat diberi kesempatan untuk "merefleksikan kesalahan mereka."

Perlu diketahui juga jika Heyit dalah musisi pemain Dutar, alat musik petik yang terkenal sulit untuk dikuasai. Dia mempelajari musik di Tiongkook, dan kemudian menggelar sejumlah pentas di berbagai tempat.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA