Monday, 28 May 2018
Temukan Kami di :
News

Indonesia dan New Zealand Tanggulangi Perdagangan Manusia Gaya Baru

Berdasarkan data Bareskrim Mabes Polri, kapal itu mengangkut penumpang berkewarganegaraan Srilangka sejumlah 33 orang. Dari hasil pemeriksaan diketahui, para imigran gelap tersebut bertolak ke New Zeland. Perjalanan tersebut diorganisir oleh warga negara Srilanka berinisial J.

Sari Intan Putri - 07/12/2017 15:17

Indonesia dan New Zealand telah menyepakati The 6th Bilateral Working Group (BWG) pada 11 April 2017. Isi pembahasannya adalah penanggulangan kejahatan lintas negara. Salah satunya adalah kasus perdagangan manusia yang kini memiliki fenomena baru.

“Ada fenomena baru dari pelaku perdagangan manusia. Saat ini lebih cenderung sebagai Migran Ekonomi,” kata Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol. Ari Dono Sukmanto dalam keterangan resminya.

Saat melakukan kunjungannya ke Markas Kepolisian Selandia Baru, mantan Wakabareskrim ini juga menyatakan beberapa temuannya.

“Salah satunya pada 9 Agustus 2017 silam. Saat itu, kapal berbendara Srilangka terdampar di laut Nias Utara,” ungkap Ari di hadapan personil Kepolisian Selandia Baru.



Berdasarkan data Bareskrim Mabes Polri, kapal itu mengangkut penumpang berkewarganegaraan Srilangka sejumlah 33 orang. Dari hasil pemeriksaan diketahui, para imigran gelap tersebut bertolak ke New Zeland. Perjalanan tersebut diorganisir oleh warga negara Srilanka berinisial J.

Pengorganisiran, pembayaran dan pemberangkatan berlokasi di Srilanka. Para calon imigran gelap asal Srilanka tersebut membayar tak murah. Antara 300.000 Rupee (atau setara dengan Rp27.000.000) sampai dengan 500.000 Rupee (setara dengan Rp43.000.000).

Bukan hanya itu, Direktorat Tindak Pidana Bareskrim Mabes Polri juga telah mengungkap aksi ilegal lainnya. Pada 26 Oktober 2017, sebanyak 41 orang asal Vietnam rencananya akan diselundupkan ke New Zealand. Tapi kemudian, kapal yang mengangkut terdampar di pulau Tablolong NTT. Kasus itu saat ini masih dalam proses penyidikan.

Meski demikian, Ari tidak menampik berbagai hambatan yang dihadapi untuk menanggulangi ini semua.

“Penanggulangan kasus perdagangan manusia terbentur beberapa kendala. Mulai dari alat yang sudah out of date. Ini menghambat proses pengungkapan dan penindakan pelaku perdagangan manusia,” jelas Ari.

“Selain itu, kurangnya personil. Serta intensifitas koordinasi antara Indonesia dengan Selandia Baru. Semuanya mesti segera diharmonisasi. Untuk penyegeraan pengungkapan para pelaku perdagangan manusia,” tambahnya.

Maka kemudian, Ari memastikan, hasil pertemuan itu akan menjadi sinyal positif memberantas salah satu kejahatan HAM ini.

“Indonesia dan Selandia Baru sepakat meningkatkan upaya pendeteksian terkait para sindikat yang beroperasi di masing-masing wilayah. Selain itu juga, peningkatan kualitas dan kemampuan personel perdagangan manusia,” terang Ari.

Terakhir, pungkas Ari, Indonesia dan Selandia Baru telah menyepakati untuk melakukan edukasi dan sosialisasi. Khususnya wilayah yang memiliki kerawanan dan menjadi daerah transit perdagangan manusia. Serta wilayah penyedia kapal untuk menyelundupkan imigran ilegal. Salah satu caranya dengan mengedepankan Bhabinkamtibmas Polri.



Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA