Wednesday, 24 Apr 2019
Temukan Kami di :
Olahraga

Busuknya Persepakbolaan Indonesia, Tubuh PSSI Diselimuti Korupsi

Indah Pratiwi Budi - 12/01/2019 07:48

FOKUS : Sepak Bola

Beritacenter.COM - Bobroknya kasus persepakbolaan di tanah air bukan kali ini saja terjadi, bahkan kasus demi kasus sampai dugaan praktik pengaturan skor juga tampaknya sudah menjadi tradisi tersendiri bagi dunia jenis olahraga tersebut.

Sebut saja dalam kasus nyeleneh pertandingan sepak bola antara PSS Sleman dengan PSIS Semarang pada hari Minggu (26/10/2014) lalu.

Dimana dalam pertandingan yang dihelat di Stadion Sasana Krida, Sleman, Yogyakarta tersebut telah terjadi 5 (lima) gol bunuh diri yang dilakukan kedua tim itu.

Dimana dalam catatan sejarah yang ada dalam pertandingan tersebut, Gol untuk PSS diciptakan oleh pemain-pemain PSIS, yakni Fadly Manan (90) dan Koemadi (90 dan 90+3). Sementara itu, gol PSIS dihasilkan oleh gol bunuh diri pemain PSS, Hermawan (86) dan Agus Setiawan (88).

Tidak hanya itu, terlalu kentara sekali jika pertandingan tersebut hanya by design dan memang terdirect oleh sesuatu karena saat menit-menit terakhir, bola hanya dimainkan oleh masing-masing tim tanpa ada upaya saling menyerang. Bahkan di tengah-tengah pertandingan sempat ada penundaan pertandingan karena ada salah satu pemain yang mendadak terjatuh tanpa alasan dan pihak penyelenggara menyebut pemain tersebut mengalami cidera.

Selanjutnya usut punya usut, salah satu alasan yang terdengar dari nyelenehnya pertandingan dua kesebelasan tersebut karena alasan mereka tidak ingin bertanding melawan Borneo FC karena persoalan teknis.

Kondisi ini membuat Borneo FC meraih 10 poin dan unggul di peringkat dua seletah Martapura FC.

Kapolri Turun Tangan

Karena kasus pengaturan skor semacam itu makin marak dan dianggap menjadi momok tersendiri bagi dunia persepakbolaan tanah air, kini Kapolri Jenderal Polisi Muhammad Tito Karnavian menyatakan, pihak kepolisian akan membentuk satgas untuk menangani masalah pengaturan skor (match fixing) di sepak bola Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Tito dalam tayangan Mata Najwa episode PSSI Bisa Apa Jilid 2, Rabu (19/12/2018) malam.

"Melihat fakta-fakta yang ada, ini sudah waktunya bagi kepolisian untuk menangani masalah pengaturan skor," ujar Jenderal Tito.

Menurut Tito, masalah pengaturan skor yang terjadi dalam dunia sepakbola Indonesia sebenarnya sudah terjadi sejak lama.

Hanya saja, kurangnya bukti menjadi satu ganjalan kepolisian untuk mengungkap praktik kotor tersebut.

Ketegasan Kapolri dalam upaya pengungkapan dan penuntasan kasus pengaturan skor dan mafia bola itu, kini Satgas Antimafia Bola telah menangkap empat tersangka yakni Priyanto alias Mbah Pri, Anik Yuni Artikasari alias Tika, Tjan Lin Eng alias Johar dan Dwi Riyanto alias Mbah Putih.

Dwi Riyanto yang menjabat sebagai anggota Komisi Disiplin (Komdis) PSSI berperan sebagai perantara antara pemesan skor dengan wasit yang bisa diajak 'kompromi' dalam praktik pengaturan skor di pertandingan sepak bola.

"(Perannya) sama seperti tersangka J (Johar), sebagai broker, penerima dana," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (4/1/2019).

Sementara Johar berperan dalam menentukan klub di grup dan mengatur jadwal pertandingan.

Kemudian bersama Priyanto yang merupakan mantan anggota Komisi Wasit, Johar memilih sejumlah wasit yang bisa diajak 'kompromi' untuk sebuah pertandingan.

Sementara Anik yang merupakan anak Priyanto berperan mengumpulkan pembayaran biaya pengaturan skor pertandingan dari manajer yang ingin klubnya dimenangkan. Uang yang didapat kemudian dibagi-bagi dengan Priyanto dan Johar.

Keempat tersangka itu dijerat dengan dugaan tindak pidana penipuan dan/atau penggelapan dan/atau tindak pidana suap dan/atau tindak pidana pencucian uang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 372 KUHP dan/atau UU Nomor 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap dan atau Pasal 3, 4, 5, UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU. 

Pengembangan Kasus

Dalam rangka upaya pengembangan kasus tersebut, kini kepolisian juga tengah mengorek keterangan dari Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria.

"Ratu Tisha hadir dan lagi diperiksa oleh Satgas Antimafia Bola," terang Dedi juga.

Mafia Bola Rugikan Negara

Indonesia Corruption Watch (ICW) pernah menyampaikan catatan data atas dugaan korupsi dana APBN dan APBD di tubuh PSSI serta sejumlah klub Liga Super Indonesia (LSI).

ICW menduga, dana yang dikorupsi setiap tahunnya mencapai Rp 720 miliar. Angka itu dihitung dari dana yang disinyalir telah dikorupsi pengurus PSSI dan kepala daerah di seluruh wilayah Indonesia yang menjadi domisili klub sepak bola yang bernaung di bawah kompetisi PSSI.

Sekadar informasi, terdapat sekitar 30 klub Divisi Utama dan 18 klub LSI yang bermain dalam kompetisi yang digelar PSSI setiap tahunnya.

"Total kerugian 720 miliar," ujar peneliti muda ICW Apung Widadi kepada wartawan di Gedung KPK, Jakarta, Senin (10/1/2011).

Apung mengatakan, data dugaan korupsi PSSI tersebut sudah diserahkan ke KPK.

"Untuk wilayah Semarang diperkirakan ada kerugian negara tahun 2004 hingga 2009 sebesar Rp2,5 miliar," ungkapnya.

Modus yang digunakan dalam korupsi PSSI beragam dan selalu berganti setiap tahunnya.




Berita Lainnya

Presiden Jokowi Batal Nonton Arema vs Persebaya

12/04/2019 12:42 - Indah Pratiwi

Komunitas Olahraga Dukung Jokowi Dua Periode

07/04/2019 20:50 - Anas Baidowi

Khabib Nurmagomedov Batal Datang ke Indonesia

28/03/2019 00:27 - Fani Fadillah
Kemukakan Pendapat


BOLA