Saturday, 15 Aug 2020
Temukan Kami di :
News

Keluhkan Sulit Bayar Uang Pengganti USD 7,3 Juta, Novanto Minta KPK Pakai Kurs Dolar 2011

Saya kirim surat kepada KPK karena uang pengganti itu yang harus dibayar adalah USD, waktu dulu tidak tertera kurs (dolar ke rupiah) berapa. Saya minta jaksa KPK USD yang lama

Aisyah Isyana - 18/09/2018 23:18

Beritacenter.COM - Mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto (Setnov), mengaku sangat kesulitan membayar uang pengganti korupsi e-KTP sebesar USD 7,3 juta. Untuk itu, Setnov meminta KPK agar dirinya dapat membayar uang pengganti mengacu pada kurs lama.

"Saya kirim surat kepada KPK karena uang pengganti itu yang harus dibayar adalah USD, waktu dulu tidak tertera kurs (dolar ke rupiah) berapa. Saya minta jaksa KPK USD yang lama," kata Novanto dalam sidang terdakwa Irvanto Hendra Pambudi dan Made Oka Masagung di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Selasa (18/9/2018).

Baca juga :

Menanggapi hal itu, Ketua Majelis Hakim Yanto menyayangkan sikap Novanto yang tidak menyampaikan permintaannya pada persidangannya dulu. Menanggapi permintaan itu, Yanto meminta Novanto untuk langsung berkoordinasi dengan jaksa KPK.

"Kenapa waktu diperiksa terdakwa nggak ngomong seperti ini? Begitu di sini diharapkan jujur dan terbuka, kok begini. Makanya permohonan Anda langsung ke jaksa KPK saja," kata Yanto.

Sementara itu, mantan Direktur Utama PT Quadra Solution yang juga terpidana perkara yang sama, Anang Sugiana Sudihardjo, memohon KPK untuk membayar uang pengganti dari uang yang pernah disita KPK dari perusahaannya. Adapun penyitaan yang dimaksudkan Anang, yakni hukuman uang pengganti sebesar Rp20,7 miliar.

"Sebenarnya ada uang afiliasi Quadra yang sekarang ditahan KPK dan kami mohon untuk bisa dibayarkan sebagai uang pengganti. Saya sudah kirim permohonan, mohon dipertimbangkan," ucap Anang kepada majelis hakim.

"Uang itu sudah di KPK jadi biar bisa langsung dieksekusi KPK," kata Anang.

Diberitakan sebelumnya, Setya Novanto sudah telah mencicil uang pengganti yang mencapai total USD 7,3 juta. Dia sempat menitipkan uang Rp5 miliar ke KPK, mencicil USD 100 ribu, dan ditambah dengan penyitaan KPK terhadap rekeningnya senilai Rp1.116.624.197. Meski begitu, jumlah itu masih belum cukup untuk melunasi hukuman uang pengganti.

Setnov diketahui divonis 15 tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider 6 bulan kurungan, untuk pidana pokoknya. Namun, untuk pidana denda Rp500 juta sudah dilunasi oleh Setnov. Dia mengaku kesulitan melunasi uang pengganti lantaran sudah tak memiliki jabatan apapun.

Pengacara Setnov, Firman Wijaya menjelaskan, permohonan kurs yang diminta kliennya, yakni kurs dolar ketika proyek e-KTP bergulir pada tahun 2011. Saat ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh anggka Rp14 ribuan, sementara untuk tahun 2011, Rp9 ribuan.




Berita Lainnya

Akhir Pekan, Prediksi Cuaca di Jakarta

15/08/2020 07:01 - Dewi Sari
Kemukakan Pendapat


BOLA