Wednesday, 27 Mar 2019
Temukan Kami di :
News

Rentetan Skandal Persepakbolaan Indonesia, Suap Ditubuh PSSI Hingga Wasit

Aisyah Isyana - 12/01/2019 04:05

Beritacenter.COM - Sepak bola Indonesia kian tercoreng dengan adanya sejumlah kasus suap maupun rentetan dugaan adanya pengaturan skor yang disebut turut melibatkan petinggi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Guna mengusut adanya dugaan skandal pengaturan skor dalam sepakbola, pihak kepolisian bahkan membentuk Satgas Anti-Mafia Bola. Sejatinya, kejanggalan-kejanggalan dan penyakit lama dalam sepak bola Indonesia memang sudah terjadi sejak lama.

Baca juga :

Berikut sejumlah kasus dan skandal dalam dunia sepak bola Indonesia :

1. Petinggi Klub Todongkan Pistol ke Wasit

Kristian Adelmund, spesepakbola yang pernah merumpun bersama Persela Lamongan dan PSS Sleman, buka bukaan dengan media asal Belanda. Aldemund yang mengaku sangat jatuh hati dengan atmosfer sepakbola Indonesia, sempat mengungkap borok sepakbola Indonesia.

"Semuanya berjalan baik dan para fan sangat menghargai saya, namun tiba-tiba saya dibuang tanpa belas kasihan," kata Adelmund dikutip BolaSport.com dari Vice Sports.

Menurut Aldemund, korupsi menjadi masalah utama dalam sepakbola Indonesia. "Meski keadaan saat ini sudah membaik, korupsi tetap jadi masalah utama di sepak bola Indonesia."

"Sebagai contoh, saya pernah melihat bos lawan datang ke ruang ganti wasit dengan membawa pistol," ujar bek berusia 30 tahun tersebut.

"Anda tak perlu heran dengan hal seperti itu di Indonesia."

Baca juga : Kasus Pengaturan Skor Diduga Ada Perjudian Dibaliknya

2. PSSI Diduga Korupsi Rp 720 M per Tahun

Indonesia Corruption Watch (ICW) mengeluarkan data atas dugaan korupsi dana APBN dan APBD di tubuh PSSI serta sejumlah klub Liga Super Indonesia (LSI). ICW bahkan menyebut, dana yang diduga dikorupsi mencapai Rp720 miliar.

Angka itu dihitung dari dana yang disinyalir telah dikorupsi pengurus PSSI dan kepala daerah di seluruh wilayah Indonesia yang menjadi domisili klub sepak bola yang bernaung di bawah kompetisi PSSI.

Untuk diketahui, terdapat sekitar 30 klub Divisi Utama dan 18 klub LSI yang bermain dalam kompetisi yang digelar PSSI setiap tahunnya.

"Total kerugian 720 miliar," ujar peneliti muda ICW Apung Widadi kepada wartawan di Gedung KPK, Jakarta, Senin (10/1/2011).

"Untuk wilayah Semarang diperkirakan ada kerugian negara tahun 2004 hingga 2009 sebesar Rp 2,5 miliar," ungkapnya.

Kala itu, Apung menyebut data dugaan korupsi PSSI telah diserahkan ke KPK. Menurutnya, modus yang digunakan dalam korupsi PSSI beragam dan selalu berganti setiap tahunnya.

Enggan mengungkap data itu ke publik, Apung mengaku ICW akan terlebih dahulu melakukan studi kasus sebelum mengungkap data-data tersebut. "Kita akan lakukan studi kasus dugaan korupsi PSSI di 10 daerah lainnya," ungkapnya.

Baca juga : Tahan Johar Lin Eng, Eks Komisi Wasit dan Anaknya, Polisi Juga Periksa Komdis PSSI Mbah Putin

3. Citra Buruk Wasit dalam sepakbola Indonesia

Nasiruddin, yang merupakan mantan wasit Indonesia terbukti terlibat skandal pengaturan skor di ajang SEA Games 2015 di Singapura. Biro Investigasi Praktik Korupsi Singapura hanya butuh waktu kurang dari dua bulan untuk mengungkap nama Nasiruddin sebagai sosok yang terlibat pengaturan skor di ajang SEA Games.

Rupanya, keterlibatan Nasirudin dalam praktik match-fixing atau pengaturan skor tidak hanya kali itu saja. Pasalnya, Nasirudin juga terbutkti melakukan pengaturan skor di SEA Games 1997 di Jakarta. Dalam kasus ini, nama Djafar Umar yang menjabat Wakil Ketua Komisi Wasit PSSI pada 1998 disebut turut terlibat.

Terbukti menerima suap dan mendapat larangan aktif di sepak bola selama 20 tahun, rupanya tak membuat Nasiruddin kapok. Dia terjerat kasus yang sama dan divonis 30 bulkan penjara oleh pengadilan Singapura.

Nasiruddin terjerat kasus pengaturan skor saat pertandingan babak penyisihan SEA Games 2015 di Singapura, antara Malaysia dan Timor Leste pada 30 Mei. Dia disebut bersekongkol dengan dua orang lain untuk menyuap direktur teknik Timor Leste, Orlando Marques Henriques Mendes, agar kalah dari Malaysia.

4. Sepak Bola Gajah PSIS Semarang Vs PSS Sleman

Pertandingan Divisi Utama antara PSS Sleman dan PSIS Semarang di Stadion Sasana Krida, Sleman, Minggu (26/10/2014), kembali mencoreng sepakbola Indonesia. Pasalnya, terjadi lima gol bunuh diri dalam pertandingan tersebut.

Gol bunuh diri itu diciptakan oleh kedua tim, yakni oleh pemain PSIS, Fadly Manan (90), dan dua dari Koemadi di menit (90 dan 90+3). Sementara itu, gol PSIS dihasilkan oleh gol bunuh diri pemain PSS, Hermawan (86) dan Agus Setiawan (88).

Pertandingan yang diwarnai gol bunuh diri itu akhinya dimenangkan oleh PSS Sleman, lewat gol bunuh diri pemain PSIS, Koemadi. Pertandingan yang sarat akan gol bunuh diri itu disebut dilantarai lantaran kedua tim tak mau menang untuk menghindari Borneo FC pada babak semifinal, dengan alasan faktor nonteknis yang kental disana.

5. Mantan Exco PSSI Hidayat Terbukti Suap

Mantan anggota komite eksekutif (Exco PSSI) Hiadayat, terbukti melakukan upaya suap dengan menawarkan sejumlah uang dengan klub liga 2 Madura FC. Fakta itu terungkap berdasarkan sidang Komite Disiplin PSSI pada Sabtu-Minggu, 1-2 Desember 2018 di Jakarta, yang secara resmi diumumkan pada Rabu (5/12/2018).

Pasca terungkapnya keterlibatan Hidayat dalam dugaan pengaturan skor (match fixing), dia langusng mengundurkan diri dari anggota komite eksekutif PSSI. Meski sempat menyangkal terlibat dalam dugaan tindak pengaturan skor, Hidayat mengakui jika dirinya melakukan kesalahan dengan menjalin komunikasi dengan pihak klub kala itu.

"Saya menyadari apa yang saya lakukan tidak seharusnya dilakukan oleh anggota Exco," tutur Hidayat ketika itu.

Dalam kasus ini, Komite Disiplin melarang Hidayat beraktivitas di dunia sepak bola selama tiga tahun dan wajib membayar denda sebesar Rp150 juta. Selain itu, Hidayat juga tidak diperkenankan memasuki stadion selama dua tahun.

6. Pengatura skor Liga 3 Libatkan anggota Exco PSSI Johar Lin Eng

Anggota Komite Eksekutif (Exco PSSI) Johar Lin Eng) diamankan Satgas Anti Mafia Bola di Bandara Halim Perdanakusuma, Kamis (27/12/2018). Penangkapan terhadap Johar dilakukan atas dugaan adanya praktik pengaturan skir di Liga 3 2018.

"(Diduga mengatur pertandingan) Liga 3. (Pertandingan) Di Jawa Tengah," kata Ketua Tim Media Satgas Antimafia Bola Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya.

Tak lama berselang usai penangkapan Johar, Satgas Anti Mafia Bola kembali mengamankan dua tersangka lainnya, yakni mantan anggota komisi wasit Priyono dan anaknya, Anik Yuni Artika. Johar, Priyoni dan Anik, diduga terlibat dalam pengaturan skor di Liga 2 dan Liga 3.

"Peran dari pada J ini dia kan di Jawa Tengah dia bisa menentukan klub di kelompok mana, misalnya klub delapan, klub ada 4 grup dia bisa menentukan, yang dia pilih, yang sudah komunikasi dengan dia, ditaroh di grup yang ringan, dia bisa juga menentukan hari apa mainnya, jam berapa mainnya, ada semua dia," kata Argo.

Argo mengatakan, Johar berkoordinasi dengan Priyanto selaku mantan anggota komisi wasit. Keduanya disebut dapat menentukan wasit yang akan memimpin sebuah pertandingan.

"Kemudian dari J ini dia menyuruh komunikasi ke P, P mantan komisi wasit, P tahu, artinya ada 35 wasit, jadi dia tahu, tidak semua wasit bisa diajak kompromi, tetapi tertentu saja yang diajak sama dia, jadi kalau klub sudah komunikasi dengan dia tinggal ditentukan wasitnya siapa," ujar Argo.

Sementara Anik yang merupakan anak dari Priyatno, berperan sebagai perantara untuk menyalurkan uang dari manajer klub. Nantinya, uang yang didapat kemudian akan dibagi-bagikan dengan Priyatno dan Johar.

"Nah kemudian untuk tersangka A, anaknya wasit futsal, peranannya asisten dari pelapor di Banjarnegara, dia menerima juga uang dari pelapor, intinya setiap pertandingan mengeluarkan uang, Rp 100 juta sampai Rp 200 juta di sana dibagi yang terima si A, nanti dia dikirim ke P nanti ngirim ke J," ujarnya.

7. Petinggi PSSI Diduga Terlibat Suap Penunjukan Tuan Rumah di Kompetisi U-18

Petinggi PSSI berinisial IB dilaporkan ke Satgas Anti-Mafia Bola atas dugaan suap penunjukan tuan rumah delapan besal Piala Soeratin 2009. Seseorang bernisial H juga turut dilaporkan dalam kasus tersebut.

Pengakuan itu dibuat oleh mantan manajer Perseba Super Bangkalan, Imron Abdul Fatah. Dia mengaku, diminta uang sebesar Rp 140 juta agar Bangkalan dapat tetap menjadi tuan rumah ajang kompetisi U-18. Tidak langsung, tapi menjadi beberapa termin.

Adapun petinggi PSSI berinsial IB yang dimaksud Imron, saat itu diketahui menjabat Ketua Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI). Laporan ke Satgas Anti Mafia Bola itu dilakukan, Senin (7/1) malam.

"Waktu delapan besar saya mau dibatalkan (sebagai tuan rumah), mau 'dibuang' (dipindah) ke Persib," kata Imron di Jakarta, Selasa (8/1/2019).

"Jadi saya ditelepon Pak IB 'ini (tuan rumah) harus pindah ke Persib', kemudian saya diminta telepon ke H," ujar dia.

Salah satu faktor penentu kesuksesan tim di kompetisi, tak lain adalah dukungan langsung penonton di Stadion. Dukungan suporter diyakini dapat memacu semangat juang pemain dan membuat pemain lawan demam panggung. Untuk itulah, faktor menjadi tuan rumah dinilai sangat penting dalam sebuah kompetisi.

Imron berharap Satgas Anti Mafia Bola dapat mengusut tuntas kasus tersebut. "Ya alasannya gini, bola ini sekarang ini sudah (ada) Satgas Anti Mafia Bola. Ini kan harapan terakhir buat kita. Sudah nggak ada harapan lagi memperbaiki bola," tutur Imron.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA