Sunday, 18 Feb 2018
Temukan Kami di :
News

Novel Disiram Air Keras, Muchtar : Itu Azab Mendzalimi Orang

Aisyah Isyana - 25/07/2017 19:38

Beritacenter.COM - Dalam rapat dengar pendapat umum yang digelar Pansus Angket KPK, terpidana kasus menghalangi penyidikan Tipikor, Muchtar Effendi mengaku bersyukur penyidik KPK Novel Baswedan disiram air keras oleh orang tak dikenal.

Muchtar menilai, apa yang dialami Novel adalah azab akibat mendzaliminya di kasus Tipikor. (Penyiraman) itu saya pikir karena azab Allah juga. Karena mangancam, mendzalimi orang," ujar Muchtar di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa, 25 Juli 2017.

(Baca Juga : Curhat Muchtar Effendi ke Pansus Angket, Sebut Dirinya Pernah Diancam Novel)

Didepan Pansus Angket KPK, Muchtar mengaku telah diancam dan didzalimi Novel Cs terkait dalam kasus dugaan menghalangi penyidikan kasus korupsi sengketa Pilkada Empat Lawang dan Kota Palembang atas terpidana mantan Ketua MK Akil Mochtar.

Tak hanya itu, Muchtar mengatakan jika dirinya dituduh menjadi perantara suap mantan Bupati Empat Lawang Budi Antoni Al Jufri kepada Akil tanpa alat bukti tak lama jelang bebas dari menjalani masa tahanan di Lapas Sukamiskin dalam kasus menghalangi penyidikan.

Muchtar bahkan bersumpah sama sekali tidak mengenali Akil dalam dua perkara tersebut. Pengakuan Muchtar bahkan sejalan dengan putusan pengadilan Tipikor yang menyatakan tidak ada fakta persidangan yang membuktikan dirinya menjadi perantara suap.

"Dalam perkara perantara suap, saya sampai saat ini belum menerima surat penetapan tersangka resmi dari KPK," ujarnya.

Dihadapan Pansus Angket, Muchtar membeberkan sejumlah tindakan intimidasi hingga rekayasa perkara Tipikor yang dilakukan Novel. Muchtar juga membeberkan ancaman Novel yang beragam yang ditujukan kepadanya.

(Baca Juga : Masinton : Gerindra Keluar, Kinerja Pansus Tidak Terganggu Sama Sekali)

Adapun ancaman yang dilakukan Novel yakni kali pertama terjadi saat dirinya hendak diperiksa sebagai saksi dalam kasus suap Akil. Kala itu, ia mengancam memenjarakan dirinya selama 20 tahun jika tidak kooperatif dengan KPK.

"Ancaman pertama dari Novel, 23 Oktober 2013, penggeledahan pertama, saya belum ditetapkan sebagai saksi. 'Kalau Pak Muhtar tak mau kerja sama, saya akan penjarakan Pak Muhtar 20 tahun dengan 4 pasal memberatkan'," ungkap Muchtar.

"Ancaman terbukti dilakukan beliau, saya dipenjara 5 tahun bukan pasal koruptor karena itu pidana umum. Dikenakan 4 pasal," pungkasnya.



Berita Lainnya

DPR Digaji Rakyat Tapi Tak Mau Dikritik?

18/02/2018 10:30 - Hiliyah Azizah
Kemukakan Pendapat