Friday, 19 Oct 2018
Temukan Kami di :
Opini

Provokasi dan Propaganda Khilafah Demi Menjatuhkan Jokowi ?

Anas Baidowi - 18/09/2018 12:46

Beberapa hari lalu, sosial media (Sosmed) digemparkan dengan demo mahasiswa di depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK) yang menuntut Presiden Joko Widodo (Jokowi) turun, lantaran harga-harga kebutuhan naik.

Setelah ditelusuri, ternyata, video itu adalah hoax. Video itu sengaja disebar sebagai propaganda. Anehnya lagi, jika memang ada gerakan mahasiswa, kenapa mereka tidak mendemo pemimpin daerahnya yang korupsi, malah diem-diem bae. Tetapi justru mendemo Jokowi yang benar-benar bekerja.

Video yang disebarkan sebagai propaganda adalah video simulasi pengamanan massa. Mereka sebarkan dengan caption 'kisruh demo di MK yang bertujuan menuntut Jokowi turun'. Itu kan sungguh kelakuan biadab. Sukanya yang rusuh-rusuh.

Mengapa propaganda seperti ini masih kerap dilakukan? Jawabnya sangat sederhana, jika pembuat hoax tersebut berasal dari kubu oposisi, sudah jelas itu dilakukan karena tidak mempunyai nilai jual, sehingga bisanya ya hanya melakukan provokasi dan kampanye hitam. Kalau politisi di kubu oposisi mempunyai kualitas, tentu tidak akan menyebarkan hoax yang bertujuan untuk memprovokasi. Apalagi memprovokasi untuk membuat kekisruhan. Dan saya berharap, hoax mengenai demo kisruh di MK tersebut bukan dilakukan oleh kubu oposisi.

Jika bukan dilakukan oleh kubu oposisi, lalu dilakukan oleh siapa? Bisa jadi, provokasi yang mengharapkan kerusuhan 98 terulang kembali adalah organisasi yang mengharapkan ideologi dan sistem negara ini diganti dengan sistem yang lain.

Jika pergerakan PKI sudah lama dilarang di Indonesia, masih ada pergerakan khilafah yang masih hangat dan belum terima kalau mereka menjadi organisasi terlarang di Indonesia, sebelas dua belas dengan PKI.

Kita ambil contohnya saja HTI. Di negara-negara yang mayoritas Islam, banyak menolak dan menjadikan HTI menjadi organisasi terlarang. Tetapi di Indonesia tumbuh subur di masa pemerintahan SBY. Hanya di era Jokowi, pemerintah berani dengan tegas membubarkan HTI.Tetapi sialnya, lawan politik Jokowi mengambil kesempatan ini untuk menggiring opini publik, bahwa pemerintahan Jokowi tidak ramah terhadap organisasi Islam. Ya anda tahu sendirilah.

Mungkin jika Indonesia rusuh, maka organisasi terlarang tersebut mulai beraksi melalui para elite yang dipercaya sudah berada di tempat-tempat penting dalam politik. Karena hanya dengan kerusuhan, sistem negara bisa diotak-atik.

Dulu sebelum Jokowi menjadi Presiden, saya sering mengikuti media HTI. Mereka secara ideologi bersebrangan dengan demokrasi dan Pancasila. Bahkan mereka dulu kalau tidak salah bersebrangan dengan PKS, partai dakwah yang ikut dalam demokrasi.

Tetapi saat ini bisa kita lihat, bagaimana mesranya petinggi HTI dan PKS dalam satu video bersama dan menyerukan 2019 ganti Presiden dan ganti sistem.

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa HTI adalah organisasi internasional. Meskipun katanya membawa ajaran agama Islama, tetapi pada kenyataannya, HTI berpusat bukan di negara yang mayoritas warganya Islam.

Soal apakah hoax yang beredar terutama hoax yang berbau provokasi dan dapat memicu konflik itu adalah kerjaan oposisi atau para penggiat khilafah, menurut saya itu tidaklah penting. Yang paling penting saat ini adalah menindak pelaku penyebaran hoax tersebut sampai ke akar-akarnya.

Apapun alasannya, menyebar hoax yang dapat memicu kerusuhan adalah cara-cara yang dilakukan oleh orang-orang biadab dan tuna nalar. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan, dengan mengorbankan darah saudara-saudaranya sendiri adalah cara yang sangat biadab.

Saya justru kepikiran dengan Jokowi. Beliau sebisa mungkin tidak mau mengorbankan meskipun itu hanya oknum. Sebisa mungkin Jokowi mencoba merangkul semua kalangan untuk bersama-sama membangun bangsa supaya lebih baik.

Mencoba menyadarkan, dan mengembalikan ke jalan yang telah disepakati bersama. Indonesia negara Demokrasi dan Pancasila menjadi pilar kemajemukan. Persatuan dan kesatuan sangat penting untuk dijaga. Tidak mengorbankan akar rumput untuk saling bertempur. Sebisa mungkin menggandeng dan mengajak bersama-sama membangun bangsa.

Menjadi tidak heran, jika satu demi satu tokoh-tokoh yang pernah bersebrangan kini merapat kepada beliau. Itu semua dilakukannya untuk menjaga keutuhan dan berdemokrasi secara bermutu untuk menghasilkan pimpinan yang bermutu pula.

Sumber : Seword




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA