Monday, 30 Nov 2020
Temukan Kami di :
Nasional

MUI : Harusnya Bendera Tauhid Tidak Digunakan Sebagai Identitas Kelompok Tertentu

Anas Baidowi - 23/10/2018 13:54

Beritacenter.COM - Majelis Ulama Indonesia (MUI) sangat menyayangkan pembakaran bendera dengan lafaz tauhid oleh oknum berseragam Banser saat Hari Santri Nasional (HSN) di Garut Jawa Barat.

MUI memastikan bahwa bendera itu bukan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) karena tidak ada tulisan HTI dalam bendera yang dibakar oknum Banser.

Baca Juga : Bukti Jokowi Cinta Ulama dan Santri

"Karena tidak ada tulisan Hizbut Tahrir Indonesia, maka kita menganggap itu kalimat tauhid. Jadi memang dalam sejarah ada versi kalimatnya yang latarnya putih dan ada yang hitam. Dua-duanya itu adalah bendera Rayah dan Liwa di zaman Rasulullah SAW," kata Wakil Ketua MUI, Yunahar Ilyas di Kantor MUI, Selasa (23/10).

MUI sangat menyayangkan peristiwa itu, Menurut Yunahar, semestinya bendera Ar Rayah dan Liwa ini tidak digunakan sebagai identitas kelompok tertentu.

"Karena ini menjadi milik umat Islam sedunia. Saya tadi ngomong-ngomong mestinya ini organisasi kerja sama Islam atau OKI mempatenkan, sehingga di manapun menjadi milik kita bersama, tidak boleh menjadi milik kelompok atau partai," Tuturnya.

Baca Juga : Terkait Berita Bocornya Dana Pembangunan, BPK : Tak Ada Proyek Infrastruktur Jokowi yang Mangkrak

Menurut Yunahar, jika sebuah kelompok ingin menggunakan bendera tersebut, maka harus di desain secara berbeda. Tidak boleh sama persis dengan Ar Rayah atau Liwa.

"Kalau menjadi milik partai atau kelompok, harus ada desain yang berbeda atau warna yang berbeda. Tidak persis mengkopi seperti di dalam sejarah," kataYunahar

 




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA