Wednesday, 15 Aug 2018
Temukan Kami di :
Opini

Sahabatku Bangsa Indonesia...

Anas Baidowi - 13/05/2018 16:44

Saya menyampaikan duka yang sedalam-dalamnya atas berjatuhannya para korban akibat aksi terorisme di gereja-gereja di Surabaya pada Minggu 13/5/2018.

Tragedi Surabaya telah menimbulkan kembali kenangan buruk bagi masa depan Indonesia. Aksi keji dan biadab...

Ledakan dan Bom yang ada dibeberapa titik, bahkan pada 3 (tiga) titik telah meledak secara hampir bersamaan, mengindikasikan kuat bahwa kejadian tersebut terrencana dengan baik, terorganisir dengan matang, terkendalikan oleh yang mempunyai pengalaman atau pengetahuan dan patut diduga kuat dibiayai oleh pemodal yang mendukung mereka. Ini indikasi saya yang mengaca pada tragedi bom Natal tahun 2000...

Tragedi awal mimpi buruk lahirnya aksi terorisme berlatar belakang yang mengatasnamakan jihad keagamaan di Indonesia. Saat itu, publik Indonesia dikejutkan serangan bom di sejumlah gereja di Jakarta tepat pada malam Natal 2000.

Ledakan malam Natal pada tahun 2000 tersebut yang dilakukan oleh Dulmatin dan rekan-rekannya terjadi di Gereja Katedral, Sekolah Kanisius Menteng Raya, Gereja Matraman, Gereja Koinonia Jatinegara, dan Gereja Oikumene Halim. Ledakan tersebut telah merenggut ratusan nyawa tewas

Sebelum Tragedi Surabaya hari Minggu 13/5/2018, di Mako Brimbob Polri telah terjadi penyanderaan yang mengakibatkan gugurnya 5 anggota Polri, beberapa luka dan penyanderaan 1 orang anggota Polri.
Pada saat kejadian tersebut, di sebuah TV swasta ada oknum anggota legislatif yang diwawancara menyatakan bahwa intinya ada lembaga lain yang harus menjadi pihak terdepan dalam penanganan teroris, bukan Polri. Mengapa oknum politisi tersebut begitu semangat dan berkoar seolah mempertanyakan kapabilitas Polri dalam menangani teroris? Bicara dengan memanfaatkan momentum?

Kemudian, pembebasan sandera yang memakan waktu sekira 36 jam itu, berhasil dilakukan tanpa pertumpahan darah. Prestasi kemanusiaan ini tidak semuanya merespon dengan positif. Pada beberapa medsos bahkan dengan keji ada oknum menuduh prestasi tersebut merupakan rekayasa Polri. Sungguh pemikiran yang Biadab !

Teroris memang tidak tinggal diam... Tidak puas dengan pemberontakan di Rutan Brimob, selang beberapa waktu kemudian ditusuklah anggota Polri di Mako Brimob oleh OTK. Setelah itu kemudian ada 2 wanita juga yang patut diduga menjadi bagian rangkaian aksi “amaliah” mereka dengan sasaran anggota Polri diamankan di sekitar Mako di Kelapa Dua. Ada juga OTK yang diamankan di Mako Brimob Kedunghalang.

Seakan masih tidak puas, hari ini membabi buta, kelompok teroris ini meluluhlantahkan Surabaya dan sejumlah saudara-saudari Non Muslim yang hendak atau sedang khusuk beribadah dengan taat di sejumlah gereja. Polanya sangat teratur dan terencana karena durasi waktu yang hampir bersamaan. Titik ledak ada dibeberapa tempat, 3 meledak dan lainnya sedang atau telah diamankan Polri.

Teroris dan ajaran Terorisme bukan Islam dan bukan Muslim....!

Ini bukan masalah agama... atau toleransi beragama... karena mereka yang melakukan pemboman itu tidak beragama, bukan Islam dan bukan Muslim...

Mereka berkedok beragama, berkedok Islam dan berkedok Muslim... karena paling mudah menghancurkan peradaban dan kesatuan di Indonesia dengan mendeskreditkan kaum atau mengadu domba dg ummat Muslim sebagai mayoritas, melalui cara cara jahat dan kejam yang dilabeli Muslim dan Islam.... agar tebangun friksi friksi dalam kehidupan beragama sehingga terwujud permasalahan intoleransi....

Itu mau mereka !!!

Mohon agar tidak terprovokasi dan tidak memberikan label sebagai masalah intoleransi keagamaan.... ini murni Kejahatan Kemanusiaan, Kejahatan terhadap Keagamaan dan Kejahatan terhadap Pancasila.... !!!

Bagaimana dengan HAM?

Walaupun mereka teroris, mereka juga manusia... sama seperti saya, kalian dan seluruh manusia di muka bumi, yang menurut ajaran agama yang saya yakini sangat tidak boleh dibunuh, dilukai, disakiti tanpa alasan yang sah menurut perintah Sang Maha Kuasa dan sah berdasarkan peraturan perundang-undangan...

Untuk itu... janganlah terprovokasi oleh siapapun untuk melakukan perbuatan yang melawan hukum dalam melawan teroris... karena jika dilakukan... bahkan jika hanya dipikirkan... sama saja ... biadab !

Teroris harus ditembak mematikan jika sudah jelas dengan mata kepala dan nyata-nyata dihadapan kita dia mengancam nyawa manusia... termasuk aparat... atau jika putusan yang berkekuatan hukum yang tetap memerintahkan seperti itu... jangankan teroris, penjahat saja sah dalam kondisi seperti itu untuk dimatikan...

Jangan percaya seluruh pendapat dan ajakan untuk dengan kesewenang-wenangan untuk membunuh manusia tanpa alasan yang sah menurut agama dan hukum...

Sekali lagi....
Ini murni Ketidakberadaban... alias biadab...

Biarkan dulu Polri bekerja... hingga semua terang dan jelas... baru kita evaluasi...

#Save-NKRI

Kupang
Minggu, 13 Mei 2018
Andrea H Poeloengan




Berita Lainnya

Untuk Apa Kita Hidup di Dunia ?

14/08/2018 20:50 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA