Rabu, 18 Oktober 2017 - 06:47 WIB

Oh, Kamu Ketahuan...

Oleh : Indah Pratiwi | Selasa, 13 Juni 2017 | 03:01 WIB

Shares
Share Twitter Google+ Linkedin


Beritacenter.com - Andai kata baru kali ini DPR bersikap keras terhadap KPK, kita barangkali mudah percaya dengan niat baik DPR. Mungkin sedikit saja yang meragukan motif Panitia Angket DPR terhadap KPK benar-benar sebagai alat kontrol legislatif. Namun, publik paham bagaimana hubungan DPR dan KPK selama ini. Jadi, kita tak mudah teperdaya.

Sulit untuk mengatakan tidak ada gerakan pelemahan KPK di DPR. Soalnya, sejak DPR periode 2009-2014, agenda pelemahan KPK terdengar santer. Paling kentara adalah wacana revisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK. Menurut catatan Indonesia Corruption Watch (ICW), wacana revisi UU KPK itu diembuskan sejak tujuh tahun lalu.

Baca Juga: Menantikan Sikap Presiden Ketika KPK Ingin Mulai Padam

Setelah Komisi Hukum DPR mewacanakan revisi UU KPK pada Oktober 2010, lalu dilanjut dengan pengajuan usulan Rancangan UU (RUU) KPK pada awal 2011. Bahkan, revisi UU KPK itu masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) prioritas tahun itu juga di antara target legislasi 70 RUU. Dalam perkara wacana revisi UU KPK ini, DPR dan publik selalu bersimpang jalan. DPR ngotot ingin merevisi UU KPK.

Sebaliknya, publik ogah, tidak mau UU itu diubah. Begitulah hubungan rakyat dan wakilnya. Begitu isu revisi mencuat, publik bereaksi keras. Bayangkan, beberapa hal krusial yang menjadi senjata pamungkas KPK dalam menjerat koruptor hendak direvisi. Misalnya, wewenang penyadapan, kewenangan penyitaan dan penggeledahan, surat perintah penghentian penyidikan (SP3), kewenangan KPK merekrut penyidik dan penuntut, laporan harta kekayaan penyelenggara negara.

Baca Juga: 4 Rahasia Konflik Kepentingan Dibalik Terbentuknya Pansus Hak Angket KPK

Bayangkan kalau wewenang penyadapan ditiadakan, KPK pasti tidak bertaji. Barangkali tak ada koruptor yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT). Awal Februari 2012, beredar naskah revisi UU KPK, diduga berasal dari Badan Legislasi. Ada poin-poin hilang, yakni wewenang penuntutan hilang, penyadapan harus izin ketua pengadilan, pembentukan dewan pengawas, penanganan kasus korupsi di atas Rp 5 miliar.

Saat itu ada tujuh fraksi (Demokrat, Golkar, PAN, PKB, PPP, Gerindra, dan Hanura) setuju revisi UU, tetapi mentah tak berkelanjutan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan revisi UU belum tepat saatnya. SBY mendukung KPK. Pada Oktober 2012, SBY menyatakan lebih baik meningkatkan upaya pemberantasan korupsi ketimbang menguras energi hanya untuk melakukan revisi.

Seminggu setelah pernyataan SBY itu, Panitia Kerja (Panja) Revisi UU KPK pun menghentikan pembahasan revisi UU tersebut. Semua fraksi pun menolak revisi. Pada 2014, DPR periode 2009-2014 boleh berganti, tetapi isu revisi UU KPK tetap langgeng. Rupanya DPR militan soal ini. Agenda revisi UU KPK pun diwariskan kepada DPR periode 2014-2019.

Empat bulan setelah Presiden Joko Widodo dilantik, isu revisi UU KPK muncul lagi. Tercantum Surat Keputusan DPR tentang Program Legislasi Nasional 2015-2019 dan Program Legislasi Nasional RUU Prioritas Tahun 2015 yang diteken Ketua DPR Setya Novanto. Jokowi kemudian membatalkan rencana pemerintah membahas revisi UU KPK dalam Prolegnas 2015 pada 19 Juni 2015.

”Presiden tegaskan tidak ada niatan untuk melakukan revisi tentang UU KPK. Itu masuk dalam inisiatif DPR. Karena masuk inisiatif DPR, pemerintah enggak bisa ngapa-ngapain,” kata Menteri Sekretaris Negara Pratikno kala itu.

Wacana revisi UU KPK ini simpang siur. DPR menuding pemerintah yang berinisiatif lewat Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly. Karena itu, DPR sepakat revisi UU itu dimasukkan ke dalam Prolegnas prioritas 2015. Kini, DPR pun membentuk Panitia Angket DPR terhadap KPK. Tujuh fraksi (PDI-P, Golkar, Gerindra, PAN, PPP, Nasdem, Hanura) mengirimkan wakilnya.

Baca Juga: KPK "Sok Profesional", Tapi Kenyataannya?

Mungkin ini pukulan balik. Sebab, DPR tampaknya lembaga paling sering diobok-obok KPK. Kasus-kasus besar korupsi hampir selalu berhulu di DPR. Paling aktual adalah megakorupsi KTP elektronik (KTP-el). Pada 2016, Ketua KPK Agus Rahardjo mengungkapkan, anggota DPR dan DPRD yang diciduk KPK sebanyak 119 orang. Nah, dalam kasus KTP-el, Agun Gunanjar Sudarsa (Golkar) yang kini Ketua Panitia Angket DPR terhadap KPK pernah disebut dalam dakwaan kasus korupsi KTP-el untuk terdakwa Irman dan Sugiharto.

Agun membantah akan terjadi konflik kepentingan, tetapi ini sebetulnya seperti sengaja saling dihadapkan (vis-a-vis). Sejumlah anggota panitia angket pernah disebut penyidik KPK di persidangan menekan Miryam S Haryani (Hanura), tersangka keterangan palsu kasus KTP-el. Jadi, motifnya bisa terbacalah. Jangan-jangan ini persoalan ”adu cepat”.

Baca Juga: KPK Menolak "Diawasi", Apakah Ada Kepentingan Tertentu di Internal KPK?

Daripada terjaring KPK, lebih baik gertak duluan. Boleh jadi banyak anggota DPR dilanda ketakutan. ”Kekuasaan itu tidak korup. Justru ketakutan yang korup, ketakutan akan kehilangan kekuasaan,” ujar penerima hadiah Nobel Sastra 1962, John Steinbeck (1902-1968).

Kalau begitu, benarkah revisi UU akan memperkuat KPK seperti omongan para anggota DPR? Jadi, teringat (meminjam) lirik lagu ”Ketahuan” Matta Band yang ngehit beberapa tahun lalu: ”Dari awal aku tak pernah percaya kata-katamu... Oo kamu ketahuan....”

 

Sumber: Kompas





#Berita Center #Berita Kriminal Indonesia #Beritacenter


Shares
Facebook Twitter Google+ Linkedin



Komentar






News - 17 menit yang lalu

Prediksi Cuaca BMKG Untuk Jabodetabek Hari Ini

Beritacenter.com - Kondisi cuaca berdasarkan laporan situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)..
Ekonomi - 1 jam yang lalu

Kelangkaan Gas 'Melon' Membuat Harga Pertabung Tembus Rp30 Ribu

Beritacenter.com - Gas elpiji berukuran 3 kilogram atau dikenal gas melon mengalami kelangkaan di daerah Propinsi..
Internasional - 3 jam yang lalu

Jurnalis Pembongkar Skandal 'Panama Papers' Dibunuh Dengan Bom

Beritacenter.com - Seorang wanita jurnalis terkenal Daphne Caruana Galizia diduga dibunuh dengan menggunakan bom yang..
Kriminal - 4 jam yang lalu

Kasus Korupsi Dana Hibah Rp1,7 miliar Berhasil Dibongkar Polisi

Beritacenter.com - Kasus dugaan praktik korupsi dana hibah Pemprov Kalimantan Timur kepada Lembaga Kursus dan..
Peristiwa - 5 jam yang lalu

Warga Surabaya Dikejutkan Dengan Penemuan Benda Aneh

Beritacenter.com - Warga pantai Ria Kenjeran Surabaya dikejutkan dengan penemuan benda aneh yang dipercaya oleh warga..
Peristiwa - 6 jam yang lalu

Gunung Agung Masih Mengalami Aktivitas Yang Tinggi

Beritacenter.com - Gunung Agung sampai saat ini mengalami aktivitas yang masih tinggi. Berdasarkan laporan, Gunung..
News - 7 jam yang lalu

AHY Jenguk Ahok di Mako Brimob Banjir Pujian Netizen

Beritacenter.com - Putra mantan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono(SBY) Agus Harimurti Yudhoyono menjenguk..
Nasional - 8 jam yang lalu

Begini Kata Anies Soal Reklamasi

Beritacenter.com - Aksi unjuk rasa di depan kantor Balai Kota oleh Aliansi Korban Reklamasi menuntut kepada Gubernur..
News - 8 jam yang lalu

Polda Metro Gelar Doa Bersama Ulama, Habib Umar : Ulama dan Polisi Betugas Jaga Keamanan!

Ulama dan Polisi adalah pasukan Allah SWT yang memiliki peran dalam menjaga keamanan. Seperti ulama menjaga keamanan..
Internasional - 9 jam yang lalu

Jatuh 2 Kali Hingga Bajunya Melorot, Miss Grand Thailand Tetap Tersenyum

Beritacenter.com - Sebuah kejadian memalukan menimpa seorang wanita cantik asal Thailand, Pam Premika Pamela. Pam..
News - 9 jam yang lalu

Polisi: Kepentingan Politik Untuk Tumbangkan Pemerintah Picu Munculnya Kejahatan Hate Speech

Ujaran kebencian muncul karena ada boncengan-boncengan lain seperti politik
Kriminal - 9 jam yang lalu

Duh.. Hilangnya Kambing Misterius dengan sisa Jeroan Ternyata Terjadi Berulang Kali

Beritacenter.COM - Kasus hilangnya belasan hewan ternak kambing dengan menyisakan jeroan dikandang, di Rangkapan Jaya..
Kriminal - 10 jam yang lalu

Diajak Makan Bakso, Kayawati ini Malah Digilir 3 Pemuda di Rumah Kosong

Beritacenter.COM - Nahas nasib gadis berusia 18 tahun menjadi korban pemerkosaan oleh tiga pemuda, disebuah rumah..
Kriminal - 10 jam yang lalu

Gadis 18 Tahun Digilir 3 Orang, Satu Pelaku Ditembak Polisi

Kami sudah berikan tembakan peringatan, namun tidak digubris. Jadi terpaksa kami lakukan tembakan tegas dengan menembak kaki kanannya
Teknologi - 11 jam yang lalu

Wow, Youtuber Ini Mainkan Lagu Mario Bros Hanya Dengan Bermodalkan Kalkulator

Beritacenter.com - Kreatifitas memang tak ada batasnya, seseorang dapat menuangkan ide kreatifnya melalui berbagai..
News - 11 jam yang lalu

Rapat Bersama Komisi II DPR, PBNU : Kami Mendukung Perppu Ormas

Beritacenter.COM - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas, mengaku mendukung diterbitkannya Perppu..
Kriminal - 12 jam yang lalu

Ngeri! Belasan Ternak Kambing Hilang di Depok, Pelaku Sisakan Jeroan?

Beritacenter.com - Pencurian misterius terhadap puluhan hewan ternak kambing terjadi di wilayah Rangkapan Jaya Baru,..
News - 13 jam yang lalu

Gara-gara 'Pribumi', Anies Baswedan Dipolisikan 'Banteng'

Kami dengan semangat pemuda Indonesia, kami dari Banteng Muda Indonesia DKI Jakarta hari datang konsultasi dengan..
News - 13 jam yang lalu

Tewas Melompat di Blok M Square, Polisi Gali Motif Kematian WN Filipina

Beritacenter.COM - Pihak kepolisian masih mencari informasi kasus bunuh diri perempuan warga negara Filipina bernama..
News - 13 jam yang lalu

Djarot Tak Hadiri Pelantikan Anies-Sandi, MPR Bandingkan Dengan Sikap Foke

Kalau sekarang, misalnya Pak Djarot merasa tidak diundang padahal namanya ada dilist, ada miss ya. Tapi ini kita..
Teknologi - 14 jam yang lalu

IPhone Kembangkan Layar Lipat, Apple Gandeng LG

Beritacenter.COM - Seolah tak puas dengan iPhone X yang memiliki desain baru yang segar, Apple kabarnya akan kembali..
Bola - 14 jam yang lalu

Anies - Sandi Resmi Pimpin Jakarta, Ini Harapan Bos Persija

Beritacenter.COM - Bos besar Persija Jakarta, Gede Wiadiade menyampaikan harapannya kepada Anies dan Sandi setelah..

+Indeks
Buat Artikel






 

About

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi