Monday, 18 Jun 2018
Temukan Kami di :
Opini

Kisah Petani yang Selalu Malang, Walaupun Harga Beras Mahal

Jika menjadi petani kecil di kampung bisa membuat kaya, maka saya dan jutaan anak-anak petani di Indonesia tidak perlu capek-capek berjuang habis-habisan meninggalkan kampung agar saya dan anak cucu saya untuk jangan pernah jadi petani kecil di kampung, kecuali memang saya menginginkan kehidupan yang tetap miskin dan serba kekurangan!

Sari Intan Putri - 29/07/2017 20:30

Beritacenter.COM - Saya bicara disini sebagai seorang anak petani miskin di kampung, dan juga sebagai orang yang pernah menjadi petani langsung di kampung, tapi sekarang ini sudah tidak jadi petani sehingga untuk beras selalu beli (jadi konsumen).

Saya terpancing untuk ikut mengutarakan unek-unek saya saat baru-baru ini masyarakat kita heboh dan diributkan soal adanya Polemik Beras Oplosan.

Dalam kasus ini di beberapa pemberitaan media nasional disebutkan bahwa semua ini bermula dari digebreknya sebuah pabrik beras milik PT Indo Beras Unggul (PT IBU), anak perusahaan PT Tiga Pilar Sejahtera oleh Satgas Pangan.

Menurut pemberitaan yang beredar, PT IBU diduga memalsukan kualitas beras dalam kemasan. Namun secara tegas pihak PT IBU membantah memalsukan kualitas beras yang diolahnya dan mereka menegaskan jika yang mereka lakukan legal dan justru ingin mensejahterakan petani karena mereka membeli gabah dari petani dengan harga yang lebih tinggi dari harga pembelian pemerintah (HPP).

Menanggapi kasus ini, saya hanya ingin bilang, jika saya berterima kasih sekali kepada pihak manapun yang berani membeli gabah ke petani langsung (tidak melalui perantara) dengan harga diatas HPL.

Namun saya juga menegaskan, tetap memohon untuk saat menjualnya, jangan mengambil laba bersihnya terlalu tinggi diatas modal dan operasional.

Dalam tulisan ini saya memang tidak akan secara khusus membahas soal polemik tentang kasus tersebut, melainkan saya ingin bicara terkait dengan pengetahuan saya terkait dengan beras dan petani.

Namun setidaknya menanggapi atas polemik ini, saya agak bersyukur karena setidaknya gara-gara kasus ini mencuat, setidaknya saya ikut bahagia karena nama “petani dan nasibnya” menjadi bagian dari pemberitaan. Walaupun saya sadar ini pasti hanyalah “sekelebatan saja” yang saya pastikan tidak akan pernah dijadikan moment untuk bagaimana bisa mensejahterakan nasib petni kecil di kampung-kampung.

Saya katakan demikian karena biasanya, nasib para petani sepanjang saya dahulu jadi petani, baru akan muncul ke media hanya pada dua moment saja.

Pertama saat moment musim pemilu dan kampanye, dimana saya pastikan pasti semua yang kampanye akan bilang jika mereka berjanji akan mensejahterakan rakyat miskin termasuk petani.

Kedua, biasanya saat harga beras mahal, maka disitu juga barulah nama petani disebut-sebut, Itupun petani kadang malah disudutkan. Padahal perlu anda tahu dan catat bahwa, semahal-mahalnya beras, saya pastikan petani kecil di kampung tidak akan pernah bisa kaya raya kalau hanya andalkan jadi petani, ingat itu!

Yang kaya itu bukan petani melainkan para pengepul beras dan pedagang penjual beras, itulah yang saya pastikan akan jauh lebih kaya daripada petani!.

Jika menjadi petani kecil di kampung bisa membuat kaya, maka saya dan jutaan anak-anak petani di Indonesia tidak perlu capek-capek berjuang habis-habisan meninggalkan kampung agar saya dan anak cucu saya untuk jangan pernah jadi petani kecil di kampung, kecuali memang saya menginginkan kehidupan yang tetap miskin dan serba kekurangan!

Inilah yang perlu anda ketahui bahwa jika beras mahal, maka anda wajib tahu dengan mahalnya harga beras, maka petani kecil di kampung tetap miskin. (catatan: Yang saya maksudkan petani disini adalah khusus petani kecil, bukan petani juragan tanah dan sejenisnya)

Sedangkan yang kaya adalah mereka para pengepul yang mereka tidak perlu capek-capek bagaimana sulit dan menderitanya menanam padi, tapi mereka para pengepul dan pedagang beras cukup membeli harga yang murah dari petani, kemudian menjualnya dengan harga lebih mahal.

Selama ini jika sampai ada harga beras mahal, ketahuilah jika itu semua karena adanya pengepul-pengepul beras nakal yang menurut saya mereka itu seperti mafia. Merekalah yang menentukan HARGA saat membeli gabah ke petani.

Biasanya, dimana-mana yang MENENTUKAN harga sebuah produk pastinya PRODUSEN bukan?

Dalam hal beras, bukankah sewajibnya Petani kita anggap produsen (yang memproduksi gabah dan beras), LOGIKANYA, para petani inilah yang PUNYA WEWENANG UNTUK MENENTUKAN HARGA GABAH DAN BERAS, karena petanilah yang menanam padi sehingga bisa menghasilkan gabah kemudian diolah jadi beras.

Logikanya juga, petanilah yang SEAJIBNYA menghitung, berapa modal yang harus dikeluarkan petani untuk bisa menghasilkan gabah dan beras. Mulai dari berapa modal beli pupuk, modal bayar saat membajak sawah, modal membayar yang menanam, modal perawatan, dan lain-lain.

Belum lagi kalau kita hitung berapa modal untuk beli tanahnya yang dijadikan tempat untuk menanam padi tersebut. Karena perlu anda catat dan ketahui bahwa petani di kampung tidak pernah menghitung jika tanah sawah mereka yang dijadikan untuk menanam padi mereka sebagai modal.

Hal tersebut dikarenakan yang namanya petani kecil di kampung rata-rata sawah mereka itu hanyalah tanah warisan sehingga tidak dihitung modal.

Anda saya tantang kalau masih tidak percaya dan ngeyel betapa menderitanya petani, silahkan anda coba saja beli sawah sendiri [bukan sawah warisan], lalu anda tanami padi, maka anda baru tahu dan sadar betapa anda butuh puluhan tahun agar modal anda membeli sawah bisa balik dengan cara menjadi petani!.

Kondisi seperti ini dikarenakan karena faktor permainan para MAFIA. Mereka yang membuat harga. Mereka yang memonopoli pasaran. Hal tersebut yang tidak bias untuk MENSEJAHTERKAN PETANI!

Itu kenapa walau kita negara yang katanya mayoritas petani, tapi hampir semua produk petani kita tetap masih import dan import.

Karena alasan itu pula jutaan anak petani hari ini dan seterusnya, saya pastikan tidak akan pernah ada yang ingin jadi petani kecil di kampung!


Kalaupun ada, paling ya mungkin kasusnya mereka anak petani dari tuan tanah yang memang sawahnya banyak sehingga itu mungkin saja mereka mau jadi petani karena warisan tanah mereka banyak. Atau mungkin setelah punya banyak duit setelah kerja merantau dan banyak duit kemudian buat sambilan dia beli tanah dan sejenis itulah kasusnya.

SOLUSI

Untuk bisa mencari solusi atas masalah ini agar nasib petani bisa sejahtera, maka yang paling punya wewenang pertama pastinya negara.

Negara memiliki wewenang untuk mengatur dan membuat kebijakan yang sangat memungkinkan supaya bisa mensejahterakan petani sebagaimana janji dan sumpah mereka saat kampanye.

Solusi yang saya maksudkan, Pemerintah harus memutus mata rantai para mafia beras yang membeli harga gabah murah ke petani. Harga gabah yang dibeli dari petani harus disesuaikan dengan modal pengeluaran petani. Jika masih seperti sekarang ini, tetap saja jangan pernah berharap petani bisa sejahtera.

Jika perlu pemerintahlah yang langsung membeli ke petani lalu kemudian pemerintah pula yang menentukan harga pasar sehingga harga tidak dikuasai oleh mafia beras.

Solusi lainya, pemerintah harus membuat aturan yang menghapus pajak tanah petani kecil. Misalnya petani yang hanya memiliki sawah di bawah 1 hektar tanahnya tidak kena pajak.

Diluar itu tentunya diperlukan pelatihan khusus kepada petani, bagaimana dengan dia menjadi petani, maka petani tersebut bisa menjadi petani yanag sejahtera.

Memang sih kalau di pemberitaan apalagi itu publikasi pemerintah di televisi dan media, seolah-olah banyak sekali program-program untuk pertanian di Indonesia, tapi fakta di lapangan, saya bertahun-tahun jadi petani dulu, sama sekali tidak ada kontribusi pemerintah selain pupuk subsidi, itupun kualitasnya sangat buruk sehingga harus membeli pupuk sendiri untuk kualitas yang lebih baik.

Solusi lain, jika anda masyarakat yang memang peduli dan ingin menolong petani, kalau bisa, belilah beras langsung ke petani, saya pastikan anda pasti akan mendapatkan harga lebih murah dan petani akan mendapatkan keuntungan lebih banyak [samasama menguntungkan.

Selama ini nasib petani selalu diinjak-injak, negara selalu memaksa bahwa harga beras tidak boleh mahal, yang itu artinya sama saja MEMAKSA SUPAYA PETANI MEMANG SEWAJIBNYA MISKIN TERUS!

Idealnya memang solusinya begini (biar semua suka),

Harga beras mahal (Petani Senang), dan Kesejahteraan rakyat secara pendapatan dinaikan, sehingga mereka akan tetap mampu membeli beras walau mahal. Kan jadinya semuanya senang.

Namun jika anda masih ada yang ngeyel ingin tetap dapatkan harga beras murah, maka solusinya, silahkan beli harga dengan kualitas yang sesuai dengan kemampuan. Toh harga beras juga bervariasi maam-macam.

Kalau ngikutin KEINGINAN, inginnya otomatis beli beras murah dengan KUALITAS BAIK. Itu kan maunya anda sebagai pembeli. Tapi pernahkah anda berfikir dan membayangkan posisi sebagai PETANI?

Anda berpanas-panas nyangkul di sawah, kepanasan, harus merawat hampir setiap hari, mencabuti rumput di sekitar padi, mengusir burung, semprot hama, dll. Kemudian dengan seenaknya orang beli dengan harga murah.

Kalau anda masih tetap ngeyel juga,

CATAT INI!
SILAHKAN ANDA JADI PETANI!!!,
BIAR SAYA BELI BERAS ANDA SEMURAH-MURAHNYA, MAU?!!!!!



Berita Lainnya

Soal Reaktifasi Koopssusgab Indonesia

07/06/2018 11:35 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA