Friday, 23 Feb 2018
Temukan Kami di :
News

Polisi Bergerak Cepat Tangani Isu Pengusiran Biksu di Legok Tangerang

Sari Intan Putri - 10/02/2018 22:21

Beritacenter.COM - Indonesia adalah sebuah negara yang berlandaskan UUD 1945 dan Pancasila. Dalam UUD 1945 dan Pancasila, telah mengatur segala aturan-aturan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa terkecuali, termasuk kebebasan setiap warga negara Indonesia untuk memeluk agama dan kepercayaan yang diyakininya.

Jadi, setiap warga negara Indonesia diberikan kebebasan dalam menganut dan menjalankan ritual keagamaannya dan negara melindungi serta menjamin setiap warganya untuk melakukan hal tersebut

Seperti Polres Tangerang Selatan, diketahui jika pada Rabu (07/02/2018) kemarin telah dilaksanakan rapat Muspika Legok terkait aksi penolakan warga Desa Babat tentang kegiatan sdr. Mulyanto Nurhalim alias Bhante/Biksu.

Hal tersebut terkait dengan isu sering adanya kegiatan ibadah agama Budha dan perkumpulan umat Budha di kediaman Sdr. Mulyanto Nurhalim di Kp. Kebon Baru Rt. 01/01 Ds. Babat, Kec. Legok, Kab. Tangerang.

Kapolres Tangerang Selatan AKBP Fadli langsung turun tangan memerintahkan jajarannya agar segera melaksanakan rapat yang dihadiri oleh 16 orang. Rapat tersebut dipimpin oleh Kapolsek Legok AKP Murodih.

Sebelumnya diketahui jika ada beberapa permasalahan, yaitu adanya penolakan atas rencana kegiatan kebaktian umat Budha dengan melakukan tebar ikan di lokasi danau bekas galian pasir di Kp. Kebon Baru, Desa Babat.

Desa Babat juga tidak menerima kehadiran Biksu yang dianggap oleh warga sekitar akan mensyi'arkan Agama Budha atau mengajak orang untuk masuk ke agama Budha.

Dan juga menolak segala macam kegiatan keagamaan serta perkumpulan umat Budha di kediaman Sdr. Mulyanto Nurhalim alias Biksu/Bhante karena rumah tersebut dihuni untuk tempat tinggal bukan dijadikan tempat Ibadah.

Dalam rapat atau musyawarah yang juga dihadiri oleh tokoh masyarakat seperti H. Sukron Ma'mun (Kades Babat), Romo Kartika (Pemuka agama Budha), KH. Odji Madroji, S.Pd (Ketua MUI Legok), H. Haer tokmas (Ketua Ranting FPI Desa Babat), Ustad Heri (Tokmas Desa Babat) dan Camat Legok H. Nurhalim, S. Sos itu akhirnya dapat menyelesaikan masalah yang sempat terjadi.

Berikut ini percakapan selama rapat atau musyawarah berlangsung.

*Bpk Drs. M. Syarif Hidayat, MM, (Sekcam Legok)*
• Terimakasih atas kehadiran bapak bapak disni mari kita menyelesaikan masalah dengan sebaik baik nya

*AKP Murodih, SE, M. Si, (Kapolsek Legok)*
• Dengan menyikapi permasalahan yang ada, kami dari Polsek berharap kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan dingin, pikiran yang tenang untuk mencari solusi.

• Permasalahan yang terjadi, pada hari minggu tgal 05 Feb 2018 di kediaman Biksu Mulyanto Nurhalim Kp. Cakung Des Babat akan di adakan bakti sosial dari umat Budha dan diduga setiap hari minggu sering di adakan kegiatan agama Budha.

• Meminta penjelasan dari Romo terkait katagori bentuk ibadah dalam
Agama Budha terkait kegiatan yg sering dilakukan di kediaman Biksu Mulyanto Nurhalim tsb.

• Tidak dibenarkan jika ada kegiatan ibadah keagamaan yang dilakukan saya akan melarang karena ijin Biksu Mulyanto Nurhalim di rumah tsb adalah ijin tempat tinggal bukan untuk kegiatan Ibadah.

• Jika memang dari awal itu adalah ijin tempat tinggal maka kembalikan sebagai tempat tinggal, jgn di jadikan tempat Ibadah

• Bila ada kegiatan masy di wilayah baik itu kegiatan agama maupun kegiatan hiburan, tlong sampaikan kepda kami.

• Kita sama sama disini saling menjaga lingkungan untuk situasi komtibmas yang baik.

• Selayak nya kepada Romo jika ada kunjungan yg datang ke rumah biksu Mulyanto Nurhalim setidak nya ada pemberitahuan bila melebihi 1×24 jam untuk tamu .

*H. Sukron Ma'mun (Kades Babat)*
• Perlu diketahui kami warga Babat dari dulu selalu tidak ada masalah, kami sangat toleransi sekali dengan pemeluk agama lain, baik itu Nasrani, Budha maupun Khonghucu, kami hidup rukun sesama bahkan ada 2 RT di Desa kami ketua RT nya berasal dari turunan cina.

• Permasalahan yg saat itu terjadi, singkatnya pada awal 2010 tanah yg di huni oleh biksu saat itu dibeli untuk di bangun rumah bukan untuk dijadikan tempat Ibadah.

*Romo Kartika (Pemuka agama Budha)*
• Memang saya akui rekan2 biksu ini masih terlalu muda sehingga kurang pengalaman.

• Ini pengalaman untuk kami memang perlu adanya silaturahmi dengan lingkungan sehingga kami sebagai tamu di lingkungan Desa Babat perlu silaturahmi dengan masyarakat, dengan tokoh agama, dengan perangkat Desa maupun Muspika.

• Ditempat tersebut sama sekali tidak akan kami bangun tempat Ibadah (Vihara atau kelengteng) dan kami jamin di tempat tsb tidak ada kegiatan Ibadah.

• Lain waktu bila berkenan kami akan bersilaturahmi dengan saudara saudara kami dari Ketua MUI, dengan pak haji Haer.

• Adapun kegiatan hari Minggu, dengan datang nya tamu dari luar, itu bukanlah kegiatan ibadah, hanya datang memberi bekal makan dan Biksu sekedar mendoakan mereka yang telah datang.

• Terdapat 86 org Biksu di Indonesia dan telah dilakukan sumpah oleh 5 org Mahatera dengan 227 peraturan.

• Salah satu larangan adalah melepas jubah Biksu dimanapun Biksu berada.

• Membatasi jam makan dan tidur, dll.

*KH. Odji Madroji, S.Pd (Ketua MUI Legok)*
• Keberagaman yg allah Ciptakan untuk kita untuk saling berinteraksi

• Didesa Babat sudah sering terjadi awal mula hanya rumah tempat tinggal namun lama kelamaan ketika jamaah menjadi banyak dan membangun tempat Ibadah.

• Kami khawatir jika tempat Biksu Mulyanto Nurhalim di Desa Babat dan kecurigaan masyarakat, tempat tsb dijadikan tempat syi'ar umat Budha (menyebarluaskan) .

• Jika jelas itu hanya tempat tinggal bukan sebagai tempat Ibadah, menurut kami tidak ada masalah dan masy Babat sangat akan bisa menerima.

*Bpk H. Nurhalim, S. Sos (Camat Legok)*
• Saya tertarik dengan pembahasan dari Ketua MUI KH. Odji Madroji bahwa Allah menciptakan mahluk dengan beranekaragaman

• Saya kira pembahasan kita hari ni sudah cukup jelas, tidak ada lagi permasalahan.

• Jadi klo hanya di jadikan tempat tinggal maka masyarakat Desa Babat tidak keberatan klo memang ingin ibadah jangan disitu silahkan ibadah mencari vihara .

• Jika ada kegiatan tlong di informasikan, di koordinasikan dg aparat setempat, tokoh sekitar dan pihak keamanan sehingga masyarakat tidak curiga.

• Saya kira masyarakat Babat sudah cukup toleransi, terbukti dg ada nya ketua RT di Babat yang merupakan turunan dari Cina (tionghoa) .

*H. Haer tokmas (Ketua Ranting FPI Desa Babat)*
• Kita tetap menjaga kebersamaan baik dengan muslim maupun Non Muslim.

• Kami memohon jika bisa di rumahnya Mulyanto Nurhalim als Biksu/Bhante jangan ada biksu yang tinggal di situ lebih dari 3 orang .

• Meminta maaf atas perlakuan warga yg dipimpinnya ke kediaman Biksu Bante Alih.
• Meminta agar permasalahan tidak dibesar besarkan dan meminta tanda bahwa pertemuan hari ini adalah tanda selesainya permasalahan.

*Ustad Heri (Tokmas Desa Babat)*
• Mohon maaf jika kami di rumah Mulyanto Nurhalim als Biksu melihat ada tempat yang seperti tempat Ibadah dengan sedikit giat ibadah, sehingga kami curiga kami anggap itu adalah kebaktian Ibadah umat Budha seperti patung dll.

Berikut hasil musyawarah atau kesimpulan dari pertemuan tersebut.
1. Mulyanto Nurhalim (Biksu) adalah warga asli Desa Babat dan sudah memiliki KTP dan memiliki hak tinggal di Ds. Babat.
2. Dikediaman Biksu Mulyanto Nurhalim sering dikunjungi umat Budha dari luar kecamatan Legok terutama pada hari Sabtu dan Minggu untuk memberikan makan kepda Biksu dan minta di doakan bukan melaksanakan kegiatan ibadah, hal ini dapat dimaklumi karena Biksu tidak boleh pegang uang dan beli makanan sendiri.
3. Rumah Biksu Mulyanto Nurhalim di pastikan untuk tempat tinggal bukan rumah ibadah umat Budha seperti yang di curigai .
4. Ornamen yang menyerupai Kegiatan ibadah umat Budha agar tidsk mencolok yang dspat menjadi bahan kecurigaan warga (Di singkirkan ke dalam rumah agar tidak terlihat seperti patung dll).
5. Sepakat menyatakan permasalahan selesai dan saling menyadari kesalahan yg ada kemudian saling memaafkan.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat