Monday, 10 Dec 2018
Temukan Kami di :
Ekonomi

Bank Dunia Bantah Pernyataan Prabowo Subianto

Anas Baidowi - 12/11/2018 16:51

Beritacenter.COM - Bank Dunia menepis pernyataan Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto terkait 99 % masyarakat Indonesia hidup pas-pasan. Lead Economist Bank Dunia Vivi Alatas mengatakan, data tersebut bukan berasal dari Bank Dunia.

"Itu bukan perhitungan kami, saya tidak tahu perhitungan siapa," kata dia dalam seminar Indonesia Economic Outlook 2019 di Universitas Indonesia,Depok, Senin (12/11).

Lebih lanjut, Vivi menjelaskan, dari perhitungan Bank Dunia, masyarakat Indonesia yang masuk golongan miskin sekitar 9% dari total penduduk. Angka itu sesuai survei Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2018 bahwa jumlah masyarakat miskin 9,82% dari total penduduk atau sebanyak 25,95 juta orang.

Jumlah tersebut menurun sekitar 630 ribu orang dibandingkan survei sebelumnya pada September 2017 yang sebanyak 26,58 juta orang atau 10,12% dari total penduduk.

Data Bank Dunia menunjukkan sebanyak 22% masyarakat Indonesia masuk golongan kelas menengah. Kemudian, "Masyarakat sparing middle class yang sudah tidak miskin dan tidak rentan 45%," ujarnya.

Sebelumnya, Prabowo menyatakan, hanya 1% masyarakat yang menikmati kekayaan Indonesia. Sedangkan 99% masyarakat saat ini hidupnya pas-pasan. Ketua Umum Partai Gerindra ini menyebut fakta tersebut diakui oleh Bank Dunia. "Ini bukan angka Prabowo Subianto," kata dia, saat menghadiri Deklarasi Emak-emak Binangkit relawan Prabowo-Sandi di Bali, Oktober lalu.

Pernyataan tersebut pun sempat dikomentari Presiden Joko Widodo. "Ada yang ngomong 99% rakyat hidup miskin dan pas-pasan. Angka dari mana?" kata Jokowi, Minggu, (11/11). Ia pun mengutip penurunan tingkat kemiskinan sesuai data BPS.

Selain itu, Jokowi menunjuk angka penjualan kendaraan mobil yang mencapai 1,1 juta unit tiap tahun. Sedangkan penjualan sepeda motor sebanyak 6,5 juta unit per tahun. Hal tersebut menandakan masyarakat memiliki uang untuk membeli kendaraan. "Beli motor dan mobil kan pakai uang."

Ia juga menyinggung soal perbaikan tingkat ketimpangan ekonomi yang tercermin dari rasio gini yang tahun ini sebesar 0,389. Padahal, pada tahun 2015 lalu rasionya masih 0,41. Maka itu, ia meminta agar argumentasi tidak asal diucapkan.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA