Sunday, 25 Aug 2019
Temukan Kami di :
News

Polisi Amakan Dua Orang Terkait Keracunan Tutut di Sukabumi dan Bandung Barat

Ada keterkaitan (kejadian di Sukabumi dengan KBB), suami dan anak dari perempuan yang kami amankan hari ini juga menjalani pemeriksaan di Polsek Gununghalu, Polres Cimahi. Kami akan melakukan join investigasi untuk saling melengkapi data penyelidikan, kami juga berkoordinasi dengan Polres Cianjur terkait pengamanan TKP

Aisyah Isyana - 26/07/2018 01:54

Beritacenter.COM - Insiden keong beracun mengakibatkan puluhan warga Kabupaten Sukabumi dan Bandung Barat dilarikan ke rumah sakit. Dalam kasus ini, polisi mengamankan dua orang bernama Eti Rohayati dan Dayat, selaku pembuat olahan makanan tutut atau keong sawah.

Kedua orang itu diamankan polisi dari kediamannya yang juga menjadi lokasi pembuatan olahan tutut atau keong sawah, di Kampung Cipeyeum, Desa Kertamukti, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Polisi juga mengamankan satu orang pria bernisial JU, selaku orang yang turut mengolah tutut dan mengedarkannya secara luas ke beberapa lokasi.

Baca juga :

"Ada dua yang kami amankan berinsial ET dan DA, mereka berstatus saksi. Satu orang sebagai pedagang dan satu lagi istri dari pengolah tutut tersebut," kata Kapolres Sukabumi Kota AKBP Susatyo Purnomo didampingi Kasatreskrim AKP Budi Nuryanto, Rabu (25/7/2018).

Diberitakan sebelumnya, makanan olahan keong sawah atau tutut ini membuat 1 remaja tewas dan 51 warga di Sukabumi lainnya dilarikan ke rumah sakit. Polisi menduga ada keterkaitan antara kasus keracunan di Sukabumi dengan keracunan tutut yang menumbangkan 36 warga di Kabupaten Bandung Barat.

"Ada keterkaitan (kejadian di Sukabumi dengan KBB), suami dan anak dari perempuan yang kami amankan hari ini juga menjalani pemeriksaan di Polsek Gununghalu, Polres Cimahi. Kami akan melakukan join investigasi untuk saling melengkapi data penyelidikan, kami juga berkoordinasi dengan Polres Cianjur terkait pengamanan TKP," tutur Susatyo.

Eti mengaku tak menyangka ada warga yang keracunan keong tutut olahannya. Pasalnya, warga disekitar rumahnya yang juga mengkonsumsi tutut olahannya tidak mengalami gejala keracunan seperti yang terjadi di Sukabumi dan Bandung Barat.

"Yang dijual ke warga sama seperti yang dijual ke tetangga rumah, karena saat ngolah hari Sabtu (21/7) malamnya tetangga pada beli lalu besoknya atau Minggu (22/7) sudah diambil oleh pedagang," tutur Eti kepada detikcom.

Bisnis makanan olahan tutut ini baru digeluti Eti selama tiga bulan. Pesanan olahan tutut buatannya laku keras, hingga membuat Eti menambah pesanan keong sawah dari petani tutut ditiap minggunya.

"Biasa beli di Karawang, tapi pas kemarin beli di Cirata, Purwakarta dari petani tutut 62 kilo. Beli Sabtu saya bawa ke tempat ngolah dan Minggu saya edarkan ke penjual lagi," tuturnya.

"Dijual di Sukabumi diambil Pak Dayat (berstatus saksi), kemudian menantu saya Aa Ajang menjual di Gunung Halu Kabupaten Bandung Barat. Menantu saya itu juga kaget tutut jualannya meracuni tetangga di sana. Dia langsung nyerahin diri ke polisi hari Minggu, karena enggak enak korbannya tetangga dan keluarganya sendiri, dia kan memang asli sana," ujar Eti menambahkan.

Adanya insiden keracunan tutut massal ini membuat Eti merasa bingung. Terlebih olahan tutut buatannya yang diedarkan secara luas dibuat dengan olahan dan cara yang sama.

"Saya mah enggak tahu kalau itu beracun, racunnya dari mana saya juga bingung. Perasaan olahannya sama, bahkan direbus sampai dua kali baru dibumbuin dan dijual enggak ada yang aneh-aneh, tetangga pada nanyain nasib saya dibawa polisi," ucapnya.

Tak hanya dirinya, Eti menyebut jika suami dan menantunya turut menjalani pemeriksaan polisi di Polsek Gunung Halu, Polres Cimahi. "Suami saya Agus Nata dan menantu saya diperiksa polisi juga, bedanya suami dan saya dijemput kalau Aa Ajang menantu nyerahin diri," kata Eti.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA