Thursday, 22 Aug 2019
Temukan Kami di :
Keuangan

Tahun Depan BI Prediksi Rupiah Berada di Kisaran Normal

Indah Pratiwi - 05/09/2018 02:05

Beritacenter.COM - Rupiah yang berada di posisi Rp14.9214 membuat Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan di tahun 2019 mendatang, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan membaik dengan rentang Rp14.300-14.700 per dolar AS, Rabu(4/9).

"Makanya kalau kita lihat untuk tahun 2019 kenapa kami sampaikan, kalau untuk kondisi nilai tukar itu tekanan-tekanannya akan berkurang jika dibandingkan tahun ini," kata Perry di Ruang Rapat Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Jakarta, Selasa (4/9/2018).

Ia menjelaskan, pelemahan rupiah lantaran faktor eksternal. Saat ini transaksi berjalan yang bakal menunjukkan surplus. Ditambah lagi mandatori biodiesel 20 persen (B20) yang sudah diterapkan pada 1 September. Dengan adanya B20, diharapkan bisa mengurangi defisit transaksi berjalan sekitar 6 miliar dolar AS.

"Faktornya apa saja? Yang paling utama dari dalam negeri, defisit transaksi berjalannya akan jauh lebih berkurang dengan langkah-langkah yang memang sekarang dan ke depan akan terus dilakukan di bawah arahan instruksi langsung bapak presiden," ujarnya.

"Seperti saya sampaikan, misalnya B20 kalau tahun ini bisa menurunkan impor 2,2 miliar dolar AS, tahun depan bisa menurunkan sekitar 6 miliar dolar AS. Belum lagi tambahan ekspor CPO, bisa menurunkan total CAD 9 sampai 10 miliar dolar AS," Perry menambahkan.

Selain itu, sumbangan sektor pariwisata ada sekitar 3 miliar dolar AS. Kemudian, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akan mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang pembatasan 900 komoditas impor.

"Dari dua itu saja bisa sekitar kurang lebih 12-13 miliar dolar AS. Belum lagi langkah-langkah yang diumumkan segera oleh menteri keuangan mengenai pajak PPh untuk impor maupun juga penundaan sejumlah proyek. Itu harus dilakukan supaya kondisi defisit transaksi berjalan akan jauh lebih rendah dibandingkan tahun ini karenanya rupiah akan jauh lebih rendah," jelasnya.

BI juga memprediksi suku bunga Bank Sentral AS tidak sebanyak tahun ini sehingga kurs rupiah akan menguat sesuai fundamental.

"Kedua, ini masalah kenaikan FFR memang tahun depan masih ada, tapi dua-tiga kali. Sedangkan tahun ini, kenaikannya empat kali, memang masih naik, tapi kenaikannya lebih kecil sehingga tekanan dari global khususnya dari kenaikan suku bunga Amerika tidak setinggi yang terjadi pada tahun ini. Dan tentu saja, hal-hal lain moga-moga yang masalah tekanan perdagangan agak sulit diprediksi. Tapi, moga-moga ada solusi dari perdagangan sehingga premier risiko di pasar keuangan global itu berkurang," ujarnya.




Berita Lainnya

Tarif BPJS Kesehatan Akan Dinaikan Pemerintah

13/08/2019 10:20 - Indah Pratiwi

Bank Indonesia Umumkan CAD Membengkak

09/08/2019 22:01 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA