Thursday, 25 Apr 2019
Temukan Kami di :
Kriminal

Polisi Gerebek Home Industry Kosmetik Berbahaya

Anas Baidowi - 14/01/2019 19:08

Beritacenter.COM - Jajaran Polres Mojokerto melakukan penggerebekan sebuah rumah yang dijadikan sebagai tempat produksi kosmetik ilegal di Kota Mojokerto, Sabtu(5/1). Seorang ibu rumah tangga Rahajeng Ratnasari alias Sari (29) ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini, namun tidak ditahan.

Dalam penggerabekan tersebut, polisi menyita sebanyak 350 kosmetik berbagai jenis, mulai dari sabun muka, krim pemutih, krim siang, krim malam, pelembab, lotion, krim pengencang kulit, dan toner pemutih kulit.

"Tersangka R ini sudah memproduksi kosmetik ilegal selam dua tahun," kata Sigit saat jumpa pers di kantornya, Jalan Bhayangkara, Senin(14/1).

Dalam operasinya, Sari menggunakan 2 modus untuk membuat kosmetik tanpa izin edar. Modus pertama adalah dengan membeli kosmetik yang sudah ada merknya, lalu kosmetik itu dicampur dengan air. Sehingga setiap kosmetik bisa dikemas ulagn menjadi 3 kemasan baru.

"Selain itu tersangka juga membeli bahan secara online, seperti sabun atau krim, kemudian disadur dan dikemas ulang oleh R dengan merk R Glow, merk buatan tersangka sendiri," terang sigit.

Selain tanpa izin edar, lanjut Sigit, kosmetik buatan Sari diduga berbahaya bagi kulit manusia. Menurut dia, kosmetik itu mengakibatkan efek iritasi pada kulit saat dicoba pada tangan salah seorang polwan Polres Mojokerto Kota.

"Secara umum hanya bisa melihat indikasi dampak negatif terhadap kulit, untuk spesifiknya kami tunggu hasil laboratorium di BPOM dan Labfor," terangnya.

Kosmetik buatan Sari, kata Sigit, dijual dengan harga bervariasi di Kota dan Kabupaten Mojokerto. Paling murah berupa sabun wajah dijual tersangka Rp 15 ribu. Sementara satu paket berisi krim siang dan malam, serta sabun wajah dibanderol Rp 100 ribu. Setiap harinya ibu satu anak itu meraup keuntungan Rp 200-300 ribu.

"Penjualannya dilakukan secara online dan juga door to door ke para kenalan tersangka," ungkapnya.

Akibat perbuatannya, Sari dijerat dengan Pasal 197 subsider Pasal 196 UU RI No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dan atau Pasal 62 ayat (1) juncto Pasal 8 ayat (1) dan Pasal 9 ayat (1) UU RI No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Hukuman penjara maksimal 15 tahun sudah menantinya.

Namun, polisi memilih tak menahan tersangka. Sigit berdalih, Sari tak akan melarikan diri maupun menghilangkan barang bukti. Selain itu, tersangka juga harus merawat anaknya yang masih kecil.

"Tersangka kami minta wajib lapor," tandasnya.




Berita Lainnya

Kepergok Pesta Sabu, 3 Oknum Polisi Ditangkap

24/04/2019 23:49 - Fani Fadillah
Kemukakan Pendapat


BOLA