Friday, 06 Dec 2019
Temukan Kami di :
Ekonomi

Rupiah Nembus RP13.800/USD, BI: Tak Sesuai Fundamental

Anas Baidowi - 01/03/2018 17:35

Beritacenter.COM - Nilai tukar rupiah pada Kamis (1/3) pagi mencapai Rp13.800 per USD, menurut BI, sudah tidak sesuai dengan fundamintal perekonomian.

Bank Sentral mengaku melakukan intervensi pasar di Kamis pagi, sehingga membuat kurs rupiah sedikit menguat di perdagangan Kamis siang.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Doddy Zulverdi mengatakan, variabel rupiah tadi terlalu lemah. Seharusnya bisa kuat jika melihat perbaikan kondisi ekonomi domestik. Di perdagangan Kamis siang nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp13.755 per USD. Sepanjang tahun berjalan sejak 1 Januari hingga 1 Maret 2018, volatilitas rupiah sebesar 8,3%.

"Angka Rp13.800 per USD berlebihan. Karena jika melihat inflasi membaik, neraca pembayaran surplus, pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, seharusnya rupiah bisa lebih kuat. Jadi pelemahan tadi karena faktor global," kata Doddy di Jakarta, Kamis (1/3).

Kamis pagi tadi, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diumumkan Bank Indonesia menunjukkan, kurs rupiah Rp13.793 per USD itu melemah 86 poin dibanding Rabu (28/2) yang sebesar Rp13.707 per USD.

Baca Juga:

Pelemahan rupiah, di antaranya, karena dua faktor yakni pertama data perbaikan ekonomi AS dan dan juga pidato Gubernur The Fed Jerome Powell di depan Kongres AS yang mengindikasikan ekonomi AS ke depan akan membaik dan inflasi yang akan naik.

Namun, kondisi ekonomi domestik tidak akan membuat pelemahan rupiah terlalu dalam, terutama karena sasaran inflasi yang masih terjaga di jangkar Bank Sentral dan proyeksi pertumbuhan yang lebih baik tahun ini.

"Tidak ada alasan rupiah melemah jika melihat faktor domestik," ujar Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan pelaku pasar menterjemahkan pidato Powell sebagai sikap yang "hawkish".

"Sikap 'hawkish' The Fed itu direspon oleh pelaku pasar dengan melepas sebagian aset di mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia sehingga rupiah mengalami tekanan," tuturnya.

Di depan Kongres AS, Selasa malam lalu, Powell menyampaikan optimismenya terhadap pemulihan ekonomi Amerika Serikat sehingga perlu dilakukan langkah antisipasi dari sisi moneter untuk mencegah "overheating" ekonomi, yaitu melalui penyesuaian tingkat suku bunga.

"Pernyataan itu memperkuat kenaikan suku bunga Fed lebih lanjut tahun ini," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA