Wednesday, 08 Jul 2020
Temukan Kami di :
News

TKN Jokowi-Ma'ruf Minta Buni Yani Jantan Hadapi Eksekusi Jum'at Mendatang

Ahok juga sudah berani. Yang jantan saja, nggak usaah terlalu cengeng. Semua orang sudah mempertangggungjawabkan tindakannya, nggak usah terlalu didramatisasi menjadi (menyebut) pemerintahan yang otoritarian, yang seolah-olah dizalimi

Aisyah Isyana - 30/01/2019 20:47

Beritacenter.COM - Menanggapi prihaal eksekusi terhadap Buni Yani pada Jum'at, 1 Februari mendatang, Direktur Program TKN Jokowi-Ma'ruf meminta agar Buni Yani Bersikap kesatria. Menurutnya, Buni Yani harus jantan mempertanggung jawabkan segala tindakannya dan tidak mendramatisir penegakan hukum sebagai kriminalisasi.

"Ahok juga sudah berani. Yang jantan saja, nggak usaah terlalu cengeng. Semua orang sudah mempertangggungjawabkan tindakannya, nggak usah terlalu didramatisasi menjadi (menyebut) pemerintahan yang otoritarian, yang seolah-olah dizalimi," ujar Aria Bima usai mengkuti rapat bersama KPU juga BPN membahas persiapan debat capres kedua di gedung KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Rabu (30/1/2019).

Baca juga :

Aria menjelaskan, penegalkan hukum tak bisa diintervensi, mulai dari penanganan laporan, penetapan tersangka, hingga putusan di pengadilan. Bahkan, Aria mencontohkan Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok yang sudah jantan menjalani hukuman yang diputuskan.

"Termasuk Ahok kan sudah masuk penjara kan. Jangan ada desain begini lo akan mencaci maki pemilu itu sebagai arena panggung untuk saling hujat dan mencaci, fitnah sampai ada proses pelanggaran yang akhirnya setelah pelanggaran itu ditindaklanjuti, kita ngomong kriminalisasi," paparnya.

Sebelumnya, Buni Yani sendiri mengakui jika dirinya telah menerima salinan putusan kasasi dari Mahkamah Agung (MA). Dengan diterimanya salinan putusan itu, Buni Yani menyebut kasusnya telah inkrah.

"Dua hari yang lalu saya sudah mendapatkan panggilan dari Kejaksaan Negeri Depok, akan dilakukan eksekusi. Saya masuk penjara tanggal 1 Februari, hari Jumat lusa," kata Buni Yani saat memberikan sambutan di acara 'Aksi Solidaritas Ahmad Dhani' di kantor DPP Gerindra, Jl RM Harsono, Rabu (30/1).

Untuk diketahui, kasus yang menjerat Buni Yani bermula saat dirinya memposting potongan video Ahok ketika masih menjabat Gubernur DKI, 6 Oktober 2016 lalu. Video potongan itu berdurasi 30 detik, padahal video asli pidato Ahok berdurasi 1 jam 48 menit 33 detik.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA