Monday, 19 Aug 2019
Temukan Kami di :
Nasional

Hore, Kini Tak Ada Pengurangan Skor Jika Jawabanmu Salah di SBMPTN 2018

Fani Fadillah - 09/04/2018 18:50

Beritacenter.COM - Para siswa tingkat menengah atas kini tengah dihadapkan dengan pilihan untuk melanjutkan jenjang pendidikannya ke dunia perkuliahan. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan perguruan tinggi favoritnya.

Seperti diketahui pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) telah dibuka pada 5 April hingga 27 April 2018 untuk Ujian Tulis Berbasis Cetak (UTBC). Sedangkan untuk Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dibuka 18 April hingga 27 April 2018. Kemudian ujian UTBC dan UTBK serentak diadakan pada 8 Mei 2018.

SBMPTN 2018 kali ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selain menggunakan dua metode yaitu UTBC dan UTBK, sistem penilaian pun berubah.

Diketahui pada tahun-tahun sebelumnya, penilaian skor SBMPTN dihitung dengan skor (+4) utnuk jawaban benar dan skor (-1) untuk jawaban salah, dan (0) untuk tidak menjawab. Hal ini akan mengurangi skor jawaban benar jika peserta SBMPTN menjawab salah.

Hal ini dibenarkan oleh Sekretaris Panitia Pusat Seleksi Nasional Penerima Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Negeri (SN-PMB PTN) 2018 Joni Hermana. Ia menuturkan bahwa penilaian terhadap jawaban SBMPTN 2018 tidak lagi menggunakan skor (4) untuk jawaban benar, skor (0) untuk yang tidak menjawab, dan untuk skor negatif (-1) untuk jawaban yang salah.

Dalam SPMBTN 2018 ini, sambung Joni, pemberian nilai akan diproses dengan memberi skor (1) pada setiap jawaban benar, dan skor (0) untuk setiap jawaban salah dan jawaban tidak dijawab atau kosong.

Hal baru juga terjadi pada karakteristik soal yang disajikan. Nantinya akan ada beberapa kategori khusus dalam tingkat kesulitan dan sensitifitasnya untuk membedakan kemampuan peserta.

Joni menjelaskan, dengan menggunakan pendekatan Teori Response Butir (Item Response Theory), maka setiap soal akan dianalisis karakteristiknya, diantaranya adalah tingkat kesulitan relatifnya terhadap soal yang lain, dengan mendasarkan pada pola respone jawaban seluruh peserta tes tahun 2018. Dengan menggunakan model matematika, maka akan mudah menentukan soal yang berkategori mudah, sedang, dan susah.

Terakhir, ia menuturkan bahwa tiap peserta yang menjawab soal benar dengan jumlah jawaban yang sama, belum tentu mendapatkan skor sama. Karena akan dianalisis dari kategori soalnya tadi.

“Penskoran semacam ini sudah lama digunakan secara meluas di negara-negara maju di Amerika dan Eropa. Karena dengan menyertakan karakteristik soal, maka skor yang diperoleh akan lebih fair dan dapat membedakan kemampuan peserta dengan lebih baik,” tutup Joni.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA