Saturday, 26 May 2018
Temukan Kami di :
Kriminal

Orang Gila Dianiaya Karena Dianggap PKI

Anas Baidowi - 12/02/2018 13:30 Kapolres Bogor, AKBP Andi M Dicky Pastika, bersama Ketua MUI Bogor, dan Dandim 0621

Beritacenter.COM - Seorang pria mengidap gangguan jiwa dianiaya karena dituduh PKI di Kampung Deyeuh, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Sabtu (10/2) sekitar pukul 04.05 WIB.

Peristiwa kekerasan fisik itu tersebar melalui video yang diunggah salah satu pengguna sosial media Facebook bahkan WhatsApp. Polisi pun melakukan penelusuran dan hasilnya korban tidak ada sangkut pautnya dengan PKI.

"Ada seorang pria yang dituduh sebagai komunis diperlakukan secara kasar di Cileungsi, Bogor," Kata Kapolres Bogor, AKBP Andi M Dicky Pastika,


Kapolres Bogor bersama Dandim 0621 dan MUI Kabupaten Bogor melakukan klarifikasi terkait kejadian tersebut.

Hasil penyelidikan, korban adalah seorang tunawisma yang mengalami gangguan kejiwaan. Korban juga bukan berasal dari Bogor, melainkan dari daerah Pemalang.

“Kami sudah mengamankan 6 orang, 2 orang diantaranya adalah penyebar video tersebut di akun media sosial. Salah satunya adalah orang yang melakukan penghasutan dan menyebutkan bahwa korban menganut faham ideologi PKI. 4 orang diantaranya adalah orang yang berada di TKP,”kata AKBP Dicky.

Kapolres menegaskan, agar masyarakat jangan mudah terprovokasi dan main hakim sendiri.

“Silahkan laporkan ke polisi, apabila ada yang mencurigakan. Masyarakat tidak mudah tulis menulis ataupun memposting yang merugikan orang lain yang tidak diketahui kebenarannya,”paparnya.

“Kami melakukan penelusuran bahwa penangkapan antek-antek PKI itu tidak ada,” katanya menegaskan.

Dari pemeriksaan sementara, enam pelaku yang ditangkap kurang dari 24 jam mengaku, viralnya vidio tersebut, merupakan setingan dan karangan sendiri.

“Kami tegaskan, tidak ada dari pemeriksaan saksi-saksi yang mengindikasi bahwa bersangkutan adalah antek PKI yang sempat diviralkan tersebut. Karena kemudian hal yang viral ini membuat keresahan dari masyarakat, banyak sekali masyarakat serta ulama yang meminta agar Polisi, MUI dan TNI melakukan klarifikasi kasus-kasus tersebut,” terang Kapolres.

Penyebar isu SARA dan kebencian ataupun pencemaran nama baik di media sosial dapat dijerat dengan undang-undang ITE yang ancaman hukumannya lebih dari 5 tahun penjara.

“Maka jangan sekali-kali bermain-main dengan media sosial karena sudah banyak kasus sengketa perorangan itu juga terjadi akibat media sosial. Maka saya himbau agar masyarakat lebih berhati-hati,”tandas AKBP Dicky.




Berita Lainnya

Perkelahian Saudara Kandung Berujung Maut

25/05/2018 14:29 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA