Friday, 20 Sep 2019
Temukan Kami di :
Teknologi

Kisah Perjuangan Keras dan Harta Pendiri Gojek, Bukalapak, Traveloka dan Tokopedia

Lukman Salasi - 23/10/2018 11:33

BeritaCenter.com – Startup asal Indonesia mulai mendunia dengan adanya Go-Jek, BukaLapak, Traveloka dan Tokopedia yang disebut sebagai startup yang berstatus unicorn asal Indonesia.

Bukan perkara gampang bagi para pendirinya berjuang untuk membuat startup buatannya bisa populer dan sebesar sekarang. Serta menjadikan mereka masuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia. Berikut ini adalah sekelumit kisah perjuangan keras dan perkiraan harta kekayaan mereka.

1. Nadiem Makarim, Pendiri Go-Jek

Salah satu majalah bisnis di Asia belum lama ini merilis daftar 150 orang terkaya di Indonesia. Di dalamnya, terselip salah satu sosok di dunia teknologi dalam negeri. Ia adalah Nadiem Makarim.

Berdasarkan laporan Globe Asia, pria berdarah Arab itu memiliki kekayaan senilai USD 100 juta. Hal ini membuatnya sukses bertengger di urutan 150 dalam daftar tokoh-tokoh terkaya di Indonesia.

Sebagaimana diketahui, Nadiem merupakan pendiri sekaligus CEO dari Go-Jek. Startup itu juga yang mengantarkannya meraup kekayaan triliunan rupiah. Tentunya, pencapaiannya itu tak serta merta didapatnya secara instan.

Semua bermula saat ia kembali ke Indonesia setelah menuntaskan pendidikannya di Brown University, sebuah kampus di Rhode Island, Amerika Serikat, yang dilanjutkan kuliah pasca sarjana di Harvard Business School dan meraih gelar Master of Business Administration. Patut diingat, ia tak langsung mendirikan Go-Jek saat kembali ke Tanah Air.

Pada saat itu, Nadiem sempat bekerja sebagai konsultan. Kemudian, pada 2011, barulah ia merintis sebuah start up bernama Go-Jek. Di masa-masa awalnya, layanan tersebut yang memanfaatkan fitur SMS pada ponsel. Lalu, Go-Jek mulai mendapat perhatian besar sejak peluncuran aplikasinya di ponsel Android dan iOS pada awal 2015.

Kegemarannya menggunakan layanan ojek untuk menembus kemacetan Jakarta memancing terbersitnya ide agar memudahkan penumpang dan pengojek terhubung dalam aplikasi smartphone. Selain itu, menurutnya, Go-Jek bertujuan untuk mendorong sektor informal seperti ojek yang tadinya bekerja serabutan dengan pendapatan tak menentu bisa beroperasi secara profesional dan berpenghasilan lebih baik.

"Kami di sini berusaha untuk menawarkan solusi lapangan pekerjaan bagi yang membutuhkan pekerjaan. Dimana mereka yang hanya punya motor, punya smartphone, dan berkemauan keras bisa bekerja," ujarnya saat dulu meluncurkan aplikasi Go-Jek.

"Kami juga berusaha untuk mensejahterakan tukang ojek yang mungkin selama ini penghasilannya tidak seberapa dengan memberikan pendapatan tambahan yang didapat dari Go-Jek Indonesia ini," tambahnya.

"Dengan Go-Jek, para pengemudi ojek ini setidaknya lebih produktif karena mereka tidak hanya membawa penumpang saja, tetapi juga membantu berbelanja dan juga mengirimkan paket yang mana itu semua bisa menambah pendapatannya," ungkap Nadiem.

Dari situ, Go-Jek pun cepat melesat sampai sekarang. Status unicorn, atau valuasi USD 1 miliar, pun sudah diraihnya. Bahkan, kini platform tersebut sudah mulai merambah ke luar negeri, salah satunya adalah Vietnam.

Mengusung nama Go-Viet, jelmaan Go-Jek itu pun sukses bersaing dengan Grab yang sudah lebih dulu beroperasi di sana. Menarik untuk ditunggu kiprah selanjutnya dari Nadiem dan Go-Jek selanjutnya, baik di Indonesia maupun luar negeri.

2. Achmad Zaky, Pendiri BukaLapak

Achmad Zaky memang gemilang. Di usianya yang baru 31 tahun, dia sukses membesarkan BukaLapak menjadi salah satu e-commerce terbesar di Indonesia. Kira-kira berapa ya kekayaannya?

Media Globe Asia melakukan penelusuran berapa harta Achmad Zaky. Ternyata ia masuk deretan 150 orang terkaya di Indonesia versi media tersebut dengan kekayaan USD 105 juta. Tepatnya, Zaky menempati urutan ke-149.

Perjuangan keras Zaky terbayar sudah. Berawal dari tahun 2010 dengan modal seadanya, BukaLapak kini memiliki ribuan pegawai dan menjadi salah satu tujuan utama masyarakat Indonesia yang ingin berbelanja maupun berjualan di toko online. Dulu, ia harus berusaha keras agar ada yang mau gabung jualan di BukaLapak.

"Waktu kami dari pagi sampai tengah malam habis untuk mengajak berbagai kalangan usaha untuk bergabung Bukalapak. Seringkali kami tidur di garasi kecil kami di bilangan Haji Nawi, Jakarta Selatan. Weekend kami pun diisi dengan membangun Bukalapak, kadang refreshing sebentar ke Pondok Indah Mall, walau cuma bisa lihat-lihat saja, setelah itu balik ke garasi," tuturnya di blog Bukalapak.

Zaky lahir di Sragen pada 24 Agustus 1986. Meski lahir di desa, ia bersyukur orang tuanya mementingkan pendidikan hingga lulus kuliah dari ITB. Di kampus itu, Zaky gemar mengutak atik software, bahkan pernah mendapatkan proyek membuat software quickcount.

"Setelah lulus, saya sejenak pulang kampung. Saya mengamati banyak sekali tetangga saya di kampung yang memiliki usaha kecil, tapi pendapatannya masih sama dengan belasan tahun sebelumnya, padahal ada inflasi. lnilah yang menjadi inspirasi awal pembuatan software lanjutan ini, bagaimana software bisa membuka kesempatan bagi usaha-usaha kecil seperti tetangga saya dan jutaan usaha kecil lainnya, untuk melebarkan sayap dan berkembang lebih besar lagi," paparnya saat memberikan kuliah umum di ITB.

"Perjalanan barupun dimulai, saya mencari nama dan domain. Dari ratusan nama yang saya daftar, terpilihlah Bukalapak. Selain harganya murah, nama ini menggambarkan misi software ini, bahwa siapapun bisa semudah menggelar tikar atau lapak dengan software. Siapapun bisa berbisnis dan menjadi besar lewat internet," tutur Zaky.

Begitulah singkat cerita, Zaky sukses dengan bisnis e-commerce tersebut. BukaLapak sekarang disebut-sebut sebagai salah satu unicorn di Indonesia, sebutan untuk startup dengan nilai minimal USD 1 miliar.

3. Ferry Unardi, Pendiri Traveloka

Usianya saat ini baru 30 tahun, tapi telah masuk daftar 150 orang terkaya di Indonesia versi majalah Globe Asia. Dia adalah pendiri Traveloka, Ferry Unardi.

Globe Asia menyebut bahwa kekayaan Ferry saat ini berada di kisaran USD 145 juta dan berada di posisi 146.

Ide pendirian Traveloka sendiri muncul dari pengalaman pribadi Ferry. Beberapa tahun lalu, untuk mencari tiket pesawat bisa dibilang cukup sulit. Ferry yang sedang bekerja di luar negeri ingin pulang ke Padang.

"Untuk mendapat tiket pesawat yang sesuai anggaran, saya harus membuka beberapa situs untuk membandingkan harga," kenangnya. Dari pengalaman tersebut, ia yakin banyak orang mengalami kesulitan serupa dalam mencari tiket pesawat.

Akhirnya, bersama dua rekan lain, Ferry memutuskan pulang ke Indonesia dan membangun Traveloka, platform daring pencarian tiket pesawat yang membandingkan ragam maskapai di satu tempat. Demikian, konsumen tak perlu repot membuka beberapa situs maskapai untuk mendapat tiket pesawat murah.

Pada 2012, Traveloka pun lahir dari tabungan pribadi hasil bekerja di luar negeri. Demi meningkatkan pertumbuhan bisnis, beberapa bulan kemudian Traveloka berhasil menggandeng East Venture. Selang setahun, Traveloka mendapat pendanaan seri A dari Global Founder Capital yang pernah berinvestasi pada Facebook dan LinkedIn.

Berkat pendanaan tersebut, Traveloka punya sumber daya yang cukup untuk membangun produk terbaik. "Ini dibuktikan pada awal Traveloka berdiri sudah memiliki ribuan pencarian tiket pesawat yang menjangkau 200 kota," kata Ferry yang kelahiran Padang ini.

Pada 2015, aplikasi Traveloka sudah diunduh hingga 6 juta kali. Tahun 2016, mereka melebarkan bisnis di enam negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Hal ini membuat Traveloka sebagai perusahaan internet pertama dari Indonesia yang melakukan ekspansi bisnis di kawasan Asia Tenggara. Traveloka sudah menjalin kerjasama dengan ratusan ribu hotel di berbagai belahan dunia.

4. William Tanuwijaya, Pendiri Tokopedia

William Tanuwijaya mungkin tak pernah bermimpi Tokopedia sukses luar biasa dan menjadikannya kini salah satu orang terkaya di Indonesia. Dalam penelusuran majalah Globe Asia, William menempati urutan ke 148 manusia paling berharta di negeri ini.

Kekayaan pria kelahiran Pematangsiantar 36 tahun lalu ini diperkirakan majalah tersebut berada di angka USD 130 juta.

Tokopedia didirikan oleh William Tanuwijaya bersama Leontinus Alpha Edision. Kehadiran e-commerce tidak terlepas dari pengalaman hidup William.

Kala itu William bekerja di forum jual beli. Pria kelahiran Pematang Siantar itu kerap mendapati banyak komplain dari pengguna yang mengalami penipuan transaksi. Akhirnya timbul ide untuk membuat sebuah tempat yang terpercaya untuk jual beli online.

Meski sempat diragukan karena tidak ada latar belakang bisnis, Wiliam tetap nekat mewujudkan keinginannya itu. Akhirnya pada pada 6 Februari 2009, ia bersama Leon mendirikan Tokopedia. Dan pada 17 Agustus 2009, e-commerce itu resmi diluncurkan.

"Saya cuma lulusan pekerja warnet, benar-benar jarang ke kampus, kalau ke kampus pas ujian saja. Belum pernah pengalaman bangun bisnis, track record belum ada, jadi modalnya semangat bambu runcing," sebut William dalam sebuah kesempatan. Ia tercatat kuliah di Binus.

Namun William jalan terus. Pada bulan pertama berdiri, Tokopedia baru berhasil menggaet 509 merchants dengan 4.560 member. Jumlah transaksi yang dibukukan hanya Rp 33 juta. Setahun berdiri, Tokopedia mengalami perkembangan signifikan. Mereka berhasil mengandeng 4.659 merchant dengan 44.785 anggota. Transaksi yang ditorehkan mencapai Rp 5,954 miliar.

Dan sekarang, Tokopedia telah menjelma menjadi salah satu e-commerce raksasa di Indonesia. Pendanaan besar meraka dapat dari investor kelas kakap seperti East Venture, CyberAgent Ventur dan Softbank.

Semua itu tidak terlepas dari kerja keras dan semangat Wiliam, Leon dan seluruh Nakama (sebutan karyawan Tokopedia). William berpesan jangan takut dan pantang menyerah.

"Pertanyaan yang saya sering dapat adalah bagaimana saya bisa bertahan. Ada yang memberi saya nasehat, jangan mimpi muluk-muluk, yang realistis saja. Tapi Bung Karno pernah bilang, bermimpilah setinggi langit sehingga kalau jatuh masih di antara bintang-bintang," ujar William.

"Public speaking merupakan ketakutan terbesar saya. Namun, saya tidak pernah menyerah untuk menaklukkan ketakutan terbesar saya. Hal itulah yang saya terapkan dalam merintis Tokopedia. Nama besar Tokopedia di hari ini tentu saja berkat perjuangan serta kegigihan saya beberapa tahun lalu. Terlepas dari kegagalan Anda di hari ini, jangan pernah berhenti mencoba keesokan harinya," ungkapnya.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA