Wednesday, 12 Dec 2018
Temukan Kami di :
Nasional

Fakta-fakta Mencengangkan Soal Kebusukan Bambang Widjojanto

Lukman Salasi - 10/10/2018 05:25

BeritaCenter.com – Sosok Bambang Widjojanto (BW) menunjukkan kesan dirinya sederhana dan bersih. Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terlihat selalu ingin berada yang terdepan menyuarakan pemberatasan korupsi dan penegakan keadilan. Seakan BW adalah malaikat yang tak pernah menyimpan kebusukan. Berikut fakta-fakta mencengangkan soal siapa sosok BW sebenarnya.

Pertama, BW selalu klaim dirinya bersih sejak malang melintang sebagai advokat. Padahal perkataan BW sulit bisa dipercaya. Sebut saja penuh kebohongan. Ironisnya, saat tampil di salah satu stasiun tv swasta, BW menegaskan dirinya tidak akan pernah mau menjadi pengacara dalam kasus korupsi.

Faktanya, dia menjadi pengacara Jhonny Abbas yang terjerat kasus 30 kontainer Blackberry. Di kasus itu, Jhonny Abbas selaku terdakwa divonis bebas, dan BW sapaan akrab Bambang adalah pengacaranya. BW juga pernah jadi pengacara LPS dalam skandal kasus Bailout Century.

Kedua, rekam jejak Bambang selama menjadi pengacara dinilai tak bersih. Saat konflik antara Yayasan Univ. Triksakti versus mantan Rektor Trisakti Toby Muthis saat itu, BW berperan sebagai advokat Toby Muthis. Kasus ini dimenangkan pihak Yayasan Univ. Triksakti, namun BW selalu menghalangi-halangi putusan MA.

Akhirnya, BW dilaporkan ke Bareskrim Polri dengan tuduhan pencemaran nama baik dan fitnah terkait konflik Trisakti. BW juga dilaporkan ke Dewan Kehormatan Peradi karena dinilai telah melanggar kode etik sebagai pengacara dimana saat eksekusi BW dianggap telah menghalang-halangi putusan Mahkama Agung

Ketiga, BW menjadi dalang dalam kasus saksi paslu saat jadi advokat dalam sengketa Pilkada Kotawaringin Barat. Kasus ini bermula dari pilkada Kabupaten Kobar 2010 yang diikuti dua pasangan calon yakni Ujang Iskandar yang berpasangan dengan Bambang Purwanto, dan Sugianto yang duet dengan Eko Soemarmo.

Pilkada dimenangkan pasangan Sugianto-Eko dengan raihan suara 67.199. Lantas, pasangan Ujang-Bambang mengajukan gugatan sengketa hasil pilkada ke MK. Pasangan ini menunjuk Bambang Widjojanto sebagai pengacara. Sidang panel dipimpin Akil Mohtar.

Salah satu saksi yang diajukan Ujang-Bambang, Ratna Mutiara, memberikan keterangan di depan persidangan. Di depan persidangan, Ratna menyebut pasangan Sugianto-Eko melakukan praktek curang dengan cara membagi-bagikan uang kepada calon pemilih.

Pada 7 Juli 2010, MK pun memutuskan mendiskualifikasi kemenangan pasangan Sugianto-Eko Soemarno. Yang bikin heboh, MK langsung menetapkan pasangan Ujang-Bambang sebagai pemenang.

Sejumlah pendukung Sugiarto-Eko tak terima dan pada 16 Juli lalu melaporkan Ratna dengan tuduhan memberikan keterangan palsu di depan persidangan di MK.

Menerima laporkan, penyidik Bareskrim Mabes Polri pun bergerak. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, Ratna ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan, sejak 9 Oktober 2010.

Kasus disidangkan di PN Jakarta Pusat. Vonis keluar 16 Maret 2011, menyatakan Ratna terbukti bohong saat memberikan keterangan di persidangan di MK. Ratna dijatuhi hukuman 5 bulan penjara. Menariknya, Ratna menerima putusan itu, alias tidak mengajukan banding.

Keempat, BW ditetapkan sebagai tersangka dan ditangkap karena terbukti menjadi kreator dibalik pemberian keterangan palsu yang dilakukan Ratna dalam persidangan sengketa pilkada Kobar di Mahkamah Konstitusi.

Penangkapan BW oleh Bareskrim Porli setelah dilakukan menyelidiki atas laporan dari masyarakat. Penyidik menemukan tiga alat bukti bahwa Bambang melakukan tindak pidana dalam pemberian keterangan palsu tersebut.

Naifnya, BW membela diri dan mencari pembelaan dan terkesan memprovokasi bahwa dirinya korban kriminilisasi. Dan semakin mendekati hari penahanan sepertinya BW semakin panik. BW protes keras karena dalam undangan pemeriksaannya sebagai tersangka ada pasal baru.

Padahal ketika menjadi pimpinan KPK, BW sudah terbiasa menambah pasal baru dan menambahkan kata “dan lain-lain” dalam sprindik untuk menjerat tersangka. Ketika menjadi pimpinan KPK, BW berulangkali menuduh AU dan BG telah melakukan obstruction of justice.

Dan faktanya, justru BW yang menjadi tersangka dengan tuduhan mengarahkan saksi untuk memberikan keterangan palsu pada persidangan sengketa Pilkada Kotawaringin Barat di Mahkamah Konstitusi.




Berita Lainnya

Mei 98 dan Noktah Hitam Prabowo

12/12/2018 11:53 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA