Saturday, 22 Sep 2018
Temukan Kami di :
Bisnis

Usai China Dihajar Perang Dagang Habis-habisan, Presiden AS Bidik Jepang Target Berikutnya

Indah Pratiwi - 08/09/2018 00:02

Beritacenter.COM - Laporan kenaikan upah yang menyebabkan kekhawatiran tentang kebijakan moneter membuat Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka masuk zona merah seiring kebijakan ketat dari Federal Reserve (The Fed).

Dilansir CNBC, pada Jumat (7/9/2018), tercatat indeks Dow Jones Industrial Average turun 43 poin dengan saham Boeing berperforma paling buruk. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq naik 0,3 persen karena saham Facebook, Amazon, Netflix dan Alphabet semuanya menguat lebih besar, Sabtu(8/9).

BACA JUGA

Seiring membaiknya perekonomian negeri Adi Daya itu membuat dolar AS juga naik. Bahkan, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan dua kali tahun ini. Diperkirakan bank sentral AS The Fed akan menaikkan dua kali lagi suku bunga acuannya sampai akhir tahun sehingga sepanjang tahun 2018 mengalami 4 kali naik suku bunga.

"Ini memberikan lebih banyak dukungan kepada orang-orang yang mencari kenaikan suku bunga Desember," kata JJ Kinahan, kepala strategi pasar di TD Ameritrade.

Menurut Presiden Fed Boston Eric Rosengren mengatakan, kenaikan suku bunga secara bertahap merupakan jalan yang tepat jika ekonomi terus berjalan dengan cepat dan membaik.

"Jika semuanya berjalan dengan baik untuk ekonomi, dan itulah yang saya harapkan, maka kita akan berada dalam situasi di mana kita perlu memiliki kebijakan yang agak membatasi dari waktu ke waktu," katanya.

Dalam laporan The Wall Street Journal mengutip para pejabat AS, bahwa AS dan China mencapai kesepakatan perdagangan sangatlah kecil sehingga akan terus dalam situasi perang dagang. Hal ini bisa dilihat saat pemerintahan Trump mencoba untuk mengubah Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA). Dilansir Bloomberg News melaporkan, AS dan Kanada kemungkinan mengakhiri pekan ini tanpa ada kesepakatan perdagangan.

Dalam kebijakan pemerintah AS, China harus bersiap-siap untuk putaran baru tarif impor atas barang-barangnya. Investor akan memerhatikan kabar ini untuk melihat apakah ada berita yang akan datang dalam beberapa jam atau hari mendatang.

Di lain tempat, Presiden Donald Trump mengatakan kepada seorang kolumnis Wall Street Journal bahwa ia akan melakukan perang dagang baru dengan menyasar negara Jepang.

Akibat perang dagang ini, membuat kehancuran di pasar negara berkembang, telah menekan ekuitas pekan ini, membatasi indeks S&P 500 dan Nasdaq berada dekat rekor tertinggi. "Ada banyak ketidakpastian di pasar saat ini. Ada awan badai signifikan yang berkumpul," kata Komal Sri-Kumar, presiden Strategi Global Sri-Kumar.

 




Berita Lainnya

Para Pengusaha China Lari Tinggalkan Negaranya

15/09/2018 09:01 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA