Friday, 23 Feb 2018
Temukan Kami di :
Bisnis

30 Ribu Tenaga Kerja Terkena PHK

Indah Pratiwi - 31/08/2017 15:55

Beritacenter.com - Sebanyak 30.000 tenaga kerja yang berada di Propinsi Jawa Barat menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja(PHK) di sektor garmen dan industri yang telah merumahkan karyawannya.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia(Apindo) Jabar Deddy Widjaya yang mengatakan bahwa sejak bulan Agustus 2017 ada puluhan industri yang telah melakukan efisiensi. Paling banyak yang melakukan efisiensi diantaranya industri di sektor garmen dan padat karya, Kamis(31/8).

Baca Juga: Minimarket 7 Eleven PHK Seluruh Karyawan

“Mereka tidak sepenuhnya tutup, tapi melakukan efisiensi dengan mengurangi tenaga kerja. Akibatnya, PHK tidak dapat terhindarkan. Sebagai contoh, di Karawang sekarang sudah tidak ada industri garmen skala besar. Padahal awalnya ada lima hingga enam perusahaan besar,” kata Deddy.

Sejumlah industri terpaksa melakukan PHK dengan melakukan pengurangan karyawan. Lebih dari 30 ribu tenaga kerja kini kehilangan pekerjaannya. Diperkirakan akan terus bertambah pengurangan tenaga kerja di sektor lain lantaran kondisi situasi ekonomi tidak menentu.

Baca Juga: Lesunya Permintaan Tekstil Berimbas Pada Tenaga Kerja

“Silakan datanya dicek di Dinasker. Ini saya sampaikan kondisi riil yang terjadi di Jawa Barat. Memang industri besar sekarang kondisinya susah,” pungkas dia.

Kondisi ekonomi yang kurang baik di beberapa sektor disebabkan lesunya industri di Jawa Barat dan di Propinsi daerah lain. Para pengusaha dibebani dengan proses importasi yang cenderung dipersulit. Industri hanya mengandalkan bahan baku impor untuk usahanya.

“Impor dipersulit, akibatnya mengganggu supply dan demand. Stok bahan baku kami hanya cukup untuk beberapa bulan saja. Dan sekarang sudah menipis dan sebagian habis. Jadi kami mau bagaimana? Sementara bahan baku selama ini mengandalkan impor,” ujar dia.

Baca Juga: PHK Massal MNC Group Bikin Gigit Jari Karyawan

Sementara, tingkat pengangguran terbuka di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta(DIY) terus bertambah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik(BPS) DIY tercatat sebanyak 2,84 persen atau naik 0,21 persen yang sebelumnya 2,72 persen tingkat pengangguran.

“DIY bukan kota industri sehingga lowongan dan serapan kerja relatif kecil,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sleman Untoro Budiharjo.



Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat