Friday, 18 Oct 2019
Temukan Kami di :
Opini

Musuh Nyata Indonesia, PKI, HTI dan PKS ?

Alif - 16/09/2018 10:17 Seword

Indonesia merdeka dengan perjuangan, menumpahkan darah dan air mata. Indonesia berdiri melalui proses panjang, menghabiskan banyak musyawarah, untuk berani merdeka dari penjajah.

Setelah penjajah pergi, muncul penjajah baru. Dari kalangan masyarakat Indonesia sendiri, namun segala logistik, jaringan dan sumberdaya organisasi didukung oleh asing. Penjajah pertama yang ingin menguasai Indonesia, seperti halnya Jepang dan Belanda, adalah Partai Komunis Indonesia.

Pergerakan PKI dimulai dengan menguasai berbagai sektor pemerintahan, hingga militer. PKI memiliki misi utama yakni proklamasi “Republik Soviet Indonesia,” dan mengganti NKRI. Sehingga saat pemerintah Indonesia mendesak agar PKI membubarkan diri, maka terjadilah perlawanan dari PKI dan terjadilah pertumpahan darah antar sesama rakyat Indonesia. Sejarah mencatat, dan negara kita belajar banyak dari pertumpahan darah tersebut.

Setelah PKI, belakangan ini HTI juga dibubarkan oleh pemerintah Indonesia. Alasannya sama, karena HTI ingin mengganti sistem khilafah. Pergerakan HTI sudah terlihat terang-terangan sejak tahun 2000an awal. Namun karena Indonesia masih dalam proses transisi pasca reformasi, maka pemerintah sempat tutup mata dengan pergerakan HTI.

Sebenarnya di periode kedua SBY sudah ada desakan untuk penindakan terhadap HTI. Namun karena banyaknya kasus korupsi, menghabisi seluruh pengurus Demokrat dari ketua umum hingga bendahara, maka aksi-aksi HTI pun seperti ditelan bumi. Masyarakat lebih sibuk mengurusi korupsi, SBY sebagai Presiden saat itu bahkan sempat mengambil alih Partai Demokrat.

Setelah Jokowi dilantik menjadi Presiden Indonesia, menggantikan SBY, desakan pembubaran HTI semakin kencang. HTI yang terdesak mulai bereaksi, menyusup ke banyak demonstrasi. Mereka mencari momentum untuk menghabisi sistem demokrasi di Indonesia, lewat pintu kerusuhan seperti tahun 98.

Pintu itu sempat terbuka lebar saat Ahok melakukan blunder dan menyinggung agama Islam. Aksi massa 411 dibuat hampir serupa seperti tahun 98, terjadi kerusuhan, penjarahan dan perlawanan antara demonstran dengan aparat hingga larut malam.

Skenario kerusuhan 98 itu pun menjadi sangat sempurna ketika politisi PKS, Fahri Hamzah, sempat mempersilahkan pendemo 411 untuk mengindap di DPR. Untungnya Kapolri Tito Karnavian sadar betul akan resiko besar terhadap Indonesia jika pendemo diijinkan menginap di DPR. Sehingga dengan tegas Kapolri mengambil alih pengamanan DPR dan melarang pendemo masuk.
 
“Saya sudah paham, kalau mereka masuk ke DPR, mereka ga mau keluar. Resiko kerusuhan semakin besar,” begitu kira-kira yang disampaikan Tito saat diprotes karena mengambil alih DPR. Sehingga buyarlah rencana rusuh dan mimpi menawarkan sistem khilafah kepada Indonesia.

Setelah HTI dibubarkan, reaksi berlebihan mulai terlihat dari PKS. Awalnya saya dan banyak pengamat politik mengira kalau PKS hanya memanfaatkan HTI. Kita berprasangka baik bahwa PKS sedang memainkan strategi politik demi menyelamatkan partai dari ambang batas senayan 2019.

Tapi belakangan, melihat Mardani begitu ngotot dengan pergerakan #2019GantiPresiden, bahkan saat Prabowo sudah diusung sebagai Capres penantang Jokowi. Bahkan melihat Mardani dan HTI membuat video kampanye 2019 Ganti Presiden, Ganti Sistem, pada akhirnya kita sadar bahwa ini bukan lagi strategi politik.

Kita kemudian terpaksa membuka dan menganalisis apa sebenarnya Partai Keadilan Sejahtara ini? pendiri PKS dalam sebuah kesempatan, dengan tegas mengatakan bahwa PKS adalah ikhwanul muslimin. Logistik dan cikal bakal pendirian PKS dibantu oleh Mesir dan negara timur tengah. Maka wajar kalau PKS begitu mendukung Moursi.

Ikhwanul muslimin bagaimanapun sudah ditetapkan sebagai kelompok teroris, ormas terlarang. Nasibnya sama seperti Hizbut Tahrir yang telah dilarang oleh banyak negara.

Hanya karena perbedaan nama, PKS tak terlalu mencolok. Tapi melihat pergerakan dan ideologi khilafah yang semakin ditunjukkan oleh elite PKS, maka sebenarnya PKS adalah ikhwanul muslimin yang merupakan induk dari hizbut tahrir.

Nasabnya jelas. di dalam ikhawanul muslimin, ada lembaga tandimul jihad. Dan salah satu anggota tandimul jihad adalah Taqiudin Alnabani, pendiri hizbut tahrir.

Maka jangan heran kalau PKS dan HTI selalu beriringan, karena secara ideologi dan jaringan, memang keduanya berangkat dari ‘rumah’ yang sama; ikhwanul muslimin.

Sehingga jika pemerintah Indonesia dengan tegas membubarkan HTI, seharusnya PKS juga ikut dibubarkan. Karena secara ideologi mereka berangkat dari sumber yang sama. Dari bukti-bukti provokasi, dapat kita temukan dengan mudah bahwa misi mereka adalah sama. Seperti halnya PKI, yang ingin mengganti sistem pemerintahan di Indonesia.

Pemerintah Indonesia harus bisa segera membubarkan PKS, sebelum partai ini menjalar ke banyak sektor pemerintahan dan berkuasa seperti halnya PKI dulu. PKS harus segera dibubarkan agar tidak ada resiko pertumpahan darah lagi seperti yang pernah dilakukan oleh PKI dulu. Kita tidak ingin ada sebuah kekuatan besar, dan memiliki tujuan mengganti ideologi negara. Begitulah kura-kura. #JokowiLagi.

sumber : Seword




Berita Lainnya

Sudahkah Jokowi Menjadi Manusia Merdeka?

18/10/2019 09:02 - Indah Pratiwi Budi

Profesor Yang Handal Mendidik Hanum

17/10/2019 10:40 - Indah Pratiwi Budi

Runtuhnya Sila Kedua di Medsos

16/10/2019 13:24 - Indah Pratiwi Budi

Yang Teriak-Teriak Kapir Ternyata Kapir

15/10/2019 12:13 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA