Saturday, 17 Nov 2018
Temukan Kami di :
Nasional

Tuna Netra Lebih Mudah Kenali Uang, Gara-gara Dosen Muda Ini

Dosen muda akuntansi Universitas Aisyah Yogyakarta Tri Hartono berhasil mendapatkan penghargaan bergengsi di bidang finansial dan perbankan dari HSBC Indonesia Research Award (HIRA) 2017

Indah Pratiwi - 20/01/2018 07:18

Beritacenter.COM - "Berbagi itu indah", pepatah ini adalah bentuk kepedulian diri kita terhadap orang lain yang memerlukan bantuan. Dosen muda akuntansi Universitas Aisyah Yogyakarta Tri Hartono berhasil mendapatkan penghargaan bergengsi di bidang finansial dan perbankan dari HSBC Indonesia Research Award (HIRA) 2017.

Penghargaan tersebut didapatkan dosen muda ini, karena membantu tuna netra dalam mengenali uang. Ide untuk melakukan penelitian muncul saat perjalanan ke Cilacap menggunakan bus dan duduk bersebelahan dengan penyandang disabilitas (tuna netra). Mendekati tujuan, kernet mengumpulkan ongkos sebesar Rp 60 ribu dari seluruh penumpang bus. Penumpang tersebut membayar dengan dua lembar uang masing-masing sebesar Rp 50 ribu dan Rp 20 ribu. Kernet lalu memberikannya uang kembalian sebesar Rp 10 ribu.

"Selepas kernet pergi, sang penumpang meminta bantuan saya untuk mengecek jika kembalian tersebut benar jumlahnya. Dari situ saya menyadari kesulitan yang harus dihadapi para teman-teman tuna netra saat harus melakukan transaksi berkaitan dengan uang. Besoknya saya langsung menulis sebuah draf penelitian. Tujuannya sederhana, ingin membantu supaya lebih mudah bagi penyandang tuna netra untuk mengidentifikasi nominal dan keaslian uang kertas," paparnya.

Tri kemudian berkenalan dengan seseorang dari Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) di Yogyakarta. Lalu dihubungkan dengan Yayasan Kesejahteraan Tuna Netra Islam (Yakertunis). Selanjutnya, membantu mengumpulkan 50 responden yang tergolong buta total untuk terlibat dalam eksperimen untuk mendeteksi uang palsu.

"Dari 50 responden, ternyata hanya setengahnya yang dapat membaca nominal serta membedakan antara uang asli dan palsu. Kesulitan mereka terutama ketika uang sudah kucel, jadi sulit terbaca. Saya kemudian bertanya apa yang dapat membantu mereka lebih mudah untuk mengindentifikasi uang palsu. Rata-rata menjawab jika uang tersebut dilengkapi dengan huruf braille. Dari situ kemudian saya membuat sampel uang kertas dari HVS untuk eksperimen lebih lanjut," jelas pria yang dulunya berkuliah di jurusan akuntansi forensik.

Caranya cukup sederhana, Tri memotong kertas HVS menyerupai ukuran uang kertas asli. Untuk keterangan nominal, huruf-hurufnya dilubangi dengan peniti, sehingga menyerupai huruf braille. Ternyata, dengan cara ini sebanyak 48 dari total 50 responden dapat mengenali nominal uang tersebut dengan benar.

Uang kertas resmi yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan Perum Peruri sebenarnya telah memiliki tanda pengenal khusus untuk tuna netra. Uang kertas keluaran 2016 dilengkapi garis timbul untuk membedakan uang asli dengan palsu. Selain itu, setiap nominal uang dilengkapi dengan garis timbul yang berbeda-beda jumlahnya. Uang nominal terbesar memiliki satu garis dan nominal terkecil memiliki tujuh garis.

"Penelitian ini bukan bertujuan untuk menemukan fitur pengganti untuk uang kertas yang sudah ada saat ini, namun sebagai fitur tambahan. Jika penelitian nanti sudah selesai, saya berencana akan mengajukannya sebagai rekomendasi kepada Bank Indonesia dan Perum Peruri," jelasnya.

Selain melakukan eksperimen, Tri juga sudah menghubungi pengembang aplikasi Android Money Recognisition (AMR), aplikasi dengan kemampuan membaca setiap citra dan keaslian uang kertas Rupiah dalam bentuk suara. Bahkan, bisa dikembangkan sebagai solusi untuk mempermudah tuna netra mengenali uang.

“Saat ini tantangan utama saya adalah mencari mesin tik khusus yang bisa mencetak nominal uang dengan huruf braille tanpa melubangi kertasnya, mengingat secara hukum uang memang tidak boleh dilubangi.”




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA