Wednesday, 14 Nov 2018
Temukan Kami di :
Ekonomi

Rupiah Kian Perkasa, Ini Penyebabnya

Lukman Salasi - 07/11/2018 13:20

BeritaCenter.com - Tekanan terhadap pasar finansial di sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia berangsur mereda. Hal ini tampak dari arus modal yang kembali masuk ke pasar obligasi maupun saham.

Memasuki kuartal-IV 2018 atau sepanjang pekan lalu, arus modal asing tercatat beli bersih (net buy) Rp 1,3 triliun di pasar saham. Sementara di pasar obligasi, arus modal Rp 5,86 triliun.

Berdarkan data RTI, penguatan rupiah terhadap dola AS mulai meningkat ke posisi Rp 14.758 per hari ini.

Bahkan, rupiah menjadi mata uang terkuat di Asia. Dari data RTI penguatan rupiah mencapai 0,31%, kemudian Korean Won menguat 0,29%, Japanese Yen 0,25%, Peso Filipina 0,15%, Thailand Baht 0,12%, Indian Rupee 0,06% dan Malaysian Ringgit 0,14%.

Berdasarkan data Reuters pukul 11.58 WIB, nilai dolar AS berada di kisaran Rp 14.600an yakni Rp 14.669.

Direktur Strategi Investasi dan Kepala Makroekonomi PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat, menyatakan arus modal asing kembali masuk (capital inflow) karena sentimen investor terhadap negara berkembang menjadi lebih baik dan valuasi pasar negara berkembang sudah murah.

"Investor masih yakin akan fundamental ekonomi Indonesia yang stabil. Meski terseret sentimen negatif, sebagai negara berkembang, Indonesia menunjukkan indikator ekonomi yang relatif kuat. Penerimaan pajak hingga September lalu tumbuh 17%, menunjukkan Pemerintah masih mampu membiayai anggaran negara secara internal. Di samping itu, data domestik seperti penjualan mobil dan motor membaik. Kredit perbankan hingga September 2018 tumbuh 12,6% yoy," ungkap Budi Hikmat dalam keterangannya, Senin (5/11/2018).

Selain itu, valuasi Indonesia telah dianggap murah, dimana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi 7,07% sejak awal tahun (ytd). Sementara yield obligasi mencapai 8,29% per tahun, yang artinya investor bisa memperoleh return di obligasi sebesar 8,29% per tahun.

"Koreksi di pasar saham yang cukup dalam membuat valuasi valuasi IHSG dan saham menjadi menarik. Investor pun mulai kembali untuk masuk ke pasar saham dan obligasi," tambah Budi.

Sementara, mata uang rupiah menguat terhadap dolar AS, tertopang dari harga minyak yang melemah, sehingga meringankan biaya impor minyak.

"Defisit neraca minyak tetap menjadi masalah utama dari defisit neraca dagang alias current account deficit (CAD). Untuk itu, langkah Pemerintah untuk implementasi B20 sebagai bahan bakar alternatif harus segera diimplementasi.

Rupiah juga menguat dengan hembusan 'angin segar' dari resolusi dari konflik dagang AS dengan Cina, meski tak sepenuhnya bisa memberi keyakinan pada pasar sebelum terealisasi. Mengutip Reuters, Trump dan Xi akan bertemu di sela pertemuan para pemimpin G20 untuk membahas perang dagang, pada akhir November, di Buenos Aires, Argentina.




Berita Lainnya

Kembali Tertekan, Rupiah Dekati Rp14.900/USD

13/11/2018 09:21 - Fani Fadillah

Bank Dunia Bantah Pernyataan Prabowo Subianto

12/11/2018 16:51 - Anas Baidowi
Kemukakan Pendapat


BOLA