Friday, 13 Dec 2019
Temukan Kami di :
Opini

Kisah Cinta Sayyidina Ali dan Fatimah Akan Membuat Perasaanmu Berlinang Air Mata

Indah Pratiwi - 04/05/2018 01:46 Ilustrasi

Beritacenter.COM - Dalam kisah perjalanan cinta dua hamba Allah SWT ini akan membuat air mata mengucur deras karena keteladanan mereka. Kisah ini datang dari salah satu putri Rasulullah SAW, Fatimah Az-Zahra dengan Sayyidina Ali Bin Abi Talib.

Begitu sigapnya Fatimah yang langsung mengobati dan membasuh luka ayahnya saat ketika Rasulullah SAW tiba di rumah dan mengalami luka usai perang. Disinilah Ali mulai terketuk hatinya dan menyukai Fatimah hingga niat untuk melamar putri Nabi Muhammad SAW, Jumat(4/5).

Baca Juga: 

Dengan kesabaran serta ketekunan Ali mengumpulkan uang demi membeli mahar untuk melamar calon kekasihnya itu, belum terkumpulnya uang yang dimiliki Ali untuk membeli mahar, sahabat nabi, Sayyidina Abu Bakar rupanya lebih dulu melamar Fatimah.

Hancurlah sudah perasaan Ali, akan tetapi ia sadar bahwa kualitas iman dan islam Abu Bakar jauh lebih tinggi darinya. Ali dikenal hanya orang miskin dan waktu hidupnya hanya dihabiskan untuk berjuang di jalan Allah.

Perasaan hancur Ali perlahan sirna saat ia mendengar Fatimah menolak lamaran Abu Bakar. Namun, kebahagiaan Ali kembali lenyap saat orang terdekat nabi Umar Bin Khatab melamar Fatimah.

Ali hanya bisa termenung dan pasrah karena tidak mungkin bersaing dengan Umar yang dikenal pahlawan Islam. Umar pun mengalami nasib yang sama dengan Abu Bakar yang ditolak oleh Fatimah. Namun, rupanya Allah SWT berkehendak lain. Fatimah Az-Zahra ternyata memang dikhususkan oleh Allah SWT untuk Sayyidina Ali.

Saat Ali tahu bahwa Umar ditolak oleh Fatimah. Keceriaan Ali kembali tampak di wajahnya. Namun, ia belum berani melamar karena ia sadar bahwa dirinya hanyalah pemuda miskin dan tak sempurna. Saat Ali bertemu dan berbincang dengan Abu Bakar, Ali mengatakan:"Wahai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang sebelumnya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah kerana aku tidak mempunyai apa-apa."

Mendengar perkataan Ali, Abu Bakar terharu dan menangis. "Wahai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya, dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu-debu bertaburan belaka!"

Mendengar nasihat Abu Bakar, tekad Ali semakin bulat untuk melamar gadis pujaannya itu. Dengan ragu-ragu, Ali pun menghadap Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat Ummu Salamah R.A, diceritakan kisah perjalanan Ali saat melamar pujaan hatinya itu.

"Ketika itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum baginda berkata kepada Ali bin Abi Talib, 'Wahai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal mas kawin?"

Ali pun berterus terang. "Demi Allah, engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."

Menanggapi jawabannya, Rasulullah berkata kepada Ali. "Tentang pedangmu itu, Engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga perlu untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Wahai Ali, engkau wajib bergembira. Sebab, Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!". Demikianlah riwayat yang diceritakan Ummu Salamah r.a.

Kemudian, diaturlah rencana pernikahan suci antara dua hamba Allah, Sayyidina Ali dan Fatimah Az-Zahra. Setelah semuanya siap, dengan perasaan hati gembira dan disaksikan oleh para sahabat, Rasulullah SAW pun mengucapkan ijab kabul pernikahan putrinya.

"Bahwasanya Allah SWT memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah atas mas kawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu."

Menikahlah kedua hamba Allah itu, Ali dan Fatimah. Meski pernikahannya di tengah kemiskinan. Akan tetapi, pernikahannya itu terungkai hikmah yang sangat dalam.

 

Wallahu A'lam Bishawab




Berita Lainnya

Mewaspadai Penyebaran Radikalisme di Kalangan Pelajar

13/12/2019 19:00 - Indah Pratiwi Budi

Ribetnya Islam Versi Radikalis

12/12/2019 17:40 - Indah Pratiwi Budi

Kartu Merah untuk Radikalisme

11/12/2019 19:00 - Indah Pratiwi Budi

Si Dungu Rocky Gerung "Mengaku Faham Pancasila"

11/12/2019 17:29 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA