Monday, 16 Sep 2019
Temukan Kami di :
Nasional

Hoax! Prabowo Tuding Utang Pemerintah Untuk Impor Pangan, Ini Faktanya

Lukman Salasi - 01/12/2018 12:25

BeritaCenter.com – Prabowo Subianto menuding pemerintah utang hanya untuk impor pangan yang dianggapn merugikan rakyat ditengah melimpahnya sumber daya alam yang dipunya bangsa Indonesia.

"Utang kita bukan digunakan untuk meningkatkan produksi kita, tapi ternyata malah uang utang kita digunakan untuk impor, impor, impor (bahan) pangan yang malah merugikan rakyatnya sendiri," katanya saat berpidato di Sasana Hinggil, Keraton, Kota Yogyakarta, Rabu (28/11/2018).

Benarkah demikian? Pemerintah dengan tegas menyanggah tudingan Prabowo tersebut. Ditegaskan Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Nufransa Wira Sakti, utang yang diambil pemerintah tidak pernah digunakan untuk impor.

"Utang tidak digunakan untuk membiayai impor bahan pangan. Utang pemerintah digunakan untuk membiayai defisit APBN," katanya, Sabtu (6/10/2018).

Kementerian Keuangan mencatat defisit anggaran per Oktober 2018 mencapai Rp 237 triliun atau 1,6% dari PDB. Defisit berasal dari selisih pendapatan negara Rp 1.483,86 triliun dan belanja negara sebesar Rp 1.720,84 triliun.

Menurutnya, utang justru digunakan untuk kegiatan yang bersifat produktif. Di antaranya untuk membangun infrastruktur, mendukung sektor pendidikan, hingga ke sektor kesehatan.

"Penggunaan utang adalah untuk membiayai kegiatan yang bersifat produktif, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan," paparnya.

Hal tersebut dibuktikan dari belanja APBN, di mana kebutuhan untuk sektor di atas mengalami peningkatan.

"Hal ini tercermin dalam angka APBN di mana belanja untuk kegiatan produktif semakin meningkat bila dibandingkan dengan belanja untuk kegiatan non produktif seperti subsidi BBM dan subsidi listrik," tambahnya.

Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan juga menyanggahnya. "Negara kita nggak miskin-miskin amat," kata dia di kantornya Jakarta, Jumat (30/11/2018).

Kemudian, Luhut menerangkan, rasio pajak (tax ratio) Indonesia saat ini 12%. Penerimaan negara, ujar Luhut, sebesar 83,5% dari pajak.

"Tax ratio kita 12%, artinya apa, penerimaan APBN itu mereka nggak tahu, atau pura-pura nggak tahu 83,5% dari pajak. Kita nggak ada masalah soal financing," jelasnya.

Keuangan negara juga telah dikelola dengan baik. Luhut bilang, pihak Bank Dunia sendiri telah memuji pengelolaan keuangan Indonesia.

"Orang World Bank mengatakan kita punya state budget sangat kredibel sangat mumpuni. Jadi kalau ada yang ngomong kita utang bertumpuk, orang malah bilang utang kalian sedikit kali. Kita salah satu utang paling rendah dunia. Jadi nggak betul itu. Asbun aja itu," tutup Luhut.

 




Berita Lainnya

Pimpinan KPK yang Kekanak-kanakan

16/09/2019 13:58 - Lukman Salasi
Kemukakan Pendapat


BOLA