Saturday, 26 May 2018
Temukan Kami di :
Opini

Segelintir Kisah Briptu Dedemus Dibalik Pengungkapan Korupsi Kondensat Senilai 35 Triliun

Hiliyah Azizah - 13/02/2018 18:06 Briptu Dedemus

Beritacenter.com - Sekali lagi jajaran Bareskrim Polri menorehkan sejarah baru berupa pengungkapan kasus dugaan korupsi penjualan kondensat oleh PT. Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) yang juga melibatkan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

(Baca juga: Mengenal Sosok Alm Briptu Dedemus, Kami Bukan Pemburu Bonus).

Berdasarkan perhitungan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) jumlah kerugian negara dalam kasus ini adalah sebesar 35 triliun rupiah. Jelas ini adalah jumlah kerugian negara terbesar yang berhasil diungkap oleh penyidik manapun di Republik Indonesia. Sekaligus ini adalah kasus pertama di sektor migas yang berhasil diungkap dan dibawa sampai ke meja hijau.

Yang lebih menarik lagi adalah bukan hanya besarnya kerugian negara yang berhasil diungkap, tetapi Penyidik Sub Direktorat Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus berhasil menyelamatkan uang negara sebesar lebih dari 32 triliun melalui penyitaan beberapa rekening tersangka. Dibutuhkan bukan hanya kemampuan teknis penyidikan, tetapi keberanian dan kebersihan nurani semua penyidik yang terlibat dalam pengungkapan kasus raksasa ini.

Dibalik semua kesuksesan ini ada sebuah getir yang tak mungkin dilupakan. Sosok seorang penyidik pembantu BKO asal Papua mewarnai hari-hari yang panjang dan melelahkan dalam penyusunan berkas kasus ini. Pribadinya yang ceria, jenaka, dan tidak mengenal lelah selalu menjadi warna dan aura yang menghibur ketika rintangan menghadang, seolah tak tertembus oleh akal sehat.

Pangkatnya memang hanya seorang Briptu, tetapi dedikasi kerjanya luar biasa. Dialah orang yang ikut membantu menyusun berkas perkara ini, lembar demi lembar sampai mencapai lebih dari 1.2 meter tingginya. Tak pernah secuilpun keluh dan kesah keluar dari mulutnya, dan tak pernah ada motivasi lain keluar dari batinnya kecuali bekerja sebaik mungkin membantu menyelamatkan uang yang digarong dari negeri yang dicintainya.

Kejahatan yang dilakukan oleh 3 tersangka korupsi PT. TPPI jauh dari pemikiran seorang Briptu Dedemus, yang tidak ingin menjadi kaya karena menjadi Polisi.

Sayang raganya kalah bukan oleh ketamakan atau tekanan dari koruptor, tetapi oleh virus malaria yang menggerogotinya tanpa mengenal kompromi. Jiwanya bersih mengemban tugas mulia sepenuh hati sebagai insan Bhayangkara. Masih terbayang sosok jasad membeku seorang Briptu Dedemus yang dikemas dalam peti jenasah yang sederhana.

(Baca juga: Peran Briptu Dedemus Seorang Putra Papua Dalam Penyidikan Kasus Korupsi Kondensat).

Kesederhanaan ini memang menjadi bagian dari hidup dan kehidupannya. Masih terngiang kesaksian rekan-rekannya yang membantu mengemasi barang-barang miliknya di tempat kos-kosannya. Mereka hanya menemukan beberapa buku dan pakaian ganti yang lusuh seorang Penyidik Pembantu.

Tapi ada satu yang membuat kami semua bangga. Di samping tempat tidurnya yang sangat sederhana terpasang dengan rapi bendera Merah Putih di dinding. Sama seperti sang saka merah putih yang dia tempelkan di motor bututnya. Bahkan merah putih pulalah yang terpampang di pusaranya di Desa Sowkorem, sekitar 5 jam jalan kaki dari Manokwari.

Dia memang seorang Putra Papua sejati, yang mencintai negeri yang dia bela sampai mati. Sudah selayaknya negeri ini juga berterima kasih untuk pengabdiannya.

Terima kasih Briptu Dedemus. Pengorbananmu tidak sia-sia untuk NKRI.

 

Dr. Harris Turino Kurniawan




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA