Wednesday, 14 Nov 2018
Temukan Kami di :
Nasional

Akun @D4Ni3L_Pu "Bongkar Kebohongan" Mardani, Tentang Prabowo Orang Asia Tenggara Pertama Yang Taklukan Everest

Indah Pratiwi Budi - 12/10/2018 11:02

Beritacenter.COM - Pemilik akun twitter @D4Ni3L_Pu membongkar kebohongan Mardani Ali Sera selaku Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Mardani Ali Sera yang memberikan pernyataan terkait rekam jejak pasangan capres nomor urut 02.

@D4Ni3L_Pu menggungah potongan video di acara Mata Najwa, Trans7, Rabu (10/10/2018). Saat itu Mardani menjadi narasumber.

Mardani mengatakan prestasi Prabowo yang telah membuktikan kualitasnya menaklukkan puncak gunung tertinggi Mount Everest.

“Prabowo sudah membuktikan kualitasnya, 26 April 1997 ketika tidak ada satu orang pun dari Asia Tenggara yang mampu menaklukan Everest, Prabowo dengan tim Kopassusnya mampu menaklukkan gunung tertinggi di dunia, itu ciri kepemimpinan utama, Prabowo punya kemampuan membereskan banyak hal,” ujar Mardani.

Menanggapi pernyataan tersebut, @D4Ni3L_Pu menulis “Tuan @MardaniAliSera yg sok tau..berhentilah menyesatkan publik! Penakluk Everest i/ Clara S,thn 1996 asl Jogja bukan kopassus & Fyi Prabowo tak prnah daki gnung everest!

Mardani : april 1997 Prabowo dan tim org asia tenggara prtama yg menaklukan everest.”

Clara Orang Indonesia dan Asia Tenggara Pertama yang Menaklukkan Puncak Everest Tahun 1996

Tak seperti umumnya pendaki gunung yang mengawali aktivitas petualangannya dengan mendaki gunung-gunung pendek. Clara Sumarwati justru langsung menjajal untuk menaklukkan gunung Annapura IV dengan ketinggian 7.535 meter bersama Aryati pada 1991. Gunung itu adalah salah satu gunung es di Nepal.

Pendakian pertama itu dilakukannya usai lulus kuliah dari Jurusan Psikologi Pendidikan Universitas Atmajaya Yogyakarta pada 1990. Lima tahun kemudian dia tercatat sebagai perempuan Indonesia sekaligus Asia Tenggara pertama yang menaklukkan puncak tertinggi dunia, Everest.

“Kesulitannya ya mountain sickness. Pusing, mual. Obatnya ya turun ke bawah, terus naik lagi,” kata Clara memaparkan pegalamannya dalam diskusi bertajuk Srikandi Indonesia Mencapai Puncak Dunia yang digelar Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta di Camp XXV, Sleman, Sabtu, 7 April 2018. Pendaki perempuan Zussana Zas dan Putri Handayani juga turut serta dalam acara itu.

Dalam Ekspedisi Annapura IV itu, Aryati ditasbihkan menjadi perempuan Asia Tenggara pertama yang menaklukkannya. Meskipun Clara saat itu juga turut serta.

“Oksigen dan biaya terbatas. Jadi didahulukan Aryati karena senior. Sedangkan saya junior,” kata Clara yang pernah menjajal beberapa gunung di Indonesia, seperti Rinjani, Gede, dan Pangrango.

Petualangannya ke gunung es berlanjut. Pada 1993, Clara bersama tiga perempuan pendaki asal Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Aconcagua. Gunung di Pegunungan Andes, Amerika Selatan itu berketinggian 6.959 meter.

Dalam upaya menundukkan puncak Everest di perbatasan Nepal-Tibet dengan ketinggian 8.848 meter pada 1996, Clara mempunyai cerita sendiri. Ternyata dia sempat dua kali gagal mendaki puncaknya pada 1994 dan 1995. “Karena terhalang badai salju,” kata perempuan kelahiran 51 tahun lalu itu.

Pendakian Everest dilakukan Clara setelah dinyatakan lolos seleksi yang digelar Perkumpulan Pendaki Gunung Angkatan Darat (PPAGD) pada 1993. Dari enam perempuan yang mendaftar pendakian ke Everest hanya Clara yang lolos. Clara pun tinggal di barak untuk berlatih. Bersama lima orang prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) AD, Clara rutin berlatih fisik. Seperti jalan, lari, olah pernafasan, juga panjat tebing.

Clara ditunjuk menjadi koordinator teknik pendakian pertama ke Everest pada 1994. Sayangnya, mereka gagal sampai puncak karena dihadang kondisi medan yang berbahaya di jalur selatan Pegunungan Himalaya itu. Pendakian pada 1995 yang rencananya untuk merayakan 50 Tahun Indonesia Merdeka juga batal dilaksanakan. Badai besar telah menyapu Himalaya yang menewaskan 208 pendaki berbagai negara kala itu.

Barulah harapan besar itu diwujudkan Clara tahun berikutnya atas dukungan Panitia Peringatan 50 Tahun Indonesia Merdeka sebagai sponsornya. “Jadi dapat dukungan dari istana,” kata Clara.

Dalam perjalanan menuju puncak pun bukan tanpa tantangan. Clara menyebutnya berpacu dengan cuaca. Mereka setiap saat mendongakkan kepala ke atas untuk melihat kondisi langit. “Kalau melihat ke atas ada awan gelap, sebel sekali,” kata Clara.

Lantaran hal itu menandakan suhu udara yang kian dingin tanpa ampun, ancaman hujan salju, sehingga tak bisa beraktivitas. Tim pun terpaksa lebih banyak berada di dalam tenda sembari berdoa agar cuaca membaik.

Ada 10 orang dalam tim yang tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari Afrika Selatan. Mereka juga dibantu 12 Sherpa yaitu pemandu sekaligus porter bagi para pendaki hingga ke puncak. Istilah Sherpa diambil dari nama suku di Nepal. Pimpinan Sherpa bernama Kaji dikenal Clara ketika mendaki Everest pada 1994. Saat itu, Sherpa Kaji akan memperbaiki rekor 20 jam mendaki Everest menjadi 18 jam. Namun juga batal karena badai.

Berbeda dengan pendakian 1994, Clara memilih jalur utara pada pendakian 1996. Jalan pendakian di jalur utara lebih panjang dan cukup menanjak. Untuk menuju puncak harus melalui tangga yang terdiri tiga step. Tiap hari, Sherpa memeriksa rutenya. Mengingat hujan salju terus turun sehingga menutup jalur yang dilalui tali. “Kesulitannya melawan cuaca. Suhunya sampai minus 40-45. Kami seperti beruang salju,” kata Clara.

Akhirnya, hanya Clara yang berhasil mencapai puncak dalam tim itu. Dia dibantu lima Sherpa. Anggota tim lainnya menunggu di tenda. Momentum itu yang mencatatkan Clara sebagai perempuan Indonesia dan Asia Tenggara pertama yang menaklukkan puncak Everest. Beberapa foto menunjukkan Clara dengan pakaian pendakian yang tebal berwarna merah tengah membentangkan bendera Merah Putih.

Foto yang lain menunjukkan Clara membentangkan gambar Presiden Indonesia masa itu, Soeharto. Clara pun mendapat penghargaan Bintang Naraya dari Soeharto. Hanya saja, prestasinya sempat diragukan kebenarannya karena Clara dinilai tidak bisa menunjukkan bukti bahwa dia benar-benar telah mencapai puncak Everest. Meskipun sejumlah jurnal luar negeri telah mengakui prestasinya, seperti Everest karya Walt Unsworth (1999), “Everest: Expedition to the Ultimate” karya Reinhold Messner (1999) dan website EverestHistory.com.

Clara mengaku langsung mengabarkan ke basecamp usai menjejakkan kaki di puncak. Dia meminjam telepon satelit milik pendaki Afrika Selatan yang dibawanya. “Lalu basecamp mengontak ke Indonesia untuk mengabarkan saya telah sampai puncak,” kata Clara.

 




Berita Lainnya

Ulama Tolak Pertemuan Khilafah Dunia di Bogor

13/11/2018 17:33 - Lukman Salasi
Kemukakan Pendapat


BOLA