Friday, 25 May 2018
Temukan Kami di :
News

Sidang Hate Speech, 3 Postingan Twitter Ahmad Dhani Dinilai Menimbulkan Kebencian

Aisyah Isyana - 16/04/2018 19:20

Beritacenter.COM - Dalam sidang perdananya terkait ujaran kebencian melalui akun Twitter @AHMADDHANIPRAST, musisi Ahmad Dhani dinilai didakwa telah menyebarkan informasi yang berpotensi menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan.

"Terdakwa Dhani Ahmad Prasetyo alias Ahmad Dhani bersama-sama dengan Suryopratomo Bimo alias Bimo pada Februari 2017-Maret 2017, yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan dengan sengaja tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan SARA," kata jaksa membacakan surat dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jaksel, Senin (16/4/2018).

Jaksa merinci tiga cuitan yang diposting di akun twitter Ahmad Dhani, @AHMADDHANIPRAST Adapun postingan itu diuggah admin Twitter Ahmad Dhani, Bimo.

Cuitan permata, di posting Bimo di twitter @AHMADDHANIPRAST atas perintah Ahmad Dhani melalui WhatsApp, pada 7 Februari 2017. Bimo memposting cuitan seperti apa yang telah di intruksikan Dhani.

"Saksi Bimo menyalin persis seperti apa yang dikirim terdakwa dan mengunggah ke akun Twitter terdakwa, @AHMADDHANIPRAST, yang menuliskan: Yang menistakan agama si Ahok...yang diadili KH Ma'ruf Amin...," sebut jaksa.

Baca juga : 

Sementara cuitan kedua, Ahmad Dhani kembali mengirim tulisan melalui WhatsApp untuk kembali diunggah Bimo di akun @AHMADDHANIPRAST, pada 8 Maret 2018.

"Kemudian Bimo mengunggah kalimat 'siapa saja dukung penista agama adalah bajingan yang perlu diludahi mukanya-ADP'," sebut jaksa.

Terakhir, cuitan ketiga adalah unggahan kalimat yang dikirimkan Ahmad Dhani ke Bimo. "Saksi Bimo mengunggah 'kalimat sila pertama KETUHANAN YME, PENISTA Agama jadi Gubernur...kalian WARAS??? - ADP'," sambung jaksa.

Terkait kasus ini, Jaksa menilai postingan Ahmad Dhani melalui admin Twitter-nya dinilai berpotensi menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan individu dan/atau kelompok atau masyarakat tertentu berdasarkan SARA.

"Karena posting-an tersebut disebarkan yang bisa dibaca orang-orang dan mendapat tanggapan tidak baik dari orang-orang yang membaca akun Twitter terdakwa," ujar jaksa.

Pentolan Dewa 19 ini didakwa dengan Pasal 45 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang ITE juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA