Wednesday, 27 Mar 2019
Temukan Kami di :
News

Pengamat: Pelaku Hoax Adalah Mantan Aktivis

Anas Baidowi - 11/01/2019 12:46

Beritacenter.COM - Pengamat politik, Adi Prayitno menilai bahwa ada beberapa cara agar hoax dapat diminimalisir dengan baik. Salah satunya adalah dengan peningkatan penegakan hukum.

Menurut Adi, tidak cukup hanya memenjarakan pelaku pembuat dan penyebar hoax saja, justru aplikatornya pun harus diatur agar tidak menjadi ladang penyebaran konten berita bohong itu.

"Bagaimana pemerintah memberlakukan media sosial yang berkontribusi menyebarkan hoax itu kena sanksi. Misal Facebook, IG, Youtube dan sebagainya ikut didenda. Kan ini sebatasnya hanya pelaku saja, tapi yang disebarkan masih banyak. Cabut dong ijinnya tapi dengan graduationnya ada peringatan 1, 2 dan 3," kata Adi di bilangan Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (10/1/2019).

Baca Juga: Waspadalah....! Tabloid "Hoaks" Obor Rakyat, Akan Eksis Kembali Menjelang Pilpres 2019...

Ia juga menuding sejauh ini narasi hoax banyak diproduksi oleh mereka yang sangat paham konstalasi politik saat ini.

"Pelaku-pelaku hoax dalam negeri sekarang itu ya mantan-mantan aktivis kita yang paham betul konstalasi politik kita," ujarnya.

Apalagi saat fenomena hoax paling masyhur di sepanjang 2018 adalah wajah remuk Ratna Sarumpaet. Dimana banyak sekali para aktivis muncul ke permukaan dengan melakukan tudingan bahwa aktivis perempuan itu telah direpresif oleh rezim pemerintahan Jokowi-JK.

Bahkan sampai Hanum Rais yang mengaku sebagai dokter yang menyebutkan jenis luka yang dialami oleh oleh Ratna adalah bekas pukulan berdasarkan pemeriksaan langsung di hadapan Prabowo Subianto dan Amien Rais.

Namun sayangnya, tak butuh waktu lama Kepolisian berhasil membongkar peristiwa real dari kasus mengapa wajah Ratna lebam-lebam. Ternyata itu hanya bekas sayatan operasi sedot lemak wajah yang dilakukan Ratna di Rumah Sakit Khusus Bedan Bina Estetika, Menteng, Jakarta Pusat.

Menurut Adi, hoax Ratna Sarumpaet tersebut tujuannya jelas untuk menyerang Jokowi sebagai petahana dalam Pilpres 2019, namun terlanjur gagal total.

"Ada emak-emak dihancurkan mukanya, siapa yang diserang ya tentu pemerintah," tegasnya.

Terakhir, Adi yang juga peneliti dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah itu menyebutkan sejauh ini hoax masih sangat masif terdapat di jejaring media sosial. Hal ini lantaran konsentrasi publik untuk melihat informasi cenderung bergeser dari media mainstream ke media sosial.

"Kenapa hoax masif di medsos, karena media mainstream dianggap sudah partisan," tutupnya.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA